Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2020

Siklus Jatuh Cinta

Karena manusia suka baper- Cinta, kata yang selalu viral dan dibincangkan sejak kelahiran saya 1998 bahkan sebelumnya, sampai 2020 bahkan selamanya. Begitu ajaibnya kata ini. Tanpa perpanjang lebar di pembukaan, kira-kira begini siklusnya. Perkenalan - pertemanan - komunikasi - nyaman - jatuh hati - ingin memiliki - ??? Memang semua bermula dari komunikasi, dan salah satunya akan nyaman lalu jatuh hati, ah bukan. Tepatnya jatuh cinta. Lalu, kenapa di akhir siklus timbul pertanyaan? Jawabnya begini, 1. Bisa berakhir dengan pacaran 2. Bisa berakhir dengan kecewa karena ditinggalkan 3. Bisa berakhir dengan perpisahan karena ternyata bertepuk sebelah tangan 4. Atau bisa saling membenci? Poin mana yang pernah kita alami sejak kita lahir sampai sekarang? Bagian mana yang menyenangkan dan menjamin kebahagiaan dunia akhirat? Cinta itu tak salah ya. Yang salah ya manusianya. Pernah dengan kalimat, "Cinta ga punya alasan, cinta ga bisa milih kepada siapa d...

Siklus Sekadar Teman

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628). Sahabat adalah teman. Tapi teman belum tentu sahabat. Teman itu banyak, keberadaannya di mana-mana. Di sosial media, di sekolah, di daerah tempat tinggal, di kampus, di tempat bekerja, bahkan di dunia tak nyata. Kalau sebelumnya kita berbincang soal persahabatan yang jumlahnya tak banyak, di sini kita bahas soal 'teman' yang jumlahnya sangat banyak. Agaknya lebih benar kalimat 'itu teman lamaku', daripada 'itu sahabat lamaku'. Risih memang kalau mendengar sahabat jika disandingkan dengan kata man...