Langsung ke konten utama

SEJAK ADA KATA KENA MENTAL

Mau tak mau, kita masih akan terus mengaitkannya dengan pandemi. Ya memang, banyak istilah yang sebenernya enggak baru, tapi baru-baru aja dijadikan keseharian berbicara, berdiskusi, atau menggibah.

"Kena mental".

Lucu ya orang-orang sekarang, dijadikannya kata-kata ini sebagai bahan perlindungan diri, yang padahal udah jelas-jelas salah.

Sama, gak beda jauh dari kata baper.

Dalam kasus misalkan Sunarti bilang ke Sunarmi, "Eh lu bagus pake make up, tapi lebih bagus lu gak usah pake apa-apa. Kek ondel-ondel sebenernya". Nah, Sunarmi si manusia tanpa make up yang lagi coba-coba make up, langsung nunjukkan muka sedih, gak percaya diri, dan buru-buru mau hapus make upnya. Langsung dah tu Sunarti bilang, "Alah gitu aja baper. Digituin langsung kena mental". 

Wahai Sunarti, kamu gak tau kondisi teman mu gimana. Bisa-bisanya ya kamu langsung gituin dia. Iya kalau dia baper kenapa? Masalah di kamu apa? Iya kalau dia kena mental kenapa? Apa salahnya minta maaf?

Mungkin saya, atau pun kita yang pernah jadi pelaku, sering banget ngomongi temen kaya gitu, jadi pelajaran aja. Jangan ngulah lagi.

Kita si pelaku, bukan malah minta maaf tapi malah menjadikan teman kita korban yang harus menerima sakit yang bertubi-tubi.

Saya pernah kok digituin ke saudara saya, teman saya, "Gitu aja kena mental". "Kena mental kan Is? Itulah kau". "Gitu aja baper". Mereka gak tau apa ya, saya yang uda lumayan mati rasa ini, bodo amat sama semua hal, juga punya waktu di mana saya juga butuhnya tu orang diem atau minta maaf. Bukan malah balik menyalahkan atau merasa hebat dengan istilah itu.

Kalian bukan konselor, gak usah sok-sok ngasih semangat ke temen dengan kata-kata itu. Berdalih, "Yaampun digituin aja ngambek. Itu biar kau termotivasi loh". Shit! Kayanya yang harus diruqyah kalian nih bukan temen kalian.

Bukan ngasih solusi, atau jadi pendengar yang baik, malah makin nambahi masalah. Heee gak semua orang bisa secuek itu sama masalahnya atau omongan orang. 

"Jangan tanyain dia kapan wisuda. Nanti kena mental".

"Yaampun, baru juga ditanyain kapan nikah, udah kena mental".

"Mental aman, bro?".

"Kok bisa sih, digituin doang kena mental. Kan bener kata dia, kau harusnya nulisnya jangan banyak kritik pihak lain."

"Ah ga mau ah becandain lu, gampang banget kena mental."

Ada yang mau nambahi?

Coba ya, kalau jumpa adik-adik zaman sekarang (Lahiran 2004 ke atas), ajarin kalau betapa menyeramkannya kata-kata itu. Soalnya nih, malah banyak anak muda sekarang yang kayanya kurang etika. 

Oke mungkin pernah saya yang masih pernah digituin sama bocah, nah lu uda pernah belum? Kalau udah, siap-siap cari kata-kata paling friendly yang bisa langsung *makjleb ngena ke hatinya.

Mental, tetap kuat.

Saya tau kamu gak selemah itu, saya tau kamu cuma mau bereaksi sesuai apa yang kamu mau, cuma berketepatan aja mental kamu jadi beneran lemah karena omongan orang.

Semoga, kita jadi orang yang selalu meminta maaf.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...