Langsung ke konten utama

Cerita Masa Kecil#2 Lempar Batu ke Kamar Musuh Anak Kecil

Lu berani sama anak-anak doang lu ya! 

Salah target ibukkkk. 


Oke, namanya Buk Cici, rumahnya jarak 1 rumah dari rumahku. Suaminya Bang Kusen. Wajahnya serem, badannya besar, tangannya kecil udah stop ini bukan mau ngajak nyanyi. 

Buk Cici ini rambutnya pendek, kalau mengaum yang lain langsung mundur, ini bener. Karena mukanya emang serem. 

Tau siapa yang paling ditakuti anak-anak Pulo Jantan itu? 

Buk Cici dan Bang Kusen. Mereka ni perpaduan yang oh no, kalau zaman sekarang aku bisa bilang mereka couple goals lah. 

Jadi, dari kesekian banyaknya momen, gengku ini (Isma, Windy, Wiwin), uda kesel maksimal ke Buk Cici ini. Karena kami sering direpetin, entah salah apa tapi kayaknya salah terus. Aku sebagai ketua geng (oh ini cerita geng wajib ada), paling gak suka anak-anak usia kami ini tertindas. 

Oke, aku mulai ajak Windy, untuk atraksi. 

Kami berdiri tepat di depan jendela kamar Buk Cici. Dulu perasaan tinggi banget tu jendela, sekarang kalau lewat situ, ya Allah, ini mah sependek usia cintaku padamu aww cih. 

Kami memegang batu masing-masing. Banyak pastinya.

Ini hari pertama ceritanya.

Mulai! 

Satu batu

Dua batu

Ntah berapa batu akhirnya bisa masuk ke jendela kamar itu. Bahagia rasanya. 

Lupa kejadiannya gimana. Intinya di hari berikutnya eh ga berikutnya kali sih, pokoknya ada jaraknya, kami pun bawa pasukan lain. Yaaa terkumpul total 4 orang kamilah. 

Melemparin batu ke jendela kamar Buk Cici, gokil! Bahagia banget! Sampek akhirnya kami lari-larian karena ada suara yang teriak. Intinya nyuruh kami berhenti. 

Udah deh selesai. 


Pesannya apa? 

Jangan mau menindas anak kecil. Karena yang kecil belum tentu terima-terima aja ditindas. 

________________________

Sayang Buk Cici, ternyata pas uda gede dikit, liat Buk Cici pindah rumah jadi sedih. 

Ah karena cerita Buk Cici, aku jadi malu sama diriku yang sekarang wkwkwk. Dulu tukang berontak dan bertindak kalau ada yang ngusik. Sekarang kok diam aja berdalih, "aku yang salah", ya? Wkwkwkwkwk



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...