2021 bermunculan orang sebut-menyebut dirinya sedang overthinking. Semua apapun dilandaskan dengan "aku sedang ovrt". Pun juga disandingkan dengan insecurity. Lengkap sudah, orang mau mengingatkan seorang teman, malah jadi mundur karena kalimat, "Kau ga ngerasain apa yang kurasakan. Insecure kita beda, aku ovrt." Baik.
Disclaimer, ini bercerita tentang ku. Berhubung aku juga ssuka menuliskan tentangku, selagi itu bukan hal rahasia yang tidak seharusnya diberi tau publik.
2022 sedang masa-masa skripsi, aku banyak mendapat cerita temanku yang sering ovrt. Susah tidur, karena banyak pikiran setiap malam. Aku sebenarnya tipikal orang yang tidak memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak terlalu perlu dipikirkan (iya aku lagi berbangga diri.haha). Bahkan istilah ovrt sangat asing, karena memang kalau sudah jam tidur, ya aku tidur. Jam kerja aku kerja. Jam bengong aku bengong. Jam main aku main. Jam sendirian dengan diri sendiri, ya kunikmati.
Ada masa memang dimana kupakai satu waktu untuk memikirkan sebuah masalah, tapi itu benar-benar hanya sebatas dimana akar masalahnya, apa solusinya. Untuk perihal lain, aku tidak jadi masalah. Di sebuah buku yang kubaca juga bilang,
Pikirkan masalah secara mendalam, bukan secara jauh.
Stop mikir masalah kedepannya jika ini jika itu. Plan kedepannya baik, tapi kadang luput kita menjadikan itu sebagai bahan ovrt, takutnya malah mendahului Tuhan. Allahhuakbar.
Malam itu, aku lupa bulan berada. Aku buat catatan di HP ku daftar masalah, daftar banyak hal yang membuat hati dan pikiran tidak enak. Baik itu yang sedang terjadi, atau kemungkinan yang terjadi. Lalu ketika menjelang tidur, aku membaca catatan itu, dan memikirkannya.
Hasilnya?
Aku tidur sampai pukul 3 pagi, kepalaku sakit, ternyata begitu banyak masalah dan perihal yang terjadi dihidup dan harus dipikirkan. Paginya, aku agak demam, kepala sakit, dan di malam-malam berikutnya, aku malah penasaran lagi, aku coba memikirkan beberapa masalah lain.
Perasaan yang terjadi hari itu, dan sudah selesai ku bersihkan, kupikirkan lagi. Nasib.
Kesimpulan yang bisa kutarik dari percobaan itu, adalah benar. Ovrt sebelum tidur bikin tubuh dan pikiran gak sehat.
Aku semakin yakin, tidur yang berkualitas juga ditentukan dari bagaimana kita memproses dan memperlakukan seluruh anggota tubuh menjelang tidur.
Aku percaya, semua orang punya pikiran dan bebannya masing-masing. Tapi gak semua orang bisa santai mengabaikan semua masalah dunia.
Membuat tembok tinggi untuk membuat pikiran sehat, tergantung kitanya. Jangan banyak berlebihan menanggapi masalah. Capek kan? Semua hal dipikirin? Capek kan? Semua semua yang kecil terlalu jauh memikirkannya.
Istighfar. Menyelesaikan masalah itu penting, tapi terlalu berlebihan memikirkan dan menanggapinya juga bikin sakit.
Semangat.
Sehat-sehat. Coba tidur dengan tenang. Dunia gak sejahat itu.
#tautannarablog6
#day7

Siap ibunda. Saya akan tidur dengan tenang
BalasHapus