Langsung ke konten utama

Namanya Juga Harapan, Ya Jangan Berlebihan

Ya namanya manusia, hobinya berharap, sukanya berekspektasi, tak berniat membayangkan hal-hal lain, pun tetap akan terbayangkan. Sama halnya ketika Ramadan.

Semua sama. Sama sama berharap jadi manusia lebih baik, jadi umat yang doyan ibadah, jadi orang gelisah kalau ga ibadah sunah, kalau ga tadarus sekian juz. Begitulah, harap kita.

Ini perdana tulisan nongol di blog setelah 2 tahun fokusnya di tumblr. Dan agak berdosa rasanya kalau gak nulis yang berfaedah dikit. Tapi, lagi-lagi aku tarik diri, emang bisa ya nulis banyolan bisa jadi faedah? Entah.

Baiklah, 2022 aku buka tulisan Tautan Edisi sekian tentang Sahur Masih Sendiri. Menunjukkan di tahun itu aku apek dan sumpek dengan pertanyaan basa-basi tentang pernikahan. Padahal, di tahun itu aku belum wisuda, dan usia juga belum tua-tua amat.

2023 tanpa jejak Ramadan, sepertinya itu tahun aku menghabiskan waktu di rumah, kerja cuma remote, tanpa memikirkan skripsi lagi, haha. Tentunya jadi beban keluarga.

2024? Perihal ekspektasi dan harapan.
Boleh berharap, tanpa berekspektasi? Yakin? Aku punya banyak harapan, dan mungkin harapan ini berawal dari sebuah masalah, kerisauan, khawatir, dan apa yang telah terandai sebelumnya.

Pernah dengar, katanya orang ga punya harapan apapun, selain ngalir setiap harinya. Menjalani hari sesuai dengan apa yang telah terlihat setiap harinya. Gapapa, pilihan hidup orang berbeda. Wkwk.


1. Memandang Masalah Bukan Dari Siapa Yang Salah
    Sialnya, beberapa bulan belakangan, aku malah merasa jadi manusia yang selalu mempertanyakan siapa, siapa yang mengatakan, siapa yang memulai, siapa yang bermasalah, siapa dia sampai begitu, siapa yang harusnya dikatakan salah dan benar. 
       Bukan sibuk memikirkan apa solusinya, apa masalah yang harusnya benar-benar dianggap masalah. Sederhana, di Ramadan ini aku ingin kembali seperti yang sebelumnya ku biasakan dan pelajari. Diam, pantau, dan selesaikan.

2Banyak Berbicara Apa Yang Terjadi
   Aku jadi rindu aku yang diam wkwk. Menyimpan, memendam, menelan sendiri semua tanpa melibatkan empati dan simpati, orang lain, tanpa melibatkan bagaimana respon orang lain. Katanya, berbagilah, biar lebih lega. Setelah dipikir-pikir lagi, ternyata lebih tenang menelannya sendiri wkwk. Please Ramadan, berpihak ke orang-orang yang mau berubah kayak aku ini.

3. Membaca Tanpa Segan
   Emang ada orang berbuat kebaikan tapi ngerasa segan? Ada! Banyak. Tanpa disadari, ada banyak tatapan orang, komentar orang, pertanyaan orang yang membuat kita segan untuk melakukan itu lagi seperti biasa.
     Uniknya, diantara dari kita berhenti ketika dikomentari Rajin kali, baek kali, disiplin kali, tumben, dan sebagainya. Padahal kita yang berbuat baik ya? Kok malah kita yang segan?
       Dan semoga, mulai kembali membaca tanpa segan, berbuat baik tanpa segan. Semata karena Allah dan fakir ilmu aja!

Sudah, aku terlalu banyak harapan yang mungkin bisa direalisasikan di Ramadan kali ini. Namanya juga harapan, jangan terlalu berlebihan bagi kita mengekspektasikannya. Planner Ramadan tetap jalan, ibadah lancar, dan semua hal dimudahkan Allah. Juga, Semoga apa-apa yang kita harapkan tak membuat kita hanya sekadar berharap, tapi juga mewujudkan harapan itu jadi nyata. Allahumma Aamiin. 

#tautannarablog6
#day1

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...