Langsung ke konten utama

JAWABAN TENTANG "KENAPA" UNTUK SAYA

Target pembaca : Isma di masa depan dan mereka yang bertanya.

Kalau-kalau di kasih kesempatan lagi membacanya, semoga dalam keadaan sehat. Entah dalam keadaan sudah punya keluarga, atau bahkan cucu, semoga ingat.


Isma, apa yang buat kamu nangis?

Beberapa tulisan, saya selalu membela diri, bahwa saya orang yang gak gampang nangis, dan ya karena faktanya memang bener. Dalam keadaan sendiri? Kadang iya mau nangis, tapi seringnya, memang jarang nangis walau sendiri.

Selain ingat dosa, atau ibadah malam, berduaan sama sajadah dan diri sendiri, saya juga mau nangis perkara manusia. Misalnya, mengingat Alm Tiwi, sahabat yang sering saya ceritakan sebelumnya.

Atau kalau perkataan orangtua tiba-tiba saja nyelekit dan pas kena di ulu hati, itu dua hal yang bikin saya nangis perkara manusia.

Perkara yang lain ada? Ada, itu tentang sendal.


Isma, kenapa kamu suka sendal?

Karena sendal itu bikin nyaman bagi saya. Dan saya pernah nangis, galau sampai 2 hari, karena kehilangan sendal saya. Si busuk, lahir 2018, hilang 2019. Pas di hari suci, idul fitri.

Saya memang kalau udah sayang sama barang, sayang banget. Sendal beginian banyak kenangan, termasuk si busuk yang hilang itu, dan si dekil yang putus itu (sekarang uda gak ada, baru desember kemarin dia menjalani ngaben).

Saya ke kampus berkali-kali ditegur dosen karena pakai sendal, dan khilaf lupa ganti sepatu (sepatu selalu saya bawa di tas untuk cari aman), sendal-sendal itu juga saya bawa ke mana-mana, aceh, sinabang, jakarta, dan perjalanan wisata lain. 

Sendal itu juga selalu saya pakai dalam acara formal, wawancara, seminar, undangan. Apalagi ya, bahkan waktu sendal banyak yang pakai ke masjid, dan dia hilang berkali-kali juga, mereka berdua selalu lagi-lagi balik ke tangan saya. Saya pikir mereka berdua setia, tapi ah udahla.

Tapi kenapa orang sering ketawa kalau liat orang pake sendal ya wkwk. Bahkan beberapa temen kalau buat story "cuma pake sendal", gitu saya agak kaget. Apa yang spesial? Wkwk


Isma, kamu beneran suka kecap?

Saya gak tau ini kenapa dianggap aneh sama orang, kata mama saya dari kecil juga sering makan pakai kecap, dulu sekolah saya memang gak pernah bawa kecap ke mana-mana, karena ya di rumah selalu ada stok kecap dan gak pernah pergi jauh juga.

Sejak di Medan, saya sering bawa kecap sejak pertama masuk kuliah. Dan saya pernah ganti tas karena kecap bungkus saya tumpah di tas, bau, jorok, susah hilang, lengket. Tapi jarang sih, itu pertama kalinya bawa yang bungkusan. Kecap botol is my love emang.

Kecap apa? Bango.

Panggilan kecap, malika, kedelai hitam, melekat sampai sekarang. Bahkan sampai dulu seorang teman sering bilang, "pokoknya calon suami isma aman, maharnya cuma kecap". Kalau makan tanpa kecap rasanya aneh. Aneh lah. Dan sekarang? Masih suka kecap, tapi lumayan uda jarang.


Kenapa gak suka bawang goreng?

Asli, itu bau banget, rasanya aneh, bayanginnya aja mual. Gak tau kenapa, saya ingat waktu kecil mama goreng bawang itu, saya ambil segenggam, dan saya makan. Dari situ saya tau bawang rasanya seaneh itu, kenapa ingat? Ya ingat, karena saya kalau uda trauma, ingat terus.

Sekarang, sering coba makan itu, tapi sama aja. Mual. Itu memang ga enak, asli ga enak.


Isma, kenapa suka bilang yim?

Yim itu artinya senyum (kayaknya), biar lebih agak apa, saya bilang aja ke orang, "yim lo yim". Biarpun dia ga ngerti, ya biarin, yang penting saya senang wkwk. Saya memang suka senyum, heran juga.

Karena dari zaman sekolah banyak orang bilang isma ini sombong, matanya ngeri nengok orang, senyum nya ke yang dikenal aja. Nah, sekarang? Saya belajar ngerubah itu malah jadi kaya kelebihan gitu. Senyum terus.


Kamu beneran ya Is, susah baper?

Kenapa saya susah nangis, adalah karena saya gak gampang baper. Baper sama omongan orang, baper sama gombalan, baper sama sahabat, baper sama teguran orangtua, banyak hal. Ya memang gak baperan. Gini-gini saya sering bodo amat. Gak semua omongan saya ambil, wkwkwk.

Bahkan mama marahi saya misalnya tadi pagi, malamnya saya baru sadar kalau omongan mama nyakitin, apa gunanya lagi sedih wkwkwk.

Berawal dari mana kayak gini, ya gak tau juga. Ngalir aja uda dari dulu, dan sekarang uda makin dewasa makin ngerasa lah, ngapain sih baper-baper lagi.

Jangan coba baperin saya, nanti kamu yang baper. Jangan coba ngejatuhin saya, nanti kamu yang jatuh. 

Kalau ada yang bilang baper juga penting, iya saya setuju, tapi mungkin bukan keharusan sama saya. Yang penting dengarkan, apa yang harus diubah ya diubah. Kalau dalam masalah romansa itu juga penting, mungkin nanti. Jangan masukkan diri kita sendiri ke jurang kecewa. Susah.


Ada banyak kenapa yang lain, tapi udahla uda capek.

#30haringeblog

#blogjanuari

#blog27

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...