Langsung ke konten utama

KENAPA TEMAN MENILAI KITA BURUK DARI PENAMPILAN?

 

Pastikan kamu membacanya dalam keadaan tenang, hati yang damai.

"Alah, jilbab besar ajapun percuma tapi masih mau pacaran,"

"Tengokla itu ha, mukanya aja polos, tapi cakapnya kotor, semua isi kebun binatang sering dibilangnya"

"Gila ya ngaku hijrah tapi masih suka goncengan sama laki"

"Jenggot doang dipanjangin, tapi sering telponan sama ukhti ukhti sebelah"

"Cadaran doang, tapi liat tu ha, fotonya di mana-mana ada"

Dan contoh kalimat lainnya---------------


Saya yakin, kita pernah mengucapkan di antara itu semua. Entah becanda, atau serius dalam kondisi memang emosi, mungkin kita pernah. Dan ya mungkin ada di antara kita yang lagi memperbaiki diri, dengan gak mudah lagi menilai, memilih istighfar, diam, dan muhasabah diri. Semoga sih.

Banyak artikel, tentang jangan menilai orang dari penampilannya, banyak juga quote tentang jangan samakan akhlak dengan jilbabnya. Tapi di sini, kita bakal cerita soal sebenernya kenapa si temen kita mau nilai dari penampilan? 

Sebenernya alasan paling utama satu ; karena penampilan itu pertama yang dilihat.

Mau laki-laki, mau perempuan, ya orang yang pertama diliat penampilan. Dan setelah dekat dengan kita, pasti tu ada satu hal yang dia baru tau dan bikin kaget. Misalnya.

Tampilannya dia gak bejilbab, tapi ternyata rajin salat, rajin baca quran, bahkan bacaan qurannya lebih baik dari kita. 

Atau, tampilannya dia jilbab besar, sering nundukkan pandang, ternyata di balik itu semua, dia pacaran.

Nah, kenapa temen kaget sendiri? Ya kaget, karena memang pertama yang dia tau dari kita adalah penampilan kita. Jadi kalau dia kaget, wajar.

Dan ya kita memang gak bisa buat semua orang jadi suka atau jadi nyaman ngeliat kita, tapi bisa ga si kalau uda dikasi tau dengan cara 'baik' tentang penilaiannya ke kita, ya diterima aja. 

Ada temen nilai begitu tujuannya untuk kita berubah jadi lebih baik, ada juga temen yang sebenernya memang suka aja ngejulid. Gak ada solusi, arahan atau bimbingan dari dia gitu.

Kalau ada temen yang nasehati dan ngasih tau kita secara personal, tentang buruknya kita dipandangan orang, pertahanin! Demi apa sayangi dia. Dia peduli sama kita. Positif aja, dia itu gak ngurusi soal surga kita, dia cuma mau yang terbaik.

Untuk yang suka nilai temennya dari penampilan doang pun ya, udah la ya. Berentikan la itu, uda dewasa kok ya. Banyak yang mau diurus, dipikirin. Apalagi sampek sindir sana sindir sini. Pinter-pinter buk kalau mau berdakwah. 

Jangan langsung bikin story "Astaghfirullah, ada banyak sekali orang mengaku sudah kajian tapi masih pacaran. QS. Al-Isra: 32".

Kejem banget si, dikasi tau aja mbak-mbaknya gimana? Jangan main nyelonong nyindir gitu. Peduli memang, tapi caranya bikin orang bukan malah sadar, tapi malah males bekawan lagi. Wkwk.

Jadi ingat nasihat Syekh Ali Jaber di podcast Deddy, begini katanya,

"Jangan pandangi wanita yang belum berjilbab, jangan pandangi dia buruk. Barang kali dia punya dua rakat (sholat) tahajud di sisi Allah, bisa menyebabkan terampuni semua dosanya,”.

Damaikan? Seorang syekh aja nasihatnya gitu. Apalah kita yang bukan siapa-siapa, yang salat kadang masih di akhir waktu, yang sedekahnya masih mikir-mikir, uda berani ngclaim ke temen soal surga gak pantes untuk temen yang kita maksud.

Sudahi la semua, kita stop nilai temen kita, kalau mau ada yang diperbaiki darinya, yang bikin kita jadi ada perasaan takut, karena peduli, datangi ia. Kirim pesan yang "Friendly" tapi menyejukkan. 

Untuk kita yang suka dinilai cuma karena penampilan, jangan baperan yuk. Jadikan motivasi untuk berubah. Sebenernya simple, yang ribet itu bapernya kita kalau dikasi tau temen wkwk.


Hidup itu begini, hari ini menilai besok dinilai.

Semua harus siap, kalau semangat menilai, siap juga dong dinilai.


#30haringeblog

#blogjanuari

#blog14

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...