Langsung ke konten utama

Untukmu Yang Selalu Butuh Validasi

 Tentang orang yang suka dengan validasi, atau diakui di segala situasi, aku gak akan menyalahkan kalian, aku juga gak akan memberi hate komen ke kalian, karena pada dasarnya, itu kehidupan masing-masing orang dan cerita di balik itu, akupun tak tau. Tapi, serius, ini kutulis karena aku tau hal itu tak selamanya baik.


Aku pernah, merasa usahaku gak dihargai.

Aku pernah, merasa apa yang aku lakukan harus diakui banyak orang.

Aku juga pernah, merasa sangat butuh pengakuan dari beberapa orang tentang apa yang udah aku raih.

Tapi, suatu ketika aku juga langsung tersadar, hidup dengan berharap banyak dari pengakuan, itu melelahkan.


Kenapa melelahkan? Justru hal yang melelahkan itu tidak diakui ketika aku udah ngasih yang terbaik!!

Sebentar, coba ingat-ingat lagi. Seberapa sering kita menanti orang untuk mengakui bahwa kita itu bisa. Kita itu mampu melakukannya. 

Seberapa sering kita kecewa, karena ternyata apa yang kita harapkan dari orang tersebut, malah tak kita dapatkan. 

Seberapa sering kita sedih, karena hal-hal yang harusnya diakui, malah tak diakui sama sekali. 

Pada akhirnya, kita bukan bersyukur lebih dulu karena kita bisa.


Aku Bukan Minta Validasi, Aku Cuma Mau Mereka Tau. 

Lalu, setelah tau, mau apa? Cukup sampai di situ?

Kurasa iya, memang sih cukup sampai di situ, hanya ingin orang tau, tapi kalau kamu rupanya berharap orang-orang itu memberi kata-kata baik ke kamu, semangat positif, dan memberi pujian yang bikin kamu makin bersemangat. Gimana? 

Kurasa juga iya, kamu berharap demikian, tapi sayangnya. Kita ga pernah tau kan, apa yang orang lain pikirkan tentang kita? Kamu gak akan tau, itu raut wajah apa. Mengartikan dia benar-benar mendukungmu, atau dia hanya memasang wajah itu cuma di depanmu. 

Hanya karena, kamu ingin dia mengakui banyak hal tentangmu.

Sekali lagi, aku gak menyalahkan orang-orang demikian. Aku cuma mengingatkan, itu tak selamanya baik. 

Jangan selalu merasa kamu tak bisa melanjutkan aktivitas tanpa validasi orang lain, coba aja dulu. 

Aku benar-benar gak tau, apa yang udah kamu alami sejauh ini, aku juga ga tau, apa dampak yang kamu rasakan ketika mendapat validasi, dan ketika tidak dapat, tapi yang kutau apa apa yang berlebihan itu gak baik.


Disuatu tempat kita di lempar, sifat yang seperti ini entah jadi apa di lingkungan nantinya. Apalagi ketika kamu gak mau lagi melakukan hal itu, karena kamu gak dapat pengakuan yang menurut kamu berarti. Aku cuma ingatkan, kita benar-benar gak tau sifat manusia gimana. Selagi bisa apresiasi diri sendiri, apresiasi. Selagi bisa mengakui kebaikan diri sendiri, akui. Selagi bisa melihat kesalahan dan kelebihan diri sendiri, lihat, dan perbaiki. 


Dan jangan lupa, ada yang benar-benar menyayangi kita. Sudah tervalidasi. Semangat! 

“Kabarkanlah pada para hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih”. (Q.s. Al-Hijr: 49-50).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...