Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2019

Temu Ini Haru

Kadang ku sesali pertemuan.  Sebab itu akan berakhir dengan perpisahan.  Memulainya dengan tawa, berakhirnya dengan duka.  Akhirnya hanya tersisa kerinduan.  Dan cuma sebatas kenangan.  Kalau inti pertemuan hanya sebuah awal perpisahan, betapa sempitnya makna pertemuan. Kalau pun temu dikata hanya untuk menumpuk rindu, betapa menyakitkan nya rindu itu.  Temu Ini Haru #1/2 Aku bukan menyebut ini kisah ku, bukan pula menyebut ini hanya terjadi padaku. Pun bukan untuk yang sedang ber KKN juga. Karena, semua pernah bertemu lalu berpisah, kan?  Dimulai dengan canggung, kita memulainya dengan memanggil "kakak". Semua tak pandang usia, semua merasa termuda. Aku pun memanggil kalian kakak. Kalian sebaliknya.  Sampai akhirnya kitapun semakin mengenal. Siapa sangka memang ada usia yang tertua, dan usia termuda. Ah kalian, betapa canggung nya aku ketika itu.  KKN di daerah pelosok menyenangkan bukan? Air sungai yang ...

Menjadi Manusia Baik di Antara Orang-orang Baru

Sederhana saja, jika ingin dihargai, mari hargai siapa saja. Tak menutup kemungkinan itu adalah orang yang baru dikenal.   Menjadi orang baik dan yang memberi kesan pertama dengan baik terhadap orang baru merupakan keberkahan bagi kita. Tau mengapa? Karena kita telah menjadi orang baru yang masuk di kehidupannya dengan pembawaan yang disukainya.  Bukan diingat sebagai orang jahat yang memberi kesan buruk baginya, tapi kita diingat sebagai orang yang enak diajak berbicara, berdiskusi, dan pasti menghargainya. Level menghargai manusia lain bukan langsung dengan memberi barang, atau selalu membela nya, atau hal lain. Tapi dimulai dengan memberi ekspresi baik terhadapnya. Percaya? Kalau orang lain merasa dihargai saat kita telah memberinya senyum.  Percaya? Kalau orang lain merasa dihargai saat kita merespon dengan baik ketika ia bertanya.  Dan percaya? Kalau orang lain merasa dihargai saat kita berusaha nyaman berbicara dengannya? Padah...

Jadi Tahu

Kita seatap, kita setempat tidur, dan kita bahkan sepiring. Aku mengira kau tak suka makan banyak, tapi ternyata kau makan banyak. Aku tak menyangka juga bahwa kau pantang bersandar, karena matamu akan segera mengantuk. Kebiasaanmu yang tak ku tahu, kini aku jadi hapal. Sudah entah berapa banyak upil yang ku hamburkan di sini, namun belum ada yang tau aku kebiasaan mengupil (setelah ini kalau ada yang baca mungkin kalian akan tau). Artinya aku pandai menutupi kebiasaan burukku itu.  Kalau sudah serumah memang wajar kita mengetahui kebiasaan teman kita. Karena setiap hari dia yang kita lihat. Sama saja saat KKN. Kalau kata guru ku dulu, "Tingkahmu di sekolah cerminan mu kalau di rumah". Begitu kira-kira.  Kalimat itu memang menunjukkan apa yang benar-benar terjadi kita lakukan. Seperti kita jadi tahu, si A suka nya makan kecap, si B kebiasaan bangun siang, bahkan subuh tak bangun, si C terbiasa tidur di jam-jam orang sibuk mengajar. Si D kebiasaan nya ba...

Jangan Lupa Visi Misi KKN!

 Semua memang dengan aturan. Dan dengan panduan. Tanpa panduan, kita buta. Apalagi kalau pelupa, dan hanya seorang pemula. Keyword : pelupa dan pemula.  Ya jangan ribet-ribet menuliskan visi misi pribadi sebelum KKN. Macam visi misi organisasi, komunitas, atau visi misi KKN yang dibuat oleh kampus sendiri. Jadi kenapa begitu perlu membuat visi misi KKN?  Kali ini aku membagikan sedikit visi misiku, padahal, ada banyak yang tak ku buat. Sampai aku terlena karena tidak menjalankannya.  Jauh sebelum KKN, aku sudah memasang misi, diantaranya untuk menjadi yang paling pendiam, mengurangi waktu tidurku, tidak telat makan, dan istikamah salat subuh di masjid. Aku memasang target itu, dan alhamdulillah semua terjalankan walau belum selesai. InsyaAllah. (Ujung-ujungnya pamer). Itu contoh kecil. Kesalahannya, aku tak merancang apa yang harus ku buat. Misal, program apa yang harus ku buat di sini. Seperti program yang berbau fisika. Atas sebab i...

Laporan Masih Ada, Itu Merdeka?

Ini sudah ke 21 tahun aku melewati 17 Agustus. Tapi momennya makin tua makin ga berasa. Entah karena aku yang suka momen 17 Agustus di masa kecil, masa dimana aku selalu ikut perlombaan dan gak pernah menang. Atau entah karena aku memang belum merasa merdeka secara lahir dan batin.  Perihal Indonesia yang katanya sudah merdeka, keahlian ku yaitu melihat dan mendengar situasi sekitarku, aku menganggap kita belum merdeka! Serius, kita belum bebas.  Kita masih dijajah oleh perasaan yang tak terbalaskan. Kita masih dijajah oleh omongan manusia lain yang membikin hati teriris. Kita masih dijajah oleh kalimat bucin. Kita ini masih dijajah. Dan belum merdeka, (ini bukan soal pahlawan, perang dan 350 tahun). Apalagi untuk mahasiswa KKN, aku ingin tanya, apa kalian sudah merasa merdeka? Atau kalian sudah merasa telah berjuang sendiri untuk merdeka?  Inti tulisan "Laporan". Bebas berpendapat itu hak semua manusia. Lalu, kembali ke sub judul, membuat laporan...

Macin No Bucin

Kalian sedikit nakal. Sibuk berkata budak cinta, tapi tak pernah memanggil majikan cinta. Kalau kata ftv, jangan langkahi majikan. Sedang sibuknya remaja bahkan orang dewasa kini menyebut bucin saat melihat teman atau orang lain yang selalu dinilai berlebihan perihal cinta. Walau bukan berlebihan, paling tidak menurut apa yang dikatakan pasangannya. Kalaupun bukan pasangan, ya bisa saja teman yang disukainya. Masih ingat tulisan sebelumnya perihal poin-poin keberhasilan KKN? Salah satunya cinta lokasi. Kalau dulu belum musim kata bucin, menyebutnya dengan cinlok di KKN. Sekarang? Bucin! Entah apa salah mereka saling suka, entah apa salah si dia yang memberi perhatian lebih terhadap temannya, dan entah apa salah kita selalu membully mereka bucin padahal mereka memancing ingin diejek. Kalau ditelisik, ternyata kebanyakan dari mereka tak suka dipanggil bucin, sesekali aku ingin memanggil mereka macin. Majikan cinta. Ah sama saja rasanya. Si A menyuruh B untuk mel...

Beloon Jadi Bunglon

Ternyata asli ku tak sekeren itu, malah terlihat beloon. Sesekali memang perlulah berubah jadi bunglon.    Tak bisa disangkal bahwa benar aku si tukang pengkhayal ini, dan si hobi tidur juga makan ternyata sedang berusaha menjadi bunglon. Kalaupun bukan bunglon, pastilah yang lain. Yang jelas menyesuaikan diri terhadap lingkungan.  Mata kuliah KKN ada pro dan kontra nya. Dan kalau selalu ambil sisi positifnya, pastilah banyak. Salah satunya mengajarkan kepada kita bagaimana agar pandai menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Lewat KKN, akan banyak perubahan yang sebenarnya kita sadari. Kau tau apa saja itu contohnya?  Orang yang pendiam, pemalu, tiba-tiba harus menjadi seorang guru. Berbicara di depan murid-murid. Berlagak pandai, lebih memahami dan bahkan sok asik. Juga menjadi sosok yang seharusnya adalah motivator bagi mereka. Sedang menyesuaikan diri, kan? Adapula orang yang tak suka dengan anak-anak. Dalam artian, ia tak pernah begitu dekatny...

Kuliah Kerja Ngapain(?)

Yang suka plonga-plongo di posko, itu Kuliah Kerja Nyata atau Kuliah Kerja Ngayal? Kalau sedang ngayal, selamat. Kita sama.  Awalnya, gemar kita mengatakan, Kuliah Kerja Nyata. Dengan embel-embel mengabdi untuk negeri. Semangat 45 melaksanakan KKN, karena langsung turun ke lapangan secara nyata.  Bijak sekali kita, mengambil gambar topi, baju persatuan, buku panduan, dengan kata-kata motivasi di dalamnya. Bertahan sebentar, caption di media sosial pun berubah. Pengumuman kepada publik pun berubah, bukan lagi Kuliah Kerja Nyata, tapi yang lain. Pasti kalian tau. Kalau kelompokku, ada beberapa. Seperti ini, Kuliah Kerja Ngajar Kuliah Kerja Ngeladang Kuliah Kerja Ngeraon Kuliah Kerja Ngaji Kuliah Kerja Nyantai Kuliah Kerja Ngolam Kuliah Kerja Ngebucin Kuliah Kerja Nangis Kuliah Kerja Nggosip Kuliah Kerja Ngegame 10 kepanjangan dari singkatan KKN itu mungkin juga banyak terjadi dibanyak kelompok KKN. Kesimpulan, sekarang kita Kuli...

Mari Pencitraan

Berikan aku 30 mahasiswa pencitraan di KKN, maka akan ku musnahkan media sosial.  Dan berikan aku 1 mahasiswa tulus di KKN, maka akan ku dekati dia. Dan bertanya, "Kok Bisa?" Aku menyelami banyak karakter di sini. Sesekali, ku dapati mereka yang suka tertawa, bersikap dewasa, suka berdiam saja, bercanda sebebas mungkin, dan ada juga yang setiap bicaranya adalah motivasi. Walau aku entah bagian mana, tapi aku menempatkan aku di bagian pantau. Orang yang suka memantau. Sebab setiap yang mereka lakukan, yang mereka katakan, aku merekamnya di kepala ku yang daya ingatnya sangat rendah. Aku menyebutnya KKN adalah citra. Karena setiap yang dilakukan harus mengambil momen, dan posting di media sosial. Tak hanya itu, bisa saja disebut pencitraan ketika orang tersebut melakukan pekerjaan hanya ketika ada orang yang melihatnya. Ya agar dianggap rajin, totalitas, dan benar-benar berkontribusi.  Akupun sampai takut dan tak berani melakukan apa-apa karena sudah ada c...

Surat dan Cinta

Sengaja, aku menggertak mereka yang sedari tadi masih saling berisik bertukar surat. Kalau mereka menyebutnya surat cinta. Sebutan untuk bocah SD yang merasakan perasaan suka terhadap teman sekelasnya. Ah mereka, lihat saja dewasa nanti. Betapa malunya mengingat itu. Tanganku meraih surat itu dengan cepat, namun tangan bocah lanang yang tengah menulis surat tadi lebih cepat meraih surat itu di tangan ku. Sampai, kamipun berebut.  "Sinilah umi," manja nya dengan sedikit merengek.  "Dengarkan abi ngomong. Dengarkan apa yang abi jelaskan," kali ini suaraku makin memuncak.  "Itu surat cinta, umi," temannya pun ikut menjelaskan perihal surat itu. Akhirnya, surat itu dilepasnya. Dan jadilah surat itu milikku. Alhasil aku penasaran isinya, dan langsung kubuka, "Aku sayang Kazia, aku cinta pada Kazia. Kazia mau gak jadi pacar aku?," aku hanya menggeleng saat membaca surat itu. Ya, kedua siswa yang saling bertukar surat itu pun ma...

Izin KKN, Boleh?

Tak mengapa, kalian lebih dulu. Sama saja bukan? Mereka berpamitan, hanya aku yang tidak. Tapi, mereka tetap mengucapkan kata-kata romantis nya untukku, hati-hati kak. Sehat-sehat. Jangan cuma makan tidur. Padahal, aku belum juga bergerak untuk pergi ber KKN ria bersama yang lain.  Mereka menebak, esok pasti kakak pergi.  Sampai esok, mereka juga heran, sebab akupun tak ada diantara orang-orang yang akan berangkat KKN. Ada saja fikirku. Sudah berulang ku katakan aku mendapat amanah di acara Wish Festival. Satu hari, tapi harus merelakan beberapa hari lagi tak bergabung bersama mereka. Sebelum ber KKN, bualanpun diterima. Berkata, KKN harus nurut sama buku panduan, nurut sama DPL, nurut sama segala aturan yang dibuat oleh perangkat kelompok KKN, bahkan ditakut-takuti ini dan itu. Jujur saja, aku izin sampai 4 hari. Aku belajar dari banyak orang. Bukan bertanya hanya pada satu orang, mereka menjawab, kalau mau izin, gak masalah. Izin aja. Tapi, jangan keenak...

Semua, Di Sini

Memasang ekspetasi? Pasti pernah. Menyebut KKN itu indah? Iya sangat pernah. Tidak juga, saya sebut saja namanya. Namanya Bg Alfiansyah. Beliau alumni LPM Dinamika, sejak ia ber KKN, ia selalu melontarkan kalimat yang sampai sekarang sangat ku ingat. Begini katanya, "Kalau dikelompok gak ada yang berantam, gak ada yang kesurupan, gak ada yang cinta cintaan, gak berhasil KKN kelen," iya itu katanya. Mereka mengenal ini dan itu, paham karakter orang-orang baru, melihat mata siapa saja yang beradu pandang saling memendam amarah, dan menahan kalimat cintanya sampai selesai semua urusan, semua berawal di sini. Pasti kalian pembaca, pun kalau ada, juga pernah merasakan hal serupa. Untuk yang belum pernah ber KKN, silahkan. Menyelami catatan tak berdurasi ini, walau hanya sekilas. Barangkali, kalian butuh pelajaran, yang mungkin kalian perlukan.  #1