Langsung ke konten utama

Jangan Gengsi, Kalau Bahagia Ya Bahagia Aja

 Hidup sudah repot, jangan nambah merepotkan dengan menganggap semua hal bikin kesal.

           Sesederhana kamu diucapkan terima kasih oleh orang yang telah kamu bantu, pun kamu sudah sangat bahagia. Sesederhana kamu ditanyai kabar oleh teman lama, pun kamu udah bahagia. Sesederhana pesanmu dibalas dengan panjang, pun kamu udah bahagia. Tapi, kamu mengutamakan kesal yang pertama. Ah ya sebut saja dengan suudzon.

"Iya sih dia bilang makasih. Tapi kenapa ga ada tuturnya, makasi ya dek gitu kek. Ini cuma makasih aja"

"Hem nanya kabar, pasti ada maunya ini"

"Ya harusnya dia balas tadi malam. Masa tunggu pagi gini baru dibalas"


Hal-hal kecil, mencabang, yang pada akhirnya menepis rasa bahagia dan syukur itu.


Tersulut emosi, ada benarnya. 

Terlalu menuruti hawa nafsu, ada benarnya.

Terlalu terbiasa memikirkan buruknya daripada memikirkan sudut pandang lain, bisa jadi. 

Sampailah, jadinya penyakit hati yang terbiasa. Apa-apa yang harusnya menjadi bahan syukur, malah jadi pelampiasan emosi. Ada-aja yang bisa dijadikan babas emosi. Allah, ya Rabb.

Aku bersyukur, setiap bulannya bisa menerima paket buku baru, aku membeli saat menerima gaji. Satu fiksi satu nonfiksi.

    Harusnya hari itu aku ucap Alhamdulillah, masih bisa beli buku dan menerimanya langsung. Tapi yang ada aku malah menggeram karena buku yang sampai hanya 1. 1 lagi habis stok, dan admin tidak memberi kabar. 

   Memang benar mereka ada salahnya, tapi paling tidak harusnya aku memakai beberapa step untuk memproses kecewa ku. Dengan bersyukur dulu ada buku baru, tabayun, dan order ulang. Sebenarnya sudah cukup, yang ada aku malah marah-marah sendiri, menggerutu sendiri, padahal itu tak mengubah apapun. 

 Jelas, aku merepotkan diriku sendiri. Memancing amarah sendiri. Padahal ada terbesit perasaan sangat senang karena buku yang ku idamkan sejak lama sudah sampai di tangan.

Untuk bahagia, sebenarnya apapun bisa jadi bahan bahagia. Tergantung bagaimana kita meresponnya, dan dari sudut pandang mana kita melihatnya.

Jujurlah, sampingkan gengsi. Sebenarnya kau bahagia kan? Sesederhana aku mengirimmu pesan singkat. 


Sudah, ini becanda.

Yang serius itu cuma kita ketika sudah bisa bersama. 


#tautannarablog6

#day9



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...