Hidup sudah repot, jangan nambah merepotkan dengan menganggap semua hal bikin kesal.
Sesederhana kamu diucapkan terima kasih oleh orang yang telah kamu bantu, pun kamu sudah sangat bahagia. Sesederhana kamu ditanyai kabar oleh teman lama, pun kamu udah bahagia. Sesederhana pesanmu dibalas dengan panjang, pun kamu udah bahagia. Tapi, kamu mengutamakan kesal yang pertama. Ah ya sebut saja dengan suudzon.
"Iya sih dia bilang makasih. Tapi kenapa ga ada tuturnya, makasi ya dek gitu kek. Ini cuma makasih aja"
"Hem nanya kabar, pasti ada maunya ini"
"Ya harusnya dia balas tadi malam. Masa tunggu pagi gini baru dibalas"
Hal-hal kecil, mencabang, yang pada akhirnya menepis rasa bahagia dan syukur itu.
Tersulut emosi, ada benarnya.
Terlalu menuruti hawa nafsu, ada benarnya.
Terlalu terbiasa memikirkan buruknya daripada memikirkan sudut pandang lain, bisa jadi.
Sampailah, jadinya penyakit hati yang terbiasa. Apa-apa yang harusnya menjadi bahan syukur, malah jadi pelampiasan emosi. Ada-aja yang bisa dijadikan babas emosi. Allah, ya Rabb.
Aku bersyukur, setiap bulannya bisa menerima paket buku baru, aku membeli saat menerima gaji. Satu fiksi satu nonfiksi.
Harusnya hari itu aku ucap Alhamdulillah, masih bisa beli buku dan menerimanya langsung. Tapi yang ada aku malah menggeram karena buku yang sampai hanya 1. 1 lagi habis stok, dan admin tidak memberi kabar.
Memang benar mereka ada salahnya, tapi paling tidak harusnya aku memakai beberapa step untuk memproses kecewa ku. Dengan bersyukur dulu ada buku baru, tabayun, dan order ulang. Sebenarnya sudah cukup, yang ada aku malah marah-marah sendiri, menggerutu sendiri, padahal itu tak mengubah apapun.
Jelas, aku merepotkan diriku sendiri. Memancing amarah sendiri. Padahal ada terbesit perasaan sangat senang karena buku yang ku idamkan sejak lama sudah sampai di tangan.
Untuk bahagia, sebenarnya apapun bisa jadi bahan bahagia. Tergantung bagaimana kita meresponnya, dan dari sudut pandang mana kita melihatnya.
Jujurlah, sampingkan gengsi. Sebenarnya kau bahagia kan? Sesederhana aku mengirimmu pesan singkat.
Sudah, ini becanda.
Yang serius itu cuma kita ketika sudah bisa bersama.
#tautannarablog6
#day9

🤩🤩🤩
BalasHapus