Langsung ke konten utama

RAMADANNYA SI BEBAN KELUARGA

Kata bijak yang entah di mana ditemukan berkata,

Semua orang ada masanya, dan sekarang masanya kamu menjadi beban keluarga. Bisa jadi besok pun masih sama. Semangat!

Tau kenapa ramadan jadi yang paling bikin orang Islam semangat?

Beda-beda versi dalam menjawab, bisa jadi selain karena pahalanya yang dilipat gandakan, adalah karena momennya yang juga gak ditemukan di bulan lain.

Momen?

Yap momen keluarga misalnya, tapi di sini kita gak cerita soal momen gimana tutorial keluarga saya berbuka puasa, sahur bareng, atau bukber di rumah saudara, bukan.

Lebih patut dikenang daripada itu.

Adalah nasibnya si beban keluarga.

Anak adalah anugerah, ya benar.

Anak pembawa rezeki, ya benar.

Anak adalah titipan Allah, ya benar.

Tapi, wahai anak. Sadar kan kalau selama ini yang ngabisin rezeki orangtua ya karena anak.

Wahai anak, sadarkan, orangtua nyari duit buat kuliah, tapi lu masih belum juga tamat, belum juga kerja.

Wahai anak, sedih kan lu pasti sibuk minta duit padahal duit baru dikirim, mirisnya lagi, banyakan jajan!

Wahai anak, oh wahai anak.

Skip.

Saya adalah contoh dari banyaknya beban keluarga. Yang ramadan tahun lalu puasa penuh di rumah karena pandemi datang tanpa berniat pergi.

Ada positifnya, ada negatifnya. Positifnya gak perlu bingung besok sahur pake apa, buka pake apa, gak pernah pusing soal uang, bisa tarawih di sana, tadarus bareng orang sana.

Kalau gak mager bisa nikmati sejuknya kampung halaman, bisa bantu mama beresin bukaan, walau ujung-ujungnya saya dimarahin karena saya selalu menunjukkan bahwa saya adalah orang paling capek di rumah itu.

Banyak hal.

Negatifnya? Sebenarnya sedikit.

Tapi nyelekit, dilupakan pun sulit.

Yaitu sodoran pertanyaan kapan wisuda.

Saya pikir 2021 di ramadan kali ini, pun saya bukan lagi beban keluarga. Tapi ya namanya yaudalah gimana lah ya.

Gak papa Isma, gak papa.

2021, kalau ditanya gimana puasa hari ini? Jawabannya hambar-hambar manis, hambarnya karena cuma berdua sama temen kos, manisnya karena makan telur ceplok pakai kecap. Ditanya kenapa gak pulang, bukan karena terlalu sibuk di Medan, ya karena menghindari pertanyaan kapan.

Semoga mama saya yang update nya kelewatan, gak baca cerita ini. Kalau pun baca gak papa, cuma mau bilang, pulang malu tak pulang rindu.

Baik saya ataupun kalian, yang maybe sekarang ngerasa jadi beban keluarga, semangat. Mau gimanapun ceritanya semangat. Puasa di kejauhan, puasa cuma pakai lauk seadanya, masih sibuk nyiapin ini itu, intinya semangat.

Oke baik, cukup sekali lagi mari hibur diri kita sendiri dengan, sebuah kata bijak, 

Semua anak ada masanya. Hari ini kamu beban keluarga, besok pun beban keluarga. (Mitamit)

#Ngeblogramadan

#Tautannarablog

#Blog1







Komentar

  1. Selama hidup tentu ada beban, but ini soal perspektif dan rasa syukur. Thanks for the writing kak,,, aku suka bacanya😊

    BalasHapus
  2. Semangat, memang selama masih hidup selalu ada hal yang mesti diselesaikan. Selama kamu tawakal dan berusaha skripsi selesai.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...