Langsung ke konten utama

Seandainya Tren Halo Kids Ada Follow-Upnya

Entah latah, entah cuma penasaran dengan tren yang ada, atau apalah, intinya adalah kalau ga ikut tren yang sedang berkembang, bukan kita namanya. Gapapa. Wajar.

Tren yang satu ini, Halo Kids.

      Uniknya, semua kalangan, jadi ikut. Bahkan aku pernah liat anak SMP udah buat tren itu. Wajar wajar aja, itu memang budaya latah kita. Ada apa-apa diikutkan. Yang paling tidak boleh selalu diwajari adalah, ketika konten viral berkonotasi negatif pun terikuti. Joget-joget, pakai musik yang ga tau maknanya apa, menjatuhkan marwah sebagai perempuan, merendahkan, hoax, banyak lain hal.

Seandainya, Halo Kids bukan cuma tentang konten. Tapi tentang isi, dan follow upnya.

      Awalnya terharu melihat beberapa konten itu, lama kelamaan risih. Karena isinya lebih banyak tentang mama masih cari bapakmu. Hem.

Ya mungkin hal romansa memang selalu diminati kali ya. Haha.

        Terserah, gakpapa. Aku cuma berharap apa yang kita buat kemarin, baiknya ada follow upnya. Dari segi ada suami/istrinya, dan segala persiapannya.

Ini ummi yang lagi fokus cari duid

       Coba kalau isi Halo Kids membahas tentang kurikulum belajar menjadi orangtua. Mulai dari pola asuh anak usia ke usia, persiapan sebelum dan setelah anak lahir, kesiapan mental menjadi orangtua dan pasangan. Pemahaman agama yang juga sangat dibutuhkan untuk menjadi orangtua. Begitulah. 

Pengandaian yang berlebihan? 

Ya begitulah. 

Namanya juga berandai. 

Halo kids. This is ur ummi. Yang masih belajar gimana menjadi orangtua yang baik dan berekspektasi baik menjadi orangtua yang baik untukmu, orangtua yang menjadi idola, dan yang bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga kita. Do'akan ummi dan abi kelak benar-benar bisa jadi orangtua yang bisa mengajarkan banyak ilmu agama untukmu, ya. Selamat lahir ke dunia.

Mendadak jadi mau nunjukin tulisan ini ke anak kelak. MasyaAllah aamiin. 

Semoga lain kali, jika tren ini viral lagi, kita bisa lebih fokus pada apa yang kita sampaikan, kita cita-citakan. Semoga tujuannya memang untuk bermanfaat dan jadi bahan canda di kemudian hari di keluarga. Bukan cuma asal ikut aja. Seakan kalau ga ikut trennya kita jadi si paling ga trendy hem. 

Semangat calon istri, calon suami, calon orangtua, dan calon mayit. Allahhu a'lam bishawab. 


#tautannarablog6

#day6





Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...