Langsung ke konten utama

(BUKAN) TUKANG SONTEK (Flashback 14hari)


Masih bercerita tentang kita, si manusia yang pernah menduduki bangku sekolah (baca: bukan kuliah). 


Pasti pernah menyontek kan? Hayolo ngaku.


Mungkin si ga semua ya pernah nyontek, tapi pun kalau pernah, saya percaya kita semua terpaksa ngelakuin itu haha. Perbuatan jahat.


Alhamdulillah masa sekolah saya, cuma beberapa kali menyontek. Sebelumnya pahamlah ya, ini cerita soal Isma yang dulu, bukan yang sekarang.


Dulu punya visi untuk jadi siswa yang percaya aja gitu sama jawaban sendiri, sekalipun gak bener-bener banget, yang penting percaya aja dulu. Misinya? Ya jangan nyontek. Pokoknya paling takut nyontek, takut dosa, takut bodoh, takut kebiasaan.


Pernah suatu waktu kelas 3 SMA, udah mulai males ngerjain tugas, nyontek lah ya pada akhirnya. Ternyata jawabannya banyak yang salah. Dan nilainya juga rendah, gak biasanya gitu. Pas liat soalnya betul-betul, loh eh kok soal begini aja salah? Sial, semangat nyontek biar mempermudah urusan, malah jadi nyesel. 


Bahkan waktu ujian sekolah, mindset "haramnya menyontek" tetap diterapkan. Pada akhirnya nilai ujian saya paling rendah, wkwkwk.


Apa dampaknya dapat nilai biasa aja tapi dengan jerih payah sendiri? Dampaknya, setamat sekolah, jadi lega. Gak ada ngerasa berdosa banget, gak ada ngerasa nyesal. 


Sekarang? Nyontek itu bikin nagih!!

Kalau rokok bisa membunuhmu, fisika juga bisa membunuhmu loh! Membunuh prinsip-prinsip, visi-misi, mindset, yang dulu pernah diterapin pas sekolah.


Berbanding terbalik dengan masa sekolah, di masa kuliah seorang teman (Nadila dan Rahma), adalah manusia yang bisa bantu rakyatnya wkwk. Terima kasih ya!!


Sebenernya gini sih, saya orangnya dulu berpikir keras memahami soal dan harus menjawabnya, sekarang karena dah makin tua, pikiran makin banyak, yaudah di skip aja mikirin jawaban dari soal-soal itu haha.


Jangan dicontoh ya. Sontek lah jawaban teman dengan minta diajarin dan memahami jawabannya. Jangan asal liat. (Padahal kadang yang penting siap).


Apa yang kita kerjakan sekarang, terima konsekuensinya nanti. Bisa jadi di akhirat. Ya Allah maafkan mereka, eh maksudnya kami yang pernah nyontek.


#hukumankawalan #tautannarablogmei #ngeblog14hari

Komentar

  1. Aku masih nyontek pas kuliah, tapi kalo matkul bahasa arab doang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...