Langsung ke konten utama

KALAU MAU DISAYANG, JANGAN GALAK SAMA BOCAH

 

Tulisan ini dibuat oleh mahasiswa yang bukan jurusan keguruan, bukan guru, bukan psikolog, bukan seseorang yang sudah mendalami ilmu parenting, bukan dan bukan.

Kalau kamu adalah orang yang tidak suka anak-anak, sulit berkomunikasi dengan anak-anak, tulisan ini cocok untuk kamu.

Kenapa anak-anak harus disayang? Kan bukan anak kita sendiri.

Dulu, saya berpikiran begitu. Setiap kali disuruh ngajari anak-anak, saya mengetus "gak lah, gak suka anak-anak aku". Atau, "biarin lo nangis, bukan anak awak aja pun".

Kelas 6 SD-1 SMA, mama buka sekolah PAUD di depan rumah, kebayangkan, setiap hari harus ketemu anak-anak terus, pagi sama anak PAUD, siang ke sore sama anak sekolah sorenya (MDA).

Berisik, jorok, manja, cengeng, bandel, ingusan, semua jenis ada. Sampai-sampai saya pernah diludahi bocah lanang, dan itu kena ke rambut saya (berhubung dulu belum berjilbab ya), kebayang dong gimana joroknya saya waktu itu. Saya emosi, benci dan akhirnya saya mengutuk diri, kalau "wah emang bener gak bisa ini aku sayang sama anak-anak".


Selanjutnya gimana? Sampek sekarang gitu juga?

Setamat SMA, saya dan sahabat saya buka les, dengan alasan butuh duit jajan (niatnya ngeri), dapatlah kami anak didik sekitar 11 orang. Dan ya, kami berdua belajar gimana caranya ambil hati mereka. Bikin mereka nyaman, mau belajar, enggak bandel, atau lainnya lah.

Syukurlah, sampai sekarang masih membekas, mereka masih menganggap saya sebagai guru lesnya dulu, dengan panggilan Mrs. 5 tahun kemudian (2021), minggu kemarin, kami reunian. 

Berhasil mengambil hati bocah di 2016 itu? Berhasil.


Terus, kenapa anak-anak harus disayang?

Bu ibu anda adalah calon ibu nantinya, guru pertama dari anak bu. Pak bapak, anda juga adalah calon bapak nantinya, gimana mungkin anak bakalan terdidik dengan baik kalau bapak aja gak peduli sama anaknya.

Kalau gak belajar sekarang, mau kapan lagi suka anak-anak? Gini ya, adek saya itu masih 6 SD, kalau ditanya sayang ya sayang namanya juga sodara kandung, tapi saya galak sama dia, terbukti, hati dia keras, dan akhirnya saya gak teranggap sebagai kakak, tapi sebagai teman wakakaka.

Kamu belum sayang sama anak-anak, ya karena kamu gak berusaha dapetin hati anak itu. Coba pakai cara baru, tanya-tanya dia, tanya hobinya, temukan kesukaannya. Hibur atau beri dia hadiah. Nanti dia bakal nyari kamu terus. 

Anak-anak juga gak mudah suka sama kita. Mereka itu, kalau sekali aja udah kita buat suka sama kita, dia akan seterusnya suka sama kita. Tapi kalau kita sekali aja bikin dia sedih, itu bakalan jadi penghalang biar kita bisa deket lagi sama dia.


Jangan galak. Itu poinnya.

Kalau adek itu ada buat kesalahan, semangati dia untuk gak ngulang kesalahan itu lagi. Kasih tau pelan-pelan kalau itu salah. "Dek, gak boleh gitu, ini giniloh dek caranya. Coba buat lagi," Setelah dilakukannya, apresiasi, "Ha kan pinter. Ayo ayo kerjakan nomor dua".

Kalau dia nangis, hibur dia, "Eh anak pinter gak boleh nangis, nanti kalau nangis ilang gantengnya. Coba kakak tengok dulu senyumnya". Jangan malah ditanyai, "siapa jahat nak? Biar kita pukul dia". 

Demi apa jangan diajarin sejak dini untuk dendam. Mereka nanti jadi terus bilang, "Kubilangkan kakakku nanti kau". Mbakyu, jiwa-jiwa kompornya jangan disalurin ke bocah ya.

Kalau anak berantem? Lembutkan hatinya. "Tapi katanya mau jadi dokter. Masa dokter berantam. Udah-udah, gak boleh gitu. Sini sama kakak. Maaf-maafan dulu". 

Mereka itu penurut loh btw. Disuruh maaf-maafan langsung tu mau. Setelah maaf-maafan, elus rambut keduanya (dua anak yang bertengkar), "jangan gadoh lagi ya. Baik budi kok semuanya." 


Lebay? Enggak!! Itu cara.

Anak-anak itu gak bisa galakin, gak bisa dimarahin. Mereka nurut memang kalau dimarahin, tapi hatinya dan pikirannya gak bakal bisa nerima kamu lagi.

Kalau gak bisa jadi guru dan orangtua mereka, coba jadi kakaknya. Kalau gak bisa jadi kakak, coba jadi teman.

Main sama anak, berisik sama anak, makan bareng anak-anak, itu cara ngambil hatinya. Setelah dapat, coba jadi seorang kakaknya. Yang ngelindungi dia, ngasih arahan kalau "dek gak boleh gitu". 

"Dek, ayo bilang makasih". Barulah kamu bisa jadi guru dan orangtuanya, yang bisa ngasih pendidikan ke dia, sayang sama dia tulus, dia sedih kalau gak ada kamu. 


Isma, tapi kamu kan belum jadi orang tua. Kamu sok tau banget si!!

Seperti di awal, saya bukan siapa-siapa. Cuma orang yang pernah bilang gak suka anak-anak, dan gak bakal bisa jadi guru karena gak pande ngambil hati anak-anak. 

Saya juga belum terlalu berpengalaman. Oh iya, ini foto mereka-mereka. 

Sedikit kan? Ga sebanding sama kamu yang memang seorang guru, atau yang memang uda dari dulu suka sama anak-anak.

Oh iya, masa kamu perjuangin doi biar suka sama kamu, tapi kamu gak mau perjuangin biar banyak anak-anak suka sama kamu?

#30haringeblog

#blogjanuari

#blog25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...