Langsung ke konten utama

Temu Ini Haru

Kadang ku sesali pertemuan. 
Sebab itu akan berakhir dengan perpisahan. 
Memulainya dengan tawa, berakhirnya dengan duka. 
Akhirnya hanya tersisa kerinduan. 
Dan cuma sebatas kenangan. 

Kalau inti pertemuan hanya sebuah awal perpisahan, betapa sempitnya makna pertemuan. Kalau pun temu dikata hanya untuk menumpuk rindu, betapa menyakitkan nya rindu itu. 

Temu Ini Haru #1/2


Aku bukan menyebut ini kisah ku, bukan pula menyebut ini hanya terjadi padaku. Pun bukan untuk yang sedang ber KKN juga. Karena, semua pernah bertemu lalu berpisah, kan? 

Dimulai dengan canggung, kita memulainya dengan memanggil "kakak". Semua tak pandang usia, semua merasa termuda. Aku pun memanggil kalian kakak. Kalian sebaliknya. 

Sampai akhirnya kitapun semakin mengenal. Siapa sangka memang ada usia yang tertua, dan usia termuda. Ah kalian, betapa canggung nya aku ketika itu. 

KKN di daerah pelosok menyenangkan bukan? Air sungai yang jernih itu selalu jadi kebiasaan. Buah-buah yang dipetik langsung dari pohonnya menjadi incaran. Warganya semua berbahasa daerah dengan kental menjadi yang selalu diperdengarkan. Sampai, kita pun tau sedikit banyaknya. "Mantap krina?" Kalian akan ingat pastinya.

Istilah susun gembung, pun terjadi. Karena, rumah kita tanpa kamar, dan tanpa jendela. Semua juga tau, kita tinggal di ruko salah satu warga. Yang pria? Mereka hebat, mereka tinggal dan menetap sebulan di Masjid dekat posko. 

Soal air, tak usah dipertanyakan, kalau ingin mandi dan salat, silahkan ke masjid. Karena di sana airnya melimpah ruah. Lihat posko? Mana airnya? Ada, tapi jarang. Bahkan tak ada air. Mau mandi silahkan di masjid, atau sungai, kalau tak ingin mandi, silahkan semprot baju pakai parfum.

Terima kasih, 28 manusia dengan isi kepala berbeda-beda. Dengan sifat dan kecemasan yang berbeda-beda pula. Ada hal yang akan kalian ingat jelas pastinya, cinta, gelisah, lapak tuak, deru sungai, buah, dan anak-anak ajar kalian, kan? Setelahnya, tetaplah menjadi hebat. 

Temu Ini Haru #2/2


Umi jahat! 

Bernama Doni mendorong ku. Ingatkan, tulisan kedua tentang surat cinta? Ku jelaskan Doni terbandal di sekolah itu. Benar, siapa sangka dia menangis saat mengetahui kami semua akan segera pulang. Dia menangis, mendorongku, dan ketika aku menjauh, dia memelukku dari belakang. 

Umi, wali kelas mereka berkata mereka sedang akting. Tapi, entah mengapa tak dapat ku lihat letak akting mereka di mana. Kalau tau ilmunya, jangan lupa berbagilah padaku.

Mereka acuh saat sesi salaman, sampai aku penasaran kemana mereka. Ketika masuk ke kelas, ah ternyata semua menangis. Apa mereka menangisi aku? Kami semua? Atau karena ada janji yang belum ku tunaikan? 


Satu persatu, mereka memberiku surat. Terima kasih nak, dek. Kalian hebat. Mereka berpesan, "Umi harus janji ga lupa sama kami".(ini di dalam surat) Sudahku yakini, kalau mereka tak bisa berkata demikian secara langsung, maka dari itu hanya bisa melontarkan nya lewat surat. Itu pasti. 

Terima kasih sudah bersama umi, kelak, izinkan umi mengunjungi kalian, ya. 

Beginilah akhirnya temu, hanya akan menjadi sebuah rindu. 
Kita memulai nya, lalu kita pun mengakhirinya. Sesadis itu? 

Aku, kamu, kita, kembalilah pada yang sedang merindu. Jika tidak ada yang berkata rindu pada kita, peka lah sendiri. Barangkali dia malu mengucapkannya. 

Isma Hidayati, undur diri untuk blog seputar KKN. Maaf dan terima kasih. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...