Langsung ke konten utama

Analogi Buka Bersama, dengan Hidup Bersama

Penting gak sih dibahas? Bisa jadi penting, bisa jadi sangat penting, bisa jadi sangat-sangat penting.

Terjadi Cuma di waktu Ramadan, ajakan buka bersama banyak diterima seorang muslim, contohnya kita. Atau bahkan malah kita yang menjadi penggeraknya? Gimana rasanya? Ada manis-manis pahitnya kan? Pasti.

Terjadi sekali seumur hidup, atau berkali-kali selama hidup, kebanyakan lelaki yang memulai ajakan untuk hidup bersama, sudah kenal sudah akrab, dianggap lebih mudah, tapi rupanya menjalani proses menuju sananya juga ada manis-manis pahitnya, apalah lagi yang baru kenal, manis pahi bercampur aduk. Benar? Pasti.

Kalau keduanya kita samai gak masalah kan? Semoga enggak, sih. Karena gini, ajakan bukber Cuma akan jadi angin lalu, atau kasarnya dengan ‘bacot’ kalau gak ada orang yang serius di dalamnya, dalam suatu kelompok pasti, paling tidak ada satu atau dua orang yang harus jadi penggerak.

Atau ada tiga empat orang yang serius pengen banget bukber, tapi dia Cuma mau ada kalau serius akan dibuat bukber, dia gak terlalu mau ambi pusing, yang penting dia fix. Gak perlu diragukan kehadirannya.

Keseriusan dari beberapa orang, akan bisa menepis kata-kata ‘Alah cakap aja’, ‘bukber? mustahil’, ‘tak pala ada bukber-bukber’.

Bukber yang gagal, biasanya bukan penyebab dari sibuknya manusia-manusianya, tapi si penggerak pertama, yang kurang sabar akan prosesnya, proses memberi kejelasan pastinya. Entah memastikan manusia, tempatnya, harga makanannya, waktunya.

 

Lah kok disamain sama hidup bersama?

That’s good question. Sebenernya bukan nyamain, karena mau gimana pun, membangun rumah tangga gak segampang ngajakin bukber.

Jadi gini, dalam membangun rumah tangga, pasti ada satu pihak yang ngajak, dan udah punya pegangan untuk melanjut ke tahap serius.

Seorang laki-laki misalnya, yang ngajak berumah tangga, kalau dia serius, pasti dia udah tau mau ngelakuin apa, membuat keputusan dari sebuah pilihan, dan ada planning A B bahkan C untuk memulai sebuah hubungan serius.

Gimana jadinya kalau si penggerak/si laki-laki ini Cuma modal “Nikah yok”. Tanpa ada perbincangan lanjutan, keuangan belum stabil, sikap masih kekanakan, omongan kasar, dan banyak hal lain yang sebenernya harus banyak diperbaiki.

Cewek, bakalan bilang “gak usah banyak cakap”. atau “jangan cakap aja, buktikan”. Karena ya, modal cakap doang, sama aja kayak Cuma ngajak bukber hari ini, tapi bukber nya terealisasi dua tahun kemudian.

Soal alasan waktu, kita memang gak bisa menerka akan seperti apa besok atau lusa. bahkan detik selanjutnya, kalau soal kendala, memang selalu ada kendala, yang kita juga gak tau kapan kendala-kendala yang bakalan jadi penghambat itu datang, kita bener-bener gak tau.

Tapi, yang namanya perencanaan, dan kejelasan, bukan masalah besar kan? lebih baik bahkan.

Dan yaaaa kesimpulannya silakan buat sendiri. Lagi-lagi ini Cuma analogi, kalau semua hal kita anggap penting, pasti masalah atau kegagalan dapat diminimalisir. Dan ya ayok bukber, ayok hidup bersama, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Jangan jadikan “Ayok bukber” dari pesanmu ke seorang teman, Cuma dianggap “Pemberi Harapan Palsu” di tengah kerinduan dia ke kita dan teman-teman lain. Bisa jadi, dia uda pengen banget bukber bareng kalian, tapi batal, dan dia gak mau bilang. jadi, peka-peka ajalah ya.

Dan jangan jadikan “Ayok nikah” dari pesanmu ke lawan jenis, Cuma dianggap “Pemberi Harapan Palsu” di tengah terkejutnya dia yang uda mencoba mempertimbangkan mu. Padahal kamu Cuma iseng, atau serius, tapi dilihat dari keseriusan, kamu bahkan Cuma punya 0%.


#Ngeblogramadan

#Tautannarablog

#Blog8

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...