Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

April

Pernah suatu ketika, kau hadir tanpa diminta Berkenalan tanpa lama Bertukar fikiran hanya beberapa menit saja Esoknya, kau hilang entah ke mana Pernah suatu ketika, kau hadir lagi membawa tanya 'Bagaimana keadaan di sana' Kujawab, 'Aku baik saja,' 'Kau tak bertanya kabarku juga?' kau malah minta ditanya. 'Kau sehat?' aku pun akhirnya bertanya. Tak lama menanti kau sudah menjawab, 'Aku sehat, haha,' Tak menahan, aku juga membalas tawa. Enyah kau! Kau tak lagi mengirim pesan berjenis jawab, ataupun tanya. Pernah suatu ketika, kau benar datang lagi tanpa malu. Aku tetap menjawab tanyamu, dan perbincangan ini makin seru. Tapi tunggu! Sial, aku terjebak oleh halu, malah pernah rindu. Pada orang yang sama sekali kutak tau. Kau bahkan tak pernah sadar hal itu. Kau datang hanya untuk jadikanku objek agar kau bisa berkenalan dengan temanku. Aprilku, sungguh dirundung malu

Kenapa Kita Harus Bahagia?

Lihatnya jangan satu sisi. Masalah hanya akan jadi masalah, kalau kita mengenalnya dengan masalah. Alkisah ada seorang anak SMP yang pulang ke rumah membawa rapot dan hadiah buku, lagi-lagi ia mendapat juara. Ia pun mengadu ke orang tua, kalau ia juara tiga lagi. Sang ayah hanya mengucapkan, "mantap lah,". Sedangkan anaknya masih semangat memamerkan nilai-nilai rapotnya. Ibunya datang, dan mengucapkan selamat. Sang anak menunggu sampai dua hari setelah pengumuman juara, kenapa ia belum juga mendapat hadiah dari orang tuanya. Ia kesal. Sedih, dan tak merasa bahagia. Tidak mendapat hadiah dari orang tua sudah menjadi hal biasa baginya. Terakhir ia dapatkan di kelas 2 SMP. Ia pun mendapat juara selalu merasa biasa saja. Tidak ada perasaan bahagia yang berlebihan.  Sikap tidak bahagianya ia rendam sebisa mungkin. Sampai beranjak SMA. Ia mendapat juara kelas, dan tidak dapat hadiah, tapi ia bisa tetap merasa bahagia. Syukurnya, sang anak tidak memandang remeh ...