Langsung ke konten utama

Surat dan Cinta

Sengaja, aku menggertak mereka yang sedari tadi masih saling berisik bertukar surat. Kalau mereka menyebutnya surat cinta. Sebutan untuk bocah SD yang merasakan perasaan suka terhadap teman sekelasnya. Ah mereka, lihat saja dewasa nanti. Betapa malunya mengingat itu.


Tanganku meraih surat itu dengan cepat, namun tangan bocah lanang yang tengah menulis surat tadi lebih cepat meraih surat itu di tangan ku. Sampai, kamipun berebut. 

"Sinilah umi," manja nya dengan sedikit merengek. 

"Dengarkan abi ngomong. Dengarkan apa yang abi jelaskan," kali ini suaraku makin memuncak. 

"Itu surat cinta, umi," temannya pun ikut menjelaskan perihal surat itu.

Akhirnya, surat itu dilepasnya. Dan jadilah surat itu milikku. Alhasil aku penasaran isinya, dan langsung kubuka, "Aku sayang Kazia, aku cinta pada Kazia. Kazia mau gak jadi pacar aku?," aku hanya menggeleng saat membaca surat itu. Ya, kedua siswa yang saling bertukar surat itu pun malu-malu. Dalam hati, aku bertanya, "Apa aku pernah begitu?"

Tak hanya perihal surat, juga tentang siswa bernama Doni. Ah sedihnya, dia sangatlah bandal. Aku pun bingung menaklukannya untuk memosisikan dia menjadi siswa seperti apa. 

Aku perintahkan menulis, dia malah berdiri di atas bangku, aku inginnya dia jangan bergendang meja, dia malah menggendang laci meja. 

Oh iya, ada satu yang dituruti nya, ketika dia di atas bangku, aku suruh turun, dia turun. Tapi lari keluar kelas. Aku, hanya tersenyum. Aku belum mendalami karakter ku sebagai seorang guru.

Suaraku makin mengecil, suara rekan ku pun makin mengecil, tak terdengar lagi betapa kerasnya suara ini seperti sebelumnya, dan tak terlihat lagi betapa garangnya kami di awal pembukaan. Saking lemasnya. 

Mahasiswa eksakta, yang berjibaku dengan dunia pendidikan, yang harusnya berfokus pada penelitian (fokus diperkuliahan; material), memang wajar terkejut dengan profesi keguruan. 

Aku sudah terbiasa mengajar ngaji, dan pernah membuka les di depan rumah. Tapi ternyata itu bukanlah pengalaman. Kalau pengalaman, pasti pun aku tak terlalu kaget dan tak terlalu emosi dengan keadaanku ketika itu. Sampai lupa, ini hari pertamaku ber KKN, mengajar di kelas. 

Teriris hati ini, sampai akhir pelajaran di hari itupun, aku juga tak bisa membuat mereka benar-benar belajar. Hari pertama, aku hanya membawa surat cinta mereka sesama temannya, dan membawa cerita yang kurang menarik, jelas, itu cerita menyedihkan. 

Waktu itu, pun aku menetapkan dalam hati, aku ingin membuat surat cinta juga, dan mengirim pada mama. Yang menjelaskan tentang betapa hebatnya ia menjadi seorang guru, dan mencintai profesi itu sedari dulu. 

Pastinya, aku ingin mama tak merespon bahwa aku sedang bercanda. Sebab itu surat, yang dibuat dengan cinta. Dari muridnya ketika MDA, ketika mengaji, ketika TK, dan teruntuk guru; mama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...