Lalu aku membaca ulang pesan itu.
"Aku mau ngobrol sama ni orang tiap hari di rumah ya Allah".
Tidak, kau tidak dengar. Karena aku hanya berteriak dalam hati. Lagi pula, kau tak tau apa yang kulakukan di sini.
Seseorang pernah bertanya, kalau kau jatuh cinta biasanya apa yang terjadi?
Aku menjawab santai, sambil membayangkan wajah seorang yang samar; entah siapa. Wajahnya kosong.
"Saat di dekatnya, aku ingin berlari sejauh-jauhnyanya, berteriak dan mengenalkan ke dunia, aku orang paling bahagia di dunia. Saat ia berbicara dan bertanya pendapatku, aku ingin bersembunyi segera menyembunyikan wajahku yang terlanjur malu karena tak dapat menahan senyum. Dan saat dia mengirim pesan, dunia seakan penuh bunga."
"Sebegitunya?" tanyanya sambil tertawa kecil. Mungkin dia geli mendengar penjelasanku.
"Terlalu lebay ya? Intinya itu, aku mau dekat sama dia, tapi apalah aku?" Dia terdiam, mungkin mencoba menafsirkan kalimatku.
Jatuh cinta memiliki versi berbeda dalam menyikapi. Seperti yang kutau sendiri, aku menuliskan ini ketika aku sama sekali tak sedang mencintai siapapun. Tapi, bukan berarti aku tak pernah menyukai seseorang, kan? Anggaplah aku sedikit berpengalaman. Yash! Thankyou.
Kamu merasa pernah menyukai seseorang, dan tak tau harus ngapain? Cuma diam, dan berharap dia tau kalau kamu suka sama dia.
Atau kamu menyukai seseorang, tapi kamu sudah semaksimal mungkin memberi beribu kode, pun tetap dia diam. Mungkin lebih baik pura-pura tak tau, daripada dia harus dengan kasar bilang, 'Anda mengganggu, bisa menjauh aja ga?'.
Baik, mari.
Kamu, hebat.
Kamu, gak salah.
Namanya juga perasaan, bisa ke siapa aja, dengan beragam macam alasan. Entah poin apa dan keberapa, pokoknya kamu mau dia, ya tetap dia.
Cuma sebebas-bebasnya dalam berperasaan, kamu ga berhak bebas melakukan banyak tindakan apapun-apalagi yang menunjukkan kalau kamu si bodoh yang malang.
Shtttt!
Tapi sebentar, untuk apa pula aku jelaskan soal ini? Sudah dewasa, dan sudah tau baik buruknya, masa aku harus bilang ini lagi?
Huft! Maaf.
Aku pun akan tetap ingat, eh kita. Kita harus tetap ingat.
Sebanyak apapun orang melarangmu bertindak, se beribu kata pun orang mengingatkan agar berhenti, kamu tidak akan pernah berhenti ketika lelah sendiri kan? Hum. Patut sebenarnya, toh dikatakan lelah, entah kapan lelahnya.
Yasudah, kejar sana.
Lewat jalur doa atau ke orangnya langsung.
Ditolak?
Diremehkan?
Disuruh menghindar?
Disuruh cari yang lebih baik?
Haha
Belum nyerah juga?
Oiya balik ke prinsip awal.
Kamu akan berhenti sendiri sampai lelah.
Walau entah kapan lelahnya.
Sudah ya, jangan banyak basi basi, banyak drama, banyak cerita, banyak khayalan dan harapan, padahal usaha nol. Sekalinya usaha 1000%, malah bertepuk sebelah tangan.
Aku tak melarang kalian berhenti, aku cuma mau bilang,
Sudah dewasa, sudah tau menyikapi perasaan sendiri harusnya bagaimana.
Sudah pandai dan bijak, bagaimana harusnya hati berlabuh dan usaha yang dilakukan.
Sudah besar, pasti lebih bijak kapan waktu yang tepat untuk berhenti, walau sudah jelas berhentinya hanya ketika lelah saja. Walau entah kapan lelahnya.
Baik! Lanjutkan.
#tautannarablog6
#day5

Aww awww
BalasHapus