Lagi dan lagi, aku pernah menulisnya dengan judul Ramadannya Si Beban Keluarga . Dan sebelum aku dapat tulisan ini, aku memang berniat menulis tentang seberapa ingatnya aku dengan momen Ramadan ketika masih berseteru dengan skripsi, dan dikejar usia. Hem!
Tapi sebenernya aku gak akan menyoroti hal yang sama. Karena benar, momen ramadan yang masih sibuk dan takut dengan skripsi, adalah yang paling ku ingat haha. Mau momen sendiri ketika ramadan, momen di perantauan, momen Ramadan dengan pekerjaan yang menumpuk, atau lainnya. Paling dan ingin untuk dibahas, adalah kita akan terbiasa.
Dulu, Ramadan perdana jauh dari orangtua memang terasa sedihnya, nyeseknya, dan segala macam rasa muak hinggap di setiap berbuka dan sahur. Merengek selalu merasa paling sedih di muka bumi, bilang aman dan terkesan tak ada masalah ketika ditanya orangtua, gengsi menyelimuti. Apalagi masih belum banyak circle pertemanan yang bersedia untuk menemani dan adu nasib tentang rasa sepinya.
Waktu berjalan, kita mulai terbiasa. Cuma sebatas panggilan suara di beberapa hari dalam seminggu dengan orangtua, menanyakan berbuka dan sahur dengan menu apa. Lambat laun, jadi senggang, dan bukan jadi hal yang setiap hari dilakukan.
Diingat-ingat lagi, mulai usia sekian - ke - sekian, seberapa banyak ingatan kita tentang momen ramadan?
Ada yang ramadannya jadi paling sedih karena baru tertimpa musibah, ada yang ramadannya jadi paling happy karena full di rumah bareng keluarga, ada yang ramadannya merasa kesepian karena belum juga punya pasangan, bahkan ada yang sampai detik ini terus menceritakan happynya dia Ramadan di usia 7 tahun, dan banyak lagi.
Kamu momen ramadan apa yang paling bikin kamu ingat?
#tautannarablog6
#day2

Komentar
Posting Komentar