Lu berani sama anak-anak doang lu ya!
Salah target ibukkkk.
Oke, namanya Buk Cici, rumahnya jarak 1 rumah dari rumahku. Suaminya Bang Kusen. Wajahnya serem, badannya besar, tangannya kecil udah stop ini bukan mau ngajak nyanyi.
Buk Cici ini rambutnya pendek, kalau mengaum yang lain langsung mundur, ini bener. Karena mukanya emang serem.
Tau siapa yang paling ditakuti anak-anak Pulo Jantan itu?
Buk Cici dan Bang Kusen. Mereka ni perpaduan yang oh no, kalau zaman sekarang aku bisa bilang mereka couple goals lah.
Jadi, dari kesekian banyaknya momen, gengku ini (Isma, Windy, Wiwin), uda kesel maksimal ke Buk Cici ini. Karena kami sering direpetin, entah salah apa tapi kayaknya salah terus. Aku sebagai ketua geng (oh ini cerita geng wajib ada), paling gak suka anak-anak usia kami ini tertindas.
Oke, aku mulai ajak Windy, untuk atraksi.
Kami berdiri tepat di depan jendela kamar Buk Cici. Dulu perasaan tinggi banget tu jendela, sekarang kalau lewat situ, ya Allah, ini mah sependek usia cintaku padamu aww cih.
Kami memegang batu masing-masing. Banyak pastinya.
Ini hari pertama ceritanya.
Mulai!
Satu batu
Dua batu
Ntah berapa batu akhirnya bisa masuk ke jendela kamar itu. Bahagia rasanya.
Lupa kejadiannya gimana. Intinya di hari berikutnya eh ga berikutnya kali sih, pokoknya ada jaraknya, kami pun bawa pasukan lain. Yaaa terkumpul total 4 orang kamilah.
Melemparin batu ke jendela kamar Buk Cici, gokil! Bahagia banget! Sampek akhirnya kami lari-larian karena ada suara yang teriak. Intinya nyuruh kami berhenti.
Udah deh selesai.
Pesannya apa?
Jangan mau menindas anak kecil. Karena yang kecil belum tentu terima-terima aja ditindas.
________________________
Sayang Buk Cici, ternyata pas uda gede dikit, liat Buk Cici pindah rumah jadi sedih.
Ah karena cerita Buk Cici, aku jadi malu sama diriku yang sekarang wkwkwk. Dulu tukang berontak dan bertindak kalau ada yang ngusik. Sekarang kok diam aja berdalih, "aku yang salah", ya? Wkwkwkwkwk
Komentar
Posting Komentar