Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2024

Misalnya, Kalau Ibu Sakit

Teman-temanku, rupanya sama. Panik ketika dapat kabar mama-nya sakit. Pikiran tak karuan, hati tak tenang, dan maunya cuma melihat orangtuanya langsung, memastikan kabarnya. Bagi si anak rantau, urusan menahan perasaan adalah hal yang biasa dan bisa disanggupi. Ia sakit, ia tak makan, ia tidak cukup uang, ia lelah karena tugas, tak nyaman di kantor, ia bisa tetap menjawab kabarnya sehat ke orangtuanya. Tapi urusan orangtua, bisa jadi langsung pecah tangisnya ketika mendengar kabar yang tak usai-usai itu. "Mama sakit" "Sakit apa?" "Gakpapa, biasa masuk angin" Tau-tau, sudah di rumah sakit. Menyembunyikan diri agar tak bertanya banyak, agar tak memaksa orang rumah untuk jujur, tentu sulit dilakukan. Gimana?  Sudah pernah membayangkan ibu sakit?  Sudah pernah membayangkan ibu terkapar di rumah sakit?  Sudah pernah membayangkan ibu duluan pergi dari kita?  Jangan, jangan pernah.  Tapi, kalau terbayangkan, semoga bisa meluaskan sayang kita pada orangtua. Kupang...

Ya Terserah, Saya Tetap Suka Kamu, Walau Kamu Suka Dia

Jangan suruh aku pergi, karena aku bukan mau bertamu. Aku cuma sedang mengamatimu, yang sepertinya sukai dia, tapi menjadikanku pilihan juga.  Disclaimer, judul dan isi tentunya tidak sinkron.    Bukti kita sudah cukup muak dengan perdramatisan romantisme di bumi ini adalah ketika kita suka sama orang, yaudah. Gak muluk-muluk, mau maju ya silakan, mau diam di tempat ya monggo, mau mundur sebelum maju ya gak salah juga.        Dulu mungkin beberapa dari kita, kalau suka sama orang, ada yang mendem sampek bertahun-tahun. Bahkan untuk terlihat sedang suka pun gak pernah ada pertanda sedikitpun. Ada juga, yang udah suka sama orang jangan kan jumpa orangnya, ada temen nyebut namanya aja bisa langsung salting. Nah ada juga nih, orang yang kalau uda suka, mau gimanapun ceritanya, harus berjuang dulu sebelum janur kuning melengkung.  Tapi, pernah gak, ternyata kamu tau dia sukanya sama oranglain? Ada beberapa cerita yang mau aku bagi dikit.   Seorang...

Bawa-bawa Mental, Udah Solat Belum?

Tersinggung gak yah ada tulisan kaya gini muncul? Enggakkan ya? Pelan-pelan aja ya, bismillah. "Aku itu punya sakit kecemasan, aku khawatiran, aku gemetar" "Uda pernah periksa belum?" "Belum" "Oke" "Ini semua bukan salahku, aku memang gini orangnya. Harusnya dia bisa beradaptasi" "Iyaiya, jadi bukan kamu yang harusnya beradaptasi?" "Aku udah gini dari dulu, mau gimana lagi?" "Oke, baik" "Mentalku udah makin buruk, aku gak bisa kayak gini terus. Masalah makin bertubi-tubi" "Nanti solatmu lagi berantakan? Coba perbaiki" "Bisa gak solusinya jangan solat solat solat. Seakan akan aku gak solat. Hargai mentalku. Kau gak tau gimana jadi aku" "Ooh, iyaiya. Maaf". Begitu seterusnya.  Seakan, membawa-bawa agama sebagai solusi, adalah suatu kesalahan.  Seakan-akan, menanyakan bagaimana keimanan seorang teman beberapa hari belakangan, adalah suatu kebodohan, yang sama sekali tak ...

Dulu Mintanya Banyak, Sekarang Mintanya Husnul Khatimah

"Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari Kiamat. Sungguh, Engkau tidak pernah mengingkari janji." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 194) Do'a-do'a yang kita lafazkan setiap hari ketika salat, semua doa baik. Dan ketika di momen tertentu, kita harus berdoa lagi. Selesai salat, antara azan dan ikamah, dan kapanpun, dimanapun. Apalagi, ada lagi dalam setahun, momen berulang tahun.  Aku persilakan kamu minggir, untuk orang-orang yang mengharamkan membahas soal ini. Dulu, ketika aku udah mulai mengenal bagaimana Allah itu Maha Pemurah, aku banyak meminta. Dan semua aku sampaikan di hari ulangtahun ku. Yang biasanya setiap berdoa enggak sekaligus, di ulangtahun aku menyampaikan semua keinginanku, baik itu yang minta kesehatan, umur panjang, nilai tinggi, tetap sebagai juara, bisa beli ini beli itu, pergi ke sana ke situ.  Sekarang?  Tiga tahun belakangan aku lupa minta apa, aku cuma i...

Jangan Tidur Nyenyak Sebelum Memaafkan

 Mudah saja, singkat saja, sedikit saja. Bisa kamu ya tidur tenang tapi punya hati dendaman?  Bisa kamu ya tidur tenang tapi punya banyak seribu pikiran buruk tentang seseorang?  Bisa kamu ya tidur tenang tapi dengan hati tersedu, dan menyalahkan diri sendiri atas masalah dunia? Mau kapan memulai memejamkan mata dengan hati yang tenang, jiwa yang tenang, dan penuh kasih sayang? Kita manusia, dunia sudah tak baik-baik aja. Kita mau memperkeruh seisinya dengan masalah lain?  Maafkan, ikhlaskan.  Allah Maha Pemaaf.  Kita siapa? Tertusuk jarum pun masih mau teriak kesakitan. Sudah lah, kita sungguh penuh kemunafikan dan kesombongan. Kita manusia, ingat itu.  Maafkan, ikhlaskan.  Sakit hati? Wajar, tapi apa hak kita untuk tidak memaafkan semua orang? Termasuk diri sendiri?  Semangat.  #tautannarablog6 #day12 End

Siklus Mama Minta Anaknya Nikah

 Suasana rumah masih sama, sepi tiba-tiba, berisik tiba-tiba. Aku yang pulang ke rumah cuma beberapa hari, mulai semangat walau gak ada sinyal, karena aku sudah mengunduh episode full BoBoiBoy Sori. Selepas ku tuntaskan tontonan favoritku itu, aku berlari ke ke depan, teriak "mamaaa". Berlarian ke kamar belakang, " Ma o ma" "Ha. Opo to ndok," "Ma ada fakta baru". Mama menyimak, sambil tetap berbaring. "Ma rupanya BoBoiBoy Sori itu Solar Duri" Aku bersemangat. Mama berwajah datar tanpa ekspresi. "Rupanya lagi ma, atok yang di Ratakka, movie 2, ada lagi ngebantu orang ni di galaxy sori" "Terus?" Mama cuek, tapi matanya masih memandangiku "Terus ma Solar rupanya sama Duri sama kepribadian. Gak kek halilintar" "Isma, cerita sama suamimu la sana. Mama jodohin aja ya". Katanya.  Aku langsung berdiri dari tempat tidur mama. Aku pergi. Ah bosannya aku dengan kata itu. Begitulah tahapnya. Mama sudah sampai...

Lucunya, Kita Tau Itu Dosa, Tapi Masih Mau Mengulah

Sedikit bercerita tentang sebuah azab. *** Bentar-bentar istighfar, setelah beberapa detik berbuat dosa.  Bentar-bentar membayangkan neraka, setelah beberapa jam enteng berbicara tak baik.  Bentar-bentar, sudah mengulang kesalahan yang sama. Tak akan panjang, dari judul pun sudah jelas. Bahwa itu tanpa penafsiran. Sudah jelas, apa yang akan dimaksudkan. Kita manusia, memang sukanya khilaf.  Hobinya berlindung di balik kata lupa.  Sukanya menyalahkan godaan setan. Taunya, cuma kenikmatan dunia. Maunya? Jangan tanya, surga lah tentu jawabannya. Aku tau julid di Ramadan dapat mengurangi pahala puasa, tapi tetap kulakukan. Lucunya, menunggu berbuka puasa dulu, baru boleh lanjut detail ceritanya. Haha. Aneh kalau kata Rayanza.  Aku pernah memakai outer abaya, yang mana harus pakai handshock lebih panjang, tapi aku memilih gak usah pakai karena ribet harus mencari. Alhasil, aku yang tak nyaman karena lenganku banyak terlihat. Sudah mengintip intip aurat itu, malah jad...

Jangan Gengsi, Kalau Bahagia Ya Bahagia Aja

 Hidup sudah repot, jangan nambah merepotkan dengan menganggap semua hal bikin kesal.            Sesederhana kamu diucapkan terima kasih oleh orang yang telah kamu bantu, pun kamu sudah sangat bahagia. Sesederhana kamu ditanyai kabar oleh teman lama, pun kamu udah bahagia. Sesederhana pesanmu dibalas dengan panjang, pun kamu udah bahagia. Tapi, kamu mengutamakan kesal yang pertama. Ah ya sebut saja dengan suudzon. "Iya sih dia bilang makasih. Tapi kenapa ga ada tuturnya, makasi ya dek gitu kek. Ini cuma makasih aja" "Hem nanya kabar, pasti ada maunya ini" "Ya harusnya dia balas tadi malam. Masa tunggu pagi gini baru dibalas" Hal-hal kecil, mencabang, yang pada akhirnya menepis rasa bahagia dan syukur itu. Tersulut emosi, ada benarnya.  Terlalu menuruti hawa nafsu, ada benarnya. Terlalu terbiasa memikirkan buruknya daripada memikirkan sudut pandang lain, bisa jadi.  Sampailah, jadinya penyakit hati yang terbiasa. Apa-apa yang harusnya menjadi ...

Emangnya Ada Orang Gak Punya Kebiasaan Baik?

Mungkin ada, tapi karena tak dikoreksi.  Mungkin ada, tapi karena tak pernah menghargai diri sendiri.  Mungkin ada, tapi selalu menilai keburukan diri.  Mungkin ada, tapi sebenarnya karena ia tak benar-benar tau.       Rupanya, aku banyak mengabaikan beberapa buku yang kupunya cuma karena aku takut, impact yang harusnya merubah kebiasaan buruk jadi lebih baik, tidak tersampaikan dan tidak terlaksana. Jadi, daripada merasa bersalah berpanjangan, aku memilih nanti aja deh bacanya tunggu bener-bener tobat.      Padahal, setelah dikoreksi, agaknya prinsip itu salah. Ya memangnya nunggu sadar dan memantaskan diri mau sampai kapan si? Kenapa gak fokus untuk baca dan memperbaiki pelan-pelan, ya? Ini malah fokus menjauhkan diri dari buku soal habits. Huh     Aku percaya, semua manusia punya kebiasaan baik di dirinya. Walau 1 atau hanya 2. Dalam seharian, pasti ada hal baik yang memang rutin kita lakukan. Misalnya kamu tidak sering baca buku...

Membuat Daftar Bahan Overthinking

2021 bermunculan orang sebut-menyebut dirinya sedang overthinking. Semua apapun dilandaskan dengan "aku sedang ovrt". Pun juga disandingkan dengan insecurity. Lengkap sudah, orang mau mengingatkan seorang teman, malah jadi mundur karena kalimat, "Kau ga ngerasain apa yang kurasakan. Insecure kita beda, aku ovrt." Baik. Disclaimer, ini bercerita tentang ku. Berhubung aku juga ssuka menuliskan tentangku, selagi itu bukan hal rahasia yang tidak seharusnya diberi tau publik.       2022 sedang masa-masa skripsi, aku banyak mendapat cerita temanku yang sering ovrt. Susah tidur, karena banyak pikiran setiap malam. Aku sebenarnya tipikal orang yang tidak memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak terlalu perlu dipikirkan (iya aku lagi berbangga diri.haha). Bahkan istilah ovrt sangat asing, karena memang kalau sudah jam tidur, ya aku tidur. Jam kerja aku kerja. Jam bengong aku bengong. Jam main aku main. Jam sendirian dengan diri sendiri, ya kunikmati.     Ada masa memang ...

Seandainya Tren Halo Kids Ada Follow-Upnya

Entah latah, entah cuma penasaran dengan tren yang ada, atau apalah, intinya adalah kalau ga ikut tren yang sedang berkembang, bukan kita namanya. Gapapa. Wajar. Tren yang satu ini, Halo Kids.       Uniknya, semua kalangan, jadi ikut. Bahkan aku pernah liat anak SMP udah buat tren itu. Wajar wajar aja, itu memang budaya latah kita. Ada apa-apa diikutkan. Yang paling tidak boleh selalu diwajari adalah, ketika konten viral berkonotasi negatif pun terikuti. Joget-joget, pakai musik yang ga tau maknanya apa, menjatuhkan marwah sebagai perempuan, merendahkan, hoax, banyak lain hal. Seandainya, Halo Kids bukan cuma tentang konten. Tapi tentang isi, dan follow upnya.       Awalnya terharu melihat beberapa konten itu, lama kelamaan risih. Karena isinya lebih banyak tentang mama masih cari bapakmu. Hem. Ya mungkin hal romansa memang selalu diminati kali ya. Haha.         Terserah, gakpapa. Aku cuma berharap apa yang kita buat kemarin, baiknya ada...

Berhenti Saat Lelah, Tapi Kapan Lelahnya?

Lalu aku membaca ulang pesan itu. "Aku mau ngobrol sama ni orang tiap hari di rumah ya Allah". Tidak, kau tidak dengar. Karena aku hanya berteriak dalam hati. Lagi pula, kau tak tau apa yang kulakukan di sini.         Seseorang pernah bertanya, kalau kau jatuh cinta biasanya apa yang terjadi? Aku menjawab santai, sambil membayangkan wajah seorang yang samar; entah siapa. Wajahnya kosong. "Saat di dekatnya, aku ingin berlari sejauh-jauhnyanya, berteriak dan mengenalkan ke dunia, aku orang paling bahagia di dunia. Saat ia berbicara dan bertanya pendapatku, aku ingin bersembunyi segera menyembunyikan wajahku yang terlanjur malu karena tak dapat menahan senyum. Dan saat dia mengirim pesan, dunia seakan penuh bunga." "Sebegitunya?" tanyanya sambil tertawa kecil. Mungkin dia geli mendengar penjelasanku.  "Terlalu lebay ya? Intinya itu, aku mau dekat sama dia, tapi apalah aku?" Dia terdiam, mungkin mencoba menafsirkan kalimatku.      Jatuh cinta memilik...

Low to Great Momen! Jangan Drama Nanggepin Masalah!

Harusnya aku ga nulis lagi, karena uda pernah nulisnya di sini Low Moment To Great Momen .   Tapi karena aku rajin (hehehehe), yauda tulis aja lagi dengan kondisi tubuh yang agak anu. Baik, bicara Low to Great Momen. Ada banyak manfaatnya . Sia-sia rasanya kalau aku hanya bicara soal aku, tanpa ngasih sedikit feedback. 1. Kalau kita kurang syukur, ingat momen itu. Ingat rahmat itu, ingat kalau Allah enggak sejahat yang kita kira. Ingat kalau ada Al-Insyirah:5. 2. Kalau kita ngerasa gak bisa jadi apa-apa, ingat momen itu. Bersyukur, bertahan, dan mengubah masalah jadi syukur juga termasuk hal yang hebat. Ternyata kita ga buruk amat. Kita bertahan di masa sulit, itu hal yang takjub. 3. Ingat aja, kita pernah mengupgrade diri kita, dengan mencapai Great Momen, yang padahal sebelum sudah sangat low.      Membahas low to great momen, aku banyak momennya rupanya. Tapi setelah lelah keras aku mengingat. Di akhir ingatan, Alhamdulillah yang tentunya terucap pertama kali,...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...

Rengek Dikit Gapapa! Toh Nanti Terbiasa

Lagi dan lagi, aku pernah menulisnya dengan judul Ramadannya Si Beban Keluarga . Dan sebelum aku dapat tulisan ini, aku memang berniat menulis tentang seberapa ingatnya aku dengan momen Ramadan ketika masih berseteru dengan skripsi, dan dikejar usia. Hem!        Tapi sebenernya aku gak akan menyoroti hal yang sama. Karena benar, momen ramadan yang masih sibuk dan takut dengan skripsi, adalah yang paling ku ingat haha. Mau momen sendiri ketika ramadan, momen di perantauan, momen Ramadan dengan pekerjaan yang menumpuk, atau lainnya. Paling dan ingin untuk dibahas, adalah kita akan terbiasa.       Dulu, Ramadan perdana jauh dari orangtua memang terasa sedihnya, nyeseknya, dan segala macam rasa muak hinggap di setiap berbuka dan sahur. Merengek selalu merasa paling sedih di muka bumi, bilang aman dan terkesan tak ada masalah ketika ditanya orangtua, gengsi menyelimuti. Apalagi masih belum banyak circle pertemanan yang bersedia untuk menemani dan adu nas...

Namanya Juga Harapan, Ya Jangan Berlebihan

Ya namanya manusia, hobinya berharap, sukanya berekspektasi, tak berniat membayangkan hal-hal lain, pun tetap akan terbayangkan. Sama halnya ketika Ramadan. Semua sama. Sama sama berharap jadi manusia lebih baik, jadi umat yang doyan ibadah, jadi orang gelisah kalau ga ibadah sunah, kalau ga tadarus sekian juz. Begitulah, harap kita. Ini perdana tulisan nongol di blog setelah 2 tahun fokusnya di tumblr. Dan agak berdosa rasanya kalau gak nulis yang berfaedah dikit. Tapi, lagi-lagi aku tarik diri, emang bisa ya nulis banyolan bisa jadi faedah? Entah. Baiklah, 2022 aku buka tulisan Tautan Edisi sekian tentang  Sahur Masih Sendiri . Menunjukkan di tahun itu aku apek dan sumpek dengan pertanyaan basa-basi tentang pernikahan. Padahal, di tahun itu aku belum wisuda, dan usia juga belum tua-tua amat. 2023 tanpa jejak Ramadan, sepertinya itu tahun aku menghabiskan waktu di rumah, kerja cuma remote, tanpa memikirkan skripsi lagi, haha. Tentunya jadi beban keluarga. 2024? Perihal ekspek...