Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.
Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.
Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.
Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan.
Tapi,
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13)
Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan".
Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak mau merepotkan banyak orang.
![]() |
| Tulisannya kok blur ya🙏🤣 |
Aku punya hal sederhana, yang mungkin bisa jadi pertimbangan ketika kita mau bersikap. Diambil dari beberapa kutipan buku, pengalaman pribadi yang terus saja memaklumi kebandalan diri sebagai perempuan, dan pengalaman pribadi di lingkungan.
Pertama, Iya-Iya, Enggak-Enggak
Jika ditawarkan ini dan itu, jawab aja dengan tegas. Iya atau tidak. Aku orang yang plin-plan, dan sebenarnya orang seperti aku ini cuma butuh dibantu untuk memutuskan keputusan.
Kita perempuan, plin-plan yang berlebihan, benar-benar merepotkan banyak orang. Bukan cuma pasangan, bahkan teman kita, rekan kerja kita.
Kedua, Terserahnya Benar-benar Terserah
Paham? Pasti tanpa ku jelaskan kita udah langsung sekoneksi. Karena kita perempuan, aku tau kau sebenarnya bilang terserah karena memang bingung kan? Bukan karena gengsi mau bilang ini dan itu.
"Mau kapan?"
"Terserah"
"Yauda besok ya"
"Besok belum bisa, jumat aja"
Maksudnya gimana? Dia bertanya karena dia menawarkan keputusan waktu di kamu, tegas!
Atau,
"Mau makan apa?"
"Terserah"
"Oke, aku beliin nasi semur ya"
"Okeee"
Udah! Clear urusan perbingungan! Terserah lah yang benar-benar terserah. Jangan bikin pusing.
Jangan selalu berlindung di balik kata, "Gak perempuan namanya kalau gak terserah". Cukup!
Ketiga, Kalau Salah Minta Maaf! Bukan Diam Minta Dia Datang Dan Bujuk Manja
Ini Cewek Itu Pernah Salah, Bisa Diem Gak?Tulisan ini mungkin ditulis ketika aku lagi kesal kesalnya dengan claim Perempuan Gak Pernah Salah. Seakan, perempuan boleh membuat kesalahan, dan tidak boleh menyebutkan itu adalah kesalahan. Syalan! Aku bahkan sering berdebat dengan seorang teman karena dia bilang dia perempuan, dan sering bilang wajar, namanya perempuan. Harus dan terus, aku lagi-lagi membujuk dan meminta maaf duluan. Heran sih, tapi yaudah.
Ditanya bagaimana menaklukkan perempuan, aku juga gak tau. Ada yang sangat suka dengan pujian, bujukan, atau semacamnya. Ada yang suka cuma dengan perhatian dan kepekaan. Kuncinya, doa baik-baik, agar Allah mudahkan bagaimana pertemuan kita nanti bersama pasangan, atau teman perempuan kita yang lain. Doa baik-baik, minta disadarkan Allah, biar tau kelakuan kita harusnya diperbaiki.
Sehat-sehat perempuan perempuan hebat ku dimanapun kalian❤ Kita sama, sama sama perempuan, yang memang sedang butuh diperhatikan dan pengertian ❤
Kita perempuan, kita rumit. Tapi jangan berlebihan, dan jangan terlalu merepotkan. Paham?
#tautannarablog6
#day3


Setujuu
BalasHapusSetuju bangettt
BalasHapus