Langsung ke konten utama

PAK BU GURU, MAAF. KEMARIN KHILAF

Karena ya memang siswa baik budi, dosa ke guru juga gak banyak-banyak kali (mungkin). Dan gak parah. Seperti masa kuliah. Tapi mau gimanapun, bukan seorang malaikat yang mencatat setiap amalan, apalah saya yang cuma manusia biasa penuh dosa ini ternyata masih punya ingatan bagus tentang sebuah nama, guru. Dan sebuah dosa, iya pasti dosa.

Kepada Ibu Faridah (walau ibu mungkin ga ingat saya). 

Ini dituliskan memang cuma untuk mengulang ingatan saya, jadi walau ibuk gak baca ini ya gak masalah, malah bagus. Duh gusti.

Bu, sejujurnya dulu di kelas 3, saya dan sebangku saya (Liya), sering izin ke kamar mandi kalau ibuk masuk, mata pelajaran TIK dan Biologi. Sebenernya kami duduk di kantin, beli jajanan, makan indomi, minum teh pucuk, kami duduk di sana berlama-lama buk.

Waktu ibu nanya kok lama kali, dan mulut Liya atau saya merespon cepat "buang air besar bu", itu tipuan semua bu. Astaghfirullah.

Awalnya coba-coba kok makin lama makin enak, nagih jadinya buk. Maaf ya. Itu Liya yang ngajak, walau saya sering ngajak juga. 

Lambat laun, kok temen-temen yang duduk di belakang (Ika), atau Elen, suka jadinya ngajak saya keluar waktu pelajaran ibu, jadi ya gak nolak saya buk untuk ikut ke kantin. 

Kepada Bapak Mukhtar

Pasti saking seringnya bapak menghukum siswa terlambat, bapak gak pernah ingat siapa aja manusianya. Pak, saya orangnya. Saya pak.

Saya selalu terlambat, semua hukuman udah pernah terjalankan. Ngepel lantai teras kelas 11 dari ujung ke ujung? Udah pak. Nyuci WC guru, WC siswa, langganan saya pak. Ngutip sampah keliling lapangan? Cabut rumput liat di dekat lapangan futsal? Bersihin musola? Yaampun, saya pak orangnya.

Ngepel ruangan guru, bersihin debu-debu nakal ruang kepsek, pak, saya berpengalaman pak. Sampai bapak pernah bilang, "kau terlambat lagi, besar nanti jangan jadi OB kau ya". Yoshhhh.

Sejujurnya, di balik senyum pasrah saya, saya selalu mengutuk bapak:) ngatain bapak, gosipin bapak, doain bapak sakit, ya Allah. Ampun pak ampun.

Saya terlambat juga ga tau kenapa. Natural aja keknya pak. Siswa baru bukan jadi penghalang saya terlambat kan pak. Walau saya agak bersyukur, keterlambatan saya diwajari oleh teman-teman karena rumah yang jauh. Jadi agak tenang, dan tertutupi sama seorang teman (Karlina) yang rajin banget terlambat, berhubung rumahnya gak jauh banget sama sekolah.

Intinya pak, saya berdosa. Saya mohon maaf. Semoga bapak sehat selalu. Kutukan-kutukan itu, saya tarik lagi pak.

Apalagi ibuk Leli, yang pernah mukul bokong saya pake rotan, dan narik jilbab saya dari belakang sampai keliatan sexynya jidat saya, karena terlambat masuk barisan upacara. Saya mohon maaf bu, ibu juga sudah saya maafkan.

Terakhir, semua guru-guru saya sejak TK-SMA yang selama ini suka saya gosipin, jelek-jelekin, dan yang pernah saya tipu. Maaf. Saya sudah mengaku, walau bahkan saya tak mengirim ini ke kalian. Wkwk.


#hukumankawalan #tautannarablogmei #ngeblog6

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...