Teman-temanku, rupanya sama. Panik ketika dapat kabar mama-nya sakit. Pikiran tak karuan, hati tak tenang, dan maunya cuma melihat orangtuanya langsung, memastikan kabarnya.
Bagi si anak rantau, urusan menahan perasaan adalah hal yang biasa dan bisa disanggupi. Ia sakit, ia tak makan, ia tidak cukup uang, ia lelah karena tugas, tak nyaman di kantor, ia bisa tetap menjawab kabarnya sehat ke orangtuanya. Tapi urusan orangtua, bisa jadi langsung pecah tangisnya ketika mendengar kabar yang tak usai-usai itu.
"Mama sakit"
"Sakit apa?"
"Gakpapa, biasa masuk angin"
Tau-tau, sudah di rumah sakit. Menyembunyikan diri agar tak bertanya banyak, agar tak memaksa orang rumah untuk jujur, tentu sulit dilakukan.
Gimana?
Sudah pernah membayangkan ibu sakit?
Sudah pernah membayangkan ibu terkapar di rumah sakit?
Sudah pernah membayangkan ibu duluan pergi dari kita?
Jangan, jangan pernah.
Tapi, kalau terbayangkan, semoga bisa meluaskan sayang kita pada orangtua.
Kupanggil mama dari kecil, yang sering kecewa karena aku banyak menentang. Yang sering kecewa karena aku ternyata tak mencapai ekspektasinya. Dia, yang pernah menjadi bahan gerutuku berhari-hari, karena aku merasa jadi anak si paling menderita dibuatnya. Padahal, jalan yang ia pilihkan, itu ridonya. Allah ya Rabb:(
Mama, bukti terbaik dari Allah, kalau ia Maha Pemberi, dan Pengasih. Mama selalu punya cara untuk bisa tetap terlihat sehat, bijak, dan jadi guru terbaik di rumah. Mama sakit untuk kesekian kalinya, jantungnya yang sakit, tapi jantungku pun terasa sakit, sesak, kepikiran tiap hari. Tapi dia, bisa terus memberi bukti, kalau dia akan sehat.
Kita akan sulit membayangkan orangtua sakit.
Kitapun akan sulit menceritakan seberapa sakit orangtua.
Misalnya, kalau ibu sakit, jangan tunda untuk menemuinya. Jangan tunda untuk merawat. Jangan tunda untuk memberi semua kepedulian dan perhatian ke Ibu.
Usia siapa yang tau, Allah beri sakit mungkin untuk mengingatkan kita, bahwa kesempatan untuk merawat dan menunjukkan kasih sayang selalu ada.
Usia siapa yang tau, memaafkan adalah solusi. Bisa jadi esok ibu yang pergi, bisa jadi pula, kita yang pergi.
Misalnya kalau ibu sakit, kita akan merasa sakit juga.
Berlari sebentar menuju rumah melihat senyumnya yang menahan sakit, tentu bukan hal yang berat, kan?
Misalnya kalau ibu sakit, tak apa sedikit melepas gengsi untuk memeluk, memijat, dan menunjukkan cintanya kita sebagai anak, kan?
InsyaAllah, semua sehat. Aamiin.
Kita hanya bicara misalnya.
#tautannarablog6
#edisikaget
#day16

Sehat selalu. Aamiin ✨🤎
BalasHapus