Langsung ke konten utama

Misalnya, Kalau Ibu Sakit

Teman-temanku, rupanya sama. Panik ketika dapat kabar mama-nya sakit. Pikiran tak karuan, hati tak tenang, dan maunya cuma melihat orangtuanya langsung, memastikan kabarnya.

Bagi si anak rantau, urusan menahan perasaan adalah hal yang biasa dan bisa disanggupi. Ia sakit, ia tak makan, ia tidak cukup uang, ia lelah karena tugas, tak nyaman di kantor, ia bisa tetap menjawab kabarnya sehat ke orangtuanya. Tapi urusan orangtua, bisa jadi langsung pecah tangisnya ketika mendengar kabar yang tak usai-usai itu.

"Mama sakit"

"Sakit apa?"

"Gakpapa, biasa masuk angin"

Tau-tau, sudah di rumah sakit. Menyembunyikan diri agar tak bertanya banyak, agar tak memaksa orang rumah untuk jujur, tentu sulit dilakukan.


Gimana? 

Sudah pernah membayangkan ibu sakit? 

Sudah pernah membayangkan ibu terkapar di rumah sakit? 

Sudah pernah membayangkan ibu duluan pergi dari kita? 

Jangan, jangan pernah. 

Tapi, kalau terbayangkan, semoga bisa meluaskan sayang kita pada orangtua.


Kupanggil mama dari kecil, yang sering kecewa karena aku banyak menentang. Yang sering kecewa karena aku ternyata tak mencapai ekspektasinya. Dia, yang pernah menjadi bahan gerutuku berhari-hari, karena aku merasa jadi anak si paling menderita dibuatnya. Padahal, jalan yang ia pilihkan, itu ridonya. Allah ya Rabb:(

Mama, bukti terbaik dari Allah, kalau ia Maha Pemberi, dan Pengasih. Mama selalu punya cara untuk bisa tetap terlihat sehat, bijak, dan jadi guru terbaik di rumah. Mama sakit untuk kesekian kalinya, jantungnya yang sakit, tapi jantungku pun terasa sakit, sesak, kepikiran tiap hari. Tapi dia, bisa terus memberi bukti, kalau dia akan sehat.


Kita akan sulit membayangkan orangtua sakit. 

Kitapun akan sulit menceritakan seberapa sakit orangtua. 


Misalnya, kalau ibu sakit, jangan tunda untuk menemuinya. Jangan tunda untuk merawat. Jangan tunda untuk memberi semua kepedulian dan perhatian ke Ibu. 

Usia siapa yang tau, Allah beri sakit mungkin untuk mengingatkan kita, bahwa kesempatan untuk merawat dan menunjukkan kasih sayang selalu ada.

Usia siapa yang tau, memaafkan adalah solusi. Bisa jadi esok ibu yang pergi, bisa jadi pula, kita yang pergi.


Misalnya kalau ibu sakit, kita akan merasa sakit juga.

Berlari sebentar menuju rumah melihat senyumnya yang menahan sakit, tentu bukan hal yang berat, kan?


Misalnya kalau ibu sakit, tak apa sedikit melepas gengsi untuk memeluk, memijat, dan menunjukkan cintanya kita sebagai anak, kan?


InsyaAllah, semua sehat. Aamiin. 

Kita hanya bicara misalnya.


#tautannarablog6

#edisikaget

#day16

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...