Langsung ke konten utama

Emangnya Ada Orang Gak Punya Kebiasaan Baik?

Mungkin ada, tapi karena tak dikoreksi. 

Mungkin ada, tapi karena tak pernah menghargai diri sendiri. 

Mungkin ada, tapi selalu menilai keburukan diri. 

Mungkin ada, tapi sebenarnya karena ia tak benar-benar tau.


      Rupanya, aku banyak mengabaikan beberapa buku yang kupunya cuma karena aku takut, impact yang harusnya merubah kebiasaan buruk jadi lebih baik, tidak tersampaikan dan tidak terlaksana. Jadi, daripada merasa bersalah berpanjangan, aku memilih nanti aja deh bacanya tunggu bener-bener tobat.

     Padahal, setelah dikoreksi, agaknya prinsip itu salah. Ya memangnya nunggu sadar dan memantaskan diri mau sampai kapan si? Kenapa gak fokus untuk baca dan memperbaiki pelan-pelan, ya? Ini malah fokus menjauhkan diri dari buku soal habits. Huh

    Aku percaya, semua manusia punya kebiasaan baik di dirinya. Walau 1 atau hanya 2. Dalam seharian, pasti ada hal baik yang memang rutin kita lakukan. Misalnya kamu tidak sering baca buku, tapi kamu suka menulis. Kamu hanya perlu mencoba membaca lagi, agar seimbang. 

   Kita solat wajib, kita juga senang kalau salat duha, alangkah lebih sempurna, kalau sebelum dan sesudah solat wajib pun kita lakukan. Semua bisa, kalau terbiasa, dan pelan. 


     Aku membuat ini, bukan semata karena aku sudah baik pola kebiasaan ku setiap hari. Tapi ini bisa diistikamahkan dan diikhtiarkan saat Ramadan. Mulai aja dulu. 

    Betapa nikmatnya salat sunnah, dan tadarus setiap hari. Betapa sempurnanya dunia kalau mau tidur baca buku, kemana-mana pegang buku, dan menuju tidur juga melihat buku apa lagi yang harus didengarkan reviewnya. Aduh! Aku sadar kebiasaan baik ini sebenarnya memang baik, tapi ya namanya manusia, suka khilaf dan banyak nantinya. Astaghfirullah. 

Entahlah, aku pun bingung harus menuliskan apa. Aku paling takut sebenarnya kalau membahas kebiasaan.


#tautannarablog6

#day8

Komentar

  1. "paling takut kalau membahas kebiasaan" exactly relateee banget smuanya wkwk.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...