Setelah corona dianggap biasa aja.
Seburuk gimana pun adanya corona di 2020, saya tetep ambil hikmahnya. Dan pasti, kalian juga begitu kan?
2020 yang kemarin bersanding dengan corona, membuat manusia banyak banget yang kaget, bingung, bahkan masih percaya gak percaya kalau 2020 harus dijalani juga. Dan ya, seiring berjalannya waktu, corona juga udah dianggap biasa aja sama masyarakat.
Siklusnya, mulai dari biasa aja, takut, khawatir, biasa aja, yaudah gitu aja. Dimulai dari 17 Agustus, warga mulai dah tu ngerayainnya dengan perayaan yang memang uda dari dulu ada, misalnya perlombaan yang bisa meningkatkan kecintaan kita ke Indonesia.
Bahkan, masih beberapa bulan menjelang pemilu, agaknya itu memang kesempatan bagus untuk mendekatkan diri ke masyarakat wahahaha.
Di pesta demokrasi itu pun, berbondong-bondong kan mereka konvoi. Terus masyarakatnya jadi gak ada takutnya gitu sama corona. Udah mulai berani keluar gak pake masker, udah mulai berani desak-desakan di pasar, jalan, tempat perbelanjaan.
Tapi ya, balik lagi di paragraf satu tadi (kejauhan fix), kalau 2020 itu banyak banget hikmahnya. Ada yang pensiun jadi anak kos (akibatnya dia gak bayar uang kos lagi), ada yang full time di rumah bareng keluarga (hay anak kos, ini tentang kalian), ada yang dari gagal teknologi sampek paham banget sama teknologi, dan ya untuk orang mageran, males sama keramaian, di rumah aja itu kabar paling baik.
Dari kita di masa lalu, baca ini di masa depan, ya.
Karena corona, saya bisa full ramadan di rumah bareng keluarga.
Karena corona, tak jarang saya berselancar di media sosial, bahkan permasalahan selebriti, selebgram, saya bisa tau dengan cepat.
Karena corona, saya berani buat dalgona, walau akhirnya tak sesuai ekspektasi.
Karena corona, saya bisa membuka taman baca untuk anak-anak sekitar rumah, walau akhirnya jiwa mager saya sering kumat-kumatan.
Karena corona, saya jadi jarang campur baur teman lelaki, kecuali saat reunian bersama teman. Saya pun tak lagi naik-naik grab/gojek.
Karena corona, saya jarang beli bedak, pantas saja kalau reuni sindiran teman, "kok makin burik". Ya Rabb maafkan mereka.
Karena corona, saya jadi bisa bebas makan apapun di rumah saat sedang mengurung diri di kamar. Walau akhirnya saya disuruh minum obat cacing, karena dianggap apa yang saya makan adalah makanan untuk cacing. Belum lagi disuruh minum air ruqyah.
Karena corona, saya bisa menulis 2 tulisan pdf yang saya bagikan gratis untuk teman-teman gabut saya yang hobi baca.
Karena corona, saya sering terngiang lagu tiktok. Astaghfirullah.
Dan ada banyak hal lain yang saya ambil di 2020 inilah.
Saya pun berharap, saya bisa wisuda online. Sangat sangat berharap. Wahahaha. Yaudah, kita tutup dunia pergibahan ini dengan astaghfirullahalazim. Dari pada jadi khilaf cerita soal wisuda, kan jadi hilang moodnya haha.
Btw 2020, kau tak buruk, kau itu tahun terbaik, yang banyak menguras air mata manusia.
#30haringeblog
#blogjanuari
#blog2

Karena corona, akhirnya saya tak kesepian lagi. Terimakasih Corona.
BalasHapus