Langsung ke konten utama

Siklus Mama Minta Anaknya Nikah

 Suasana rumah masih sama, sepi tiba-tiba, berisik tiba-tiba. Aku yang pulang ke rumah cuma beberapa hari, mulai semangat walau gak ada sinyal, karena aku sudah mengunduh episode full BoBoiBoy Sori. Selepas ku tuntaskan tontonan favoritku itu, aku berlari ke ke depan, teriak "mamaaa". Berlarian ke kamar belakang, " Ma o ma"

"Ha. Opo to ndok,"

"Ma ada fakta baru". Mama menyimak, sambil tetap berbaring.

"Ma rupanya BoBoiBoy Sori itu Solar Duri" Aku bersemangat. Mama berwajah datar tanpa ekspresi.

"Rupanya lagi ma, atok yang di Ratakka, movie 2, ada lagi ngebantu orang ni di galaxy sori"

"Terus?" Mama cuek, tapi matanya masih memandangiku

"Terus ma Solar rupanya sama Duri sama kepribadian. Gak kek halilintar"

"Isma, cerita sama suamimu la sana. Mama jodohin aja ya". Katanya. 

Aku langsung berdiri dari tempat tidur mama. Aku pergi. Ah bosannya aku dengan kata itu.

Begitulah tahapnya. Mama sudah sampai di tahap Sibuk Menjodohkan.


2021 Mama sudah mulai menyentil, kapan anak perempuannya ini menikah.

"Kapan anak Mama nikahnya?"

"Alaa nanti nantilah ma belum wisuda"

Pertanyaan dan jawaban ini terus berulang. Sampai masuk ke tahun selanjutnya.


2022, pertanyaan masih sama. Walau ada bumbunya. 

"Nunggu Isma wisuda, ntah kapan. Mama jodohin aja Isma ya" 

"Iya ma terserah mama"

Sesekali aku menentang dengan jawaban, "Aku masih stres karena skripsi, ini harus stres lagi mikirin nikah?" Mama diam.


2022 akhir, sudah wisuda. Mama mulai di tahap "Ni Anak kok gak ada nampak niatan nikahnya". Sampai, pertanyaan pun berubah. 

"Anak mama normal kan?" Waktu aku mencuci piring, dan mama masak.

"Ha maksudnya ma?"

"Anak mama suka sama laki-lakikan?" Aku cuma diam mendengar pertanyaannya. Rupanya ini pernah kudengar sebelumnya dari ayah, "Anakmu itu tengok tengok. Gaya udah macam jantan. Cerita cowok gak pernah. Bawak cowok ke rumah gak pernah. Disuru nikah banyak alasan". Hem.. 


2023 sudah bekerja, dan selalu di momen lebaran, sama seperti sebelum-sebelumnya. Bedanya lagi, ini sudah makin-makin, menyeret satu nama laki-laki di kampung agar ada bahan ejekan. Kalau aku akan bersamanya. Padahal dia temanku yang sama sekali kami tak berkomunikasi. Terserah, pikirku.


Jadi, saat saat sekarang, mama balik lagi ke tahapan menjodohkan lagi. Aku masih batas aman, karena aku masih bisa menyeret beberapa nama temanku yang belum menikah. 


Kesimpulan dari tahapan Mama, atau mungkin tahapan orang tua kita agar kita segera menikah begini:

Menyindir - Menanyakan - Menanyakan - Pasrah Jadinya Mulai Diam - Menjodohkan - Maksa - Menanyakan - Pasrah


Nah, gimana? 

Semangat ya jombs. 


#tautannarablog6

#day10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...