Langsung ke konten utama

GARA-GARA BUDEK

Dari kecil saya bukan bangsa anak-anak yang suka main di masjid, apalah lagi kalau bukan fokus untuk ibadah(sehhhh). Iya saya serius, kalau orangtua banyak yang mau salat di dalam masjid, dan anak-anak pengennya di teras masjid, kalau saya tetap mau di dalam masjid. Tau kenapa?
Ya karena mama mantau. Pergi saya bareng mama, solat saya sebelah mama, pulang pun sama mama. Kalau mama gak solat, giliran saya bersama kakak saya, Erni namanya. 
Ya sering sih bareng tetangga juga, tapi tetep, saya gak main-main tuh di masjid.
Ada cerita tentang tarawih, waktu itu masih kelas 6 SD, berbekas karena malunya terasa sampek ke akar-akarnya. Saya dan Erni tarawih di masjid. Berhubung mau masuk ke dalam masjid tapi disuruh buibunya di luar aja, oke fix kami di luar.
Di teras masjid lah kami, berderet dengan anak-anak lain yang juga anak-anak seperti saya. Sebelah kanan saya ada si Erni, sebelah kiri saya ada wawak-wawak.
Saya tetap sama kayak bocah lain pada umumnya, mengetus "kapanlah siapnya". Atau berbisik ke Erni, "berapa rakaat lagi?" Terus dia bilang "ini terakhir".
Singkat cerita, kami berdua mulai curiga kalau imamnya adalah ayah kami. "Oh gaknya lama kali ini". Akhirnya terucap juga.
"Allahhu akbar". Sujud.
"Allahhu akbar". Duduk antara dua sujud.
"Allahhu akbar". Sujud.
Di sinilah bermula.
Hening
Hening
Hening
Hening
Hening
Mulai membayangkan hal-hal aneh agar tidak tertidur. Membaca semua surah pendek. Ayat kursi, banyak.
Tiba-tiba beberapa menit kemudian.
"Heee kau ngapain?" Suara Erni yang terdengar, bukan suara imam. Saya mengangkat tubuh ini, tasyahud akhir, dan lanjut salam.
Selepasnya, ternyata banyak sudah bocah sialan itu menertawakan, apalah lagi Erni dan wawak di sebelah.
"Kau ngapain?"
"Pulak suara imamnya pelan kali"
"Kau yang budek".
Diam.
Diam.
Sampai di rumah, Erni yang sudah terlanjur kasih tau ayak soal kejadian tadi, membuat saya jadi makin marah, dan akhirnya memarahi ayak.
Respon ayak singkat, "itu kan banyak korek.an kupeng".

Selesai.

#Ngeblogramadan

#Tautannarablog

#Blog2

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...