Langsung ke konten utama

CERITA ECCEDENTESIAST, KETAWA DI DEPAN, MURAM DI BELAKANG

 


Mungkin di sekeliling kita ada banyak orang yang terlihat baik-baik aja. Saking

sukanya ketawa, ngobrolin hal yang bagus-bagus, dan keliatan gak punya

masalah sama sekali. Tapi dari lubuk hati yang paling dalam, kita gak bener-

bener tau soal dirinya, kehidupannya, kita bisa nilai juga karena itu yang

keliatan. Bener?

Kalau istilah psikologinya, dikenal dengan Eccedentesiast, kondisi di mana seseorang lebih memilih diam, mendam, dan ya ngerasa ‘Im ok’, gak punya masalah gitu depan orang lain.

Kondisi ini sebenernya wajar, itu semua pilihan masing-masing orang. Kamu gak bisa maksain si temen untuk cerita tentang masalahnya, kamu juga gak bisa coba-coba menerka kenapa sih tu orang.

Atau maybe yes kamu malah orang yang selalu berprasangka, kenapa si kawan selalu ketawa, adalah dia yang banyak masalah. Secara umum, kondisi Eccedentesiast memang menyerupai, tapi dan tapi gak semua harus ditafsirkan gitu.

Bisa jadi temen kamu memang gak ada banyak beban hidupnya, atau lagi gak suka anggap sesuatu itu masalah yang harus banget dibahas. Dan ada pula yang sebaliknya, memang benar kalau misalnya kamu atau saya, adalah si Eccedentesiast yang dimaksudkan ini.

coba cek ke dirinya.

Tau gak, jawaban Gak papa itu Klasik sih, tapi gak papanya seorang temen bisa menimbulkan pertanyaan kan, ketika sikapnya yang periang tiba-tiba berubah jadi lebih murung, atau ketika sikap periangnya keliatan over banget, dan kebanyakan dari kita jawabnya, Gak papa. Gak ada masalah. Padahal, ada “I cant take it anymore” di balik gak papa itu tadi.

Nih juga tentang prasangka, saya termasuk orang yang sering dicurigai banyak masalah, karena saking seringnya ketawa. Kalian tau? Iya itu bener wkwkk. Saya mau jujur gini karena ya ini tulisan yang pastilah gak banyak yang baca, jadi selagi saya gak merasa terganggu, kejujuran itu gak masalah sih.

Terlalu banyak tertawa juga ternyata dapat menimbulkan kecurigaan orang, terlalu diam juga banyak menimbulkan kecurigaan orang, dan ya inila hidup.

Saya sering dibilang bertopeng, ya nevermind, memang iya! Tapi, kalian tau sebenernya ini juga demi kebaikan kalian wkwk. Kalau kamu orang yang juga Eccedentesiast, ngerasa gak sih, lebih penting untuk dijaga sendiri, daripada curhat sana curhat sini, sindir sana sini, galau ini itu.

Sebagian dari kelompok kami (Eccedentesiast) mungkin pernah berbagi cerita, memang ya dipeduliin seorang temen, tapi selalu ngerasa hey nobody knows. Kamu itu gak paham lo, kamu itu gak di posisi ini, solusimu gak masuk akal, kamu kok gak ngasi solusi, kamu gak harus banyak komentar, dengarkan aja, atau blablabla.

Ada banyak respon yang pengen banget sebenernya kita omongin. Dan ya, kalau ada yang bilang, jadilah diri sendiri, bukalah topengmu, atau mulai sekarang berbagilah, karena itu gak wajar, wah it wasn’t true. Kamu gak bener-bener tau!

Selain kita merasa gak enak untuk bebani kamu, kita juga kayak merasa ini gak layak sih dibagi ke kamu.

Btw makasih ya untuk perhatiannya yang entah itu tulus atau Cuma iseng, pedulinya yang bener-bener ikhlas atau Cuma karena penasaran, untuk solusi yang paling tepat atau yang Cuma sekadar asal bicara, untuk waktunya yang udah mau jadi teman cerita, terima kasih.

Kita, si kelompok Eccedentesiast, tulus berterima kasih. Mungkin kami yang terlalu banyak memikirkan hal-hal yang belum terjadi kalau kami cerita ke kalian, mungkin juga kami orang yang selalu merasa bodo amat sama masalah kami sendiri, atau bisa jadi kami terlalu merasa diri kami sendiri adalah solusi terbaik, tempat terbaik untuk berbagi, menyimpan rahasia dan masalah. Jadi, maaf kan kami.

Ohya untuk kamu yang memang merasa lagi gak baik-baik aja, tapi di depan bilangnya aman, gak ada masalah, semoga memang benar-benar bisa ngobati dirinya sendiri ya, jangan sok-sok kuat di depan orang, tapi ternyata kalau sendirian malah ngelakuin di luar kendali. Dan makin jauh dari Allah, wah yok-yok benahi.

Semangat, jangan lupa jaga kesehatan fisik dan mental.

#Ngeblogramadan

#Tautannarablog

#Blog4

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...