Langsung ke konten utama

Beloon Jadi Bunglon

Ternyata asli ku tak sekeren itu, malah terlihat beloon. Sesekali memang perlulah berubah jadi bunglon. 
 Tak bisa disangkal bahwa benar aku si tukang pengkhayal ini, dan si hobi tidur juga makan ternyata sedang berusaha menjadi bunglon. Kalaupun bukan bunglon, pastilah yang lain. Yang jelas menyesuaikan diri terhadap lingkungan. 

Mata kuliah KKN ada pro dan kontra nya. Dan kalau selalu ambil sisi positifnya, pastilah banyak. Salah satunya mengajarkan kepada kita bagaimana agar pandai menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Lewat KKN, akan banyak perubahan yang sebenarnya kita sadari. Kau tau apa saja itu contohnya? 



Orang yang pendiam, pemalu, tiba-tiba harus menjadi seorang guru. Berbicara di depan murid-murid. Berlagak pandai, lebih memahami dan bahkan sok asik. Juga menjadi sosok yang seharusnya adalah motivator bagi mereka. Sedang menyesuaikan diri, kan?

Adapula orang yang tak suka dengan anak-anak. Dalam artian, ia tak pernah begitu dekatnya dengan anak-anak, selalu tak sabar jika berkomunikasi dengan bocah-bocah yang hanya tahu bermain. 



Tapi, keberadaan kita di tengah-tengah mereka menuntut kita untuk menyukai anak-anak. Tiba-tiba saja berubah jadi sosok yang berjiwa keibuan, harus menyayangi siapa saja bocah yang mendatanginya. 

Ah awalnya aku menganggap ini kesialan bagiku, karena bocah yang ku maksud memang selalu bermanja ria terhadap siapa saja mahasiswa KKN yang dilihatnya.

Aku, sedang berpura-pura nyaman dengan mereka, memeluk mereka saat marah, 
menutup mata mereka saat terjadi pertengkaran, agar mata kedua pihak tak saling beradu pandang, 
memanggil mereka dengan sebutan sayang, dan menjadi sosok umi yang sesungguhnya sepanjang hari bagi mereka. 
Sampai aku pun nyaris lupa, kalau aku sedang berpura-pura.

Kita, adalah bunglon yang sedang berusaha menyesuaikan diri, kan?

Ada pula yang suka nya kebisingan, apalagi dalam hal berdiskusi. Ialah sosok yang ingin semua orang mengetahui siapa dirinya, ialah sosok yang acapkali memberi pendapat, saran, dan kalimat yang sebenarnya itu-itu saja. 

Dan di sini, lewat forum itu, ia sedang berusaha menyesuaikan diri terhadap temannya. Mungkin dalam hatinya menggumam, bahwa bukan hanya dia manusia yang bisa bebas memberi pendapat. 

Dan bukan hanya dia manusia yang harus didengarkan. Kadangkala, dia juga harus mendengarkan. Begitu, kan?

Lagi dan lagi. Semua dari kita adalah bunglon. Sesekali berubah menjadi warna kelam saat berada di ruang gelap. Menjadi lebih berwarna berada di lingkungan yang ber aura positif. Dan menjadi samar saat kita sudah hilang arah.

Apapun itu jenisnya. Tetap saja menyesuaikan diri itu sangat penting. Kalimat "jadilah diri sendiri" itu memang benar, hanya saja jangan egois saat kita tak seharusnya menjadi diri sendiri dalam keadaan tertentu. 

#06

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...