Mungkin ada, tapi karena tak dikoreksi.
Mungkin ada, tapi karena tak pernah menghargai diri sendiri.
Mungkin ada, tapi selalu menilai keburukan diri.
Mungkin ada, tapi sebenarnya karena ia tak benar-benar tau.
Rupanya, aku banyak mengabaikan beberapa buku yang kupunya cuma karena aku takut, impact yang harusnya merubah kebiasaan buruk jadi lebih baik, tidak tersampaikan dan tidak terlaksana. Jadi, daripada merasa bersalah berpanjangan, aku memilih nanti aja deh bacanya tunggu bener-bener tobat.
Padahal, setelah dikoreksi, agaknya prinsip itu salah. Ya memangnya nunggu sadar dan memantaskan diri mau sampai kapan si? Kenapa gak fokus untuk baca dan memperbaiki pelan-pelan, ya? Ini malah fokus menjauhkan diri dari buku soal habits. Huh
Aku percaya, semua manusia punya kebiasaan baik di dirinya. Walau 1 atau hanya 2. Dalam seharian, pasti ada hal baik yang memang rutin kita lakukan. Misalnya kamu tidak sering baca buku, tapi kamu suka menulis. Kamu hanya perlu mencoba membaca lagi, agar seimbang.
Kita solat wajib, kita juga senang kalau salat duha, alangkah lebih sempurna, kalau sebelum dan sesudah solat wajib pun kita lakukan. Semua bisa, kalau terbiasa, dan pelan.
Aku membuat ini, bukan semata karena aku sudah baik pola kebiasaan ku setiap hari. Tapi ini bisa diistikamahkan dan diikhtiarkan saat Ramadan. Mulai aja dulu.
Betapa nikmatnya salat sunnah, dan tadarus setiap hari. Betapa sempurnanya dunia kalau mau tidur baca buku, kemana-mana pegang buku, dan menuju tidur juga melihat buku apa lagi yang harus didengarkan reviewnya. Aduh! Aku sadar kebiasaan baik ini sebenarnya memang baik, tapi ya namanya manusia, suka khilaf dan banyak nantinya. Astaghfirullah.
Entahlah, aku pun bingung harus menuliskan apa. Aku paling takut sebenarnya kalau membahas kebiasaan.
#tautannarablog6
#day8

"paling takut kalau membahas kebiasaan" exactly relateee banget smuanya wkwk.
BalasHapusNyampek ya ketakutan itu juga wkwk
Hapus