Sadar
gak? Kalau yang paling dekat dengan kita itu kematian. Dan yang paling mengenal
kita, itu Allah.
Sebelum
kita bercerita soal kesempatan hidup, coba kalian jawab pertanyaan ini dalam
hati, pertanyaan yang sering saya tanyakan untuk diri saya sendiri.
Apa saya pernah
membayangkan kalau saya mati?
Apa saya pernah mengalami
bahaya, kecelakaan, merasa sudah dekat dengan ajal, tapi saya masih hidup?
Apa saya sering
membayangkan jika saya di surga, dan di neraka?
Apa saya menjadi manusia
yang sering diam-diam mengingat-ingat keberadaan Allah?
Apa saya sering
bertanya-tanya sebenernya lebih banyak amal baik saya atau buruk?
Sudah
menjawabnya?
Sekarang,
simak cerita saya, kalau tak ingin, boleh langsung meloncat ke paragraph
terakhir.
Kelas 6 SD, saya pernah
dikejar dua anjing, anjing itu terkenal ganasnya, waktu itu pulang les di
sekolah, Cuma ada saya dan anjing itu di sekitar sekolah, saya pun akhirnya berlari,
sampai depan SD, teman saya sudah menyaksikan saya dikejar anjing.
Gak punya harapan, gak
punya solusi, gak ada pahlawan, saya pun langsung jongkong, dua anjing itu
sudah di sebelah saya, dan ayah saya datang, menjemput saya les. Tepat waktu,
pertolongan datang.
Kelas 1 SMA, saya jatuh
dari kereta, di perkebunan. Cuma sendiri, katanya saya diselamatkan dalam
keadaan pingsan, saat itu hujan, yang saya ingat, mata saya yang rabun ini gak
jelas melihat jalan, bangun-bangun saya sudah di rumah dengan di kelilingi
banyak orang.
Kepala saya sakit, kalau
bergerak saya muntah-muntah. Karena muntah yang berlebihan, saya dibawa ke
puskesmas, karena dianggap parah, wkwkwk. Saya dirujuk ke rumah sakit umum di
Rantau prapat. Saya masuk ruang ICU, dirawat selama dua minggu lebih, diinfus,
banyak orang berdatangan, banyak juga yang bawa makanan, sialnya saya gak bisa
memakan itu semu.
Saya Cuma berharap
sembuh, kepala saya yang sakitnya kelewatan akibat benturan batu, bikin saya
sudah merasa akan mendekati ajal. Setelah dirawat dengan baik, saya sembuh.
1 SMA, saya juga pernah
terhempas di jalan raya akibat anak SMA yang di depan saya tiba-tiba belok
kanan, saya yang lurus aja, tak dapat kode apapun darinya yang mau belok,
akhirnya dia dan satu teman saya terjatuh di pinggir jalan, posisi kami
bertabrakan, dan kereta saya tercampak jauh, saya? Saya pun heran, kenapa saya
bisa tercampak sangat jauh dari mereka, posisi di depan saya sudah ada mobil
yang melaju cepat, saat saya berdiri, baru dia melambatkan mobilnya.
Di zaman kuliah, banyak
kisah juga pastinya. Seperti tiba-tiba me rem kan sepeda motor, karena
tiba-tiba ada kambing di tengah jalan. Saya sesak napas di waktu sibuk-sibuknya
organisasi, da saya harus oksigen malam itu juga, malu memang, tapi, harapa
saya waktu itu Cuma sembuh.
Adapula kemarin, di jalan
perkebunan, saya melewati jalanan sepi itu dalam keadaan hujan deras, kaca mata
sudah makin tak kelihatan fungsinya, melewati jembatan kecil, saya seperti
orang yang aneh, karena setelah melewati jembatan itu, saya sudah hampir
tergelincir,dan itu sudah pasti seharusnyas aya tergelincir, tapi saya juga gak
sadar saya bisa lewat jembatan itu, saya diam, melihat jembatan kecil yang
licin itu, saya cuma berharap, itu bukan mimpi.
Atau perihal lain,
tentang bagaimana saya menolak dan menahan diri agak tidak minum obat penenang,
membatalkan diri agar tak bunuh diri dengan pisau, atau hal lain.
Banyak
hal, pentingnya apa saya bagikan soal ini semua? Kamu akan tau dan paham.
Tau?
Apa yang saya pikirkan selain berharap sembuh dari sakit, selamat dari musibah,
atau semacamnya? Adalah saya, berharap agar dosa saya diampuni Allah.
Ini
yang saya maksudkan di awal.
Sekarang,
atau saat sendiri, saya sering mengingat-ingat kalau Allah ternyata udah
berkali-kali kasih saya kesempatan hidup.
Padahal
selama ini, saya sering bilang What do I
live for. Tapi, ini rupanya jawaban. Kalau “Hey Isma, sadar gak sih, Allah itu maunya kau balik lagi dekat sama
nya, perbaiki ibadahmu, perbaiki hidupmu”.
Kamu
gimana?
Sudah
coba ingat-ingat, kapan kamu mau bunuh diri, atau diselamatkan Allah dari
musibah?
Itu
kesempatan hidup.
Tentunya
setiap kecelakaan yang terjadi, saya sering termenung dan menangis sendiri, kok
bisa saya masih hidup walau dengan kondisi detak jantung yang sangat kencang,
kok bisa saya masih hidup, padahal napas saya sudah sesak, tersengal-sengal,
kok bisa saya masih hidup padahal secara logika ‘mustahil’ untuk selamat.
Saya
yakin, kalian juga sering merasakannya. Tapi pernah kan, ngerasa, ‘ini karena
pertolongan Allah,’ Apalagi buat saya yang belum siap menjadi almarhumah ini,
dosa yang masih menumpuk, ketika diselamatkan dari musibah, masih bilang “kok
gak mati ajasih aku?” wah! Bener-bener manusia gak tau diri.
Ini
aja, mulai sekarang, ayo ingat-ingat lagi apa-apa aja hal yang kita rasa kalau
kita itu udah dekat sama ajal, tapi ternyata belum. Kalau saya anggap itu
semacam teguran Allah. teguran tentang ibadah saya yang harus dikencengi,
kehati-hatian saya berkendara, kehati-hatian saya bertutur, banyak hal.
Semangat
ibadah semangat berbenah, Allah masih mau lihat kita merindukanNya, masih mau
lihat kita nangis karena mengingat RasulNya, masih mau lihat kita bertobat.
Allah sayang kita, kita pun harus sama.
Selamat
menjalani kehidupan!
#Ngeblogramadan
#Tautannarablog
#Blog6


Komentar
Posting Komentar