Langsung ke konten utama

6# AHLI IBADAH KAYAK MEREKA

 


Ala bisa karena biasa. 

Ala bisa karena terpaksa. 


Mau pake prinsip yang manapun, intinya tetap sama. Dan ya, mau ngobrolin tentang mereka. Yang kalau ditanya hobinya apa jawabnya baca Quran, yang kalau ditanya mau kemana, jawabnya solat, yang kalau ditanya kenapa gak ikut jawabnya ada kajian, yang kalau ditelpon gak diangkat, pas didatangi ternyata lagi fokus doa ke Allah. (Gak ke semua hal ya. Jangan karena ini jadi gak bisa bedain mana yang beneran mana yang riya). 

Ahli ibadah udah pernah kuceritakan di blog sebelumnya. Singkatnya di tulisan ini, mau bangun kebiasaan apa, ya kaya mereka. Ibadah. 

Ahli ibadah yang bukan cuma nunaikan ibadah aja, pelepas kewajiban yang penting udah ibadah, tapi yang benar-benar ibadah lillahi taala, ketenangan, berkah, tentram, semua terasa setelah ibadah ke Allah. 

Mungkin kita pernah ya, udah ibadah terus sama Allah, ngerasa uda alim banget di depan Allah. Tapi hati keseringan gak tenang, ngerasa banyak beban, capek banget rasanya. 

Gak ada yang salah sih sebenernya, cuma cara kita aja mungkin yang salah. Apa solat cuma untuk solat? Di akhir waktu gas aja yang penting solat. Ngaji cuma untuk ngaji? Cepat-cepat gas terus yang penting ngaji. Sedekah cuma untuk sedekah? Ngasih makan orang yang butuh.

Ntahlah ya, kadang terlalu sering terjebak sama "maklum". Allah maklumnya ini, kenapa aku solat akhir waktu. Allah maklumnya ini kenapa aku sedekahnya ke dia, bukan ke bapak itu. Allah maklumnya ini, gituuuu terus. 


Coba aja sesekali dibalikin pertanyaannya. 

Kita maklum gak kalau Allah lagi ngasih teguran sama kita dengan masalah yang ada sekarang??


Udahlah.

#tautannarablog

#ngeblog6

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...