Langsung ke konten utama

Bawa-bawa Mental, Udah Solat Belum?

Tersinggung gak yah ada tulisan kaya gini muncul?

Enggakkan ya? Pelan-pelan aja ya, bismillah.


"Aku itu punya sakit kecemasan, aku khawatiran, aku gemetar"

"Uda pernah periksa belum?"

"Belum"

"Oke"


"Ini semua bukan salahku, aku memang gini orangnya. Harusnya dia bisa beradaptasi"

"Iyaiya, jadi bukan kamu yang harusnya beradaptasi?"

"Aku udah gini dari dulu, mau gimana lagi?"

"Oke, baik"


"Mentalku udah makin buruk, aku gak bisa kayak gini terus. Masalah makin bertubi-tubi"

"Nanti solatmu lagi berantakan? Coba perbaiki"

"Bisa gak solusinya jangan solat solat solat. Seakan akan aku gak solat. Hargai mentalku. Kau gak tau gimana jadi aku"

"Ooh, iyaiya. Maaf".


Begitu seterusnya. 

Seakan, membawa-bawa agama sebagai solusi, adalah suatu kesalahan. 

Seakan-akan, menanyakan bagaimana keimanan seorang teman beberapa hari belakangan, adalah suatu kebodohan, yang sama sekali tak boleh dilakukan. 

Seakan-akan, isu mental adalah nomer satu, dari segala isu.


Baik, tak apa.

Aku tau, kondisi mental orang berbeda-beda, aku tau sikap orang menghadapi masalah berbeda-beda. Aku juga pernah, merasa hidupku hancur berantakan, mentalku sakit, terluka berkeping-keping, dan sebegitu sensitifnya ketika diberi solusi untuk kembali ke Allah. 

Sudah janji Allah untuk menurunkan beban di pundak kita (QS. Al-Insyirah:2). Jadi, kenapa harus jadi si paling tau merasa masalah kita adalah yang paling berat? 

Pelan-pelan, jangan langsung ambil hati bagaimana buruknya aku menilai, aku juga pernah ditegur seorang teman jurusan terkait karena pernah membahas ini, ia ingatkan, tak semua orang bisa diberi solusi untuk solat dan memperbaiki hubungannya dengan Allah, di tengah badainya masalah ia. Jadi, aku coba pelan menuliskannya.


Kita semua punya masalah, yang membedakan adalah bagaimana menyikapinya. Janji Allah itu pasti, "Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan," (QS. Al-Insyirah: 5).


Sehat-sehat, tetap semangat. 

Kita cuma butuh solat. 

Lelah-lelah kita healing jauh, mencari jati diri, menyelesaikan masalah dengan proses berpikir yang lama, ternyata kita hati kita sedang kosong, dan sudah lama tak tenang karena bacaan Quran. Allahhu a'lam bissawab. 


Hamasah. 


#tautannarablog6

#edisikaget

#day14

Komentar

  1. Sudah solat aja belum tentu mental aman. Apalagi gak solat? Astaghfirullahadzim😔

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...