Cuaca tak biasanya semendung ini, masih pagi sudah harus repot karena yakin akan hujan. Akan hampa pastinya jika toko ini tutup, apalagi ada penulis yang sudah menandatangani kontrak dengan toko buku ini. Akan kah dia benar datang jika cuacanya begini?
Aku masih tetap mengamati buku-buku lama yang siap digeser ke deretan buku murah, yang pasti mereka sudah tak kunjung laku sejak 2 tahun ini. Hendri dan Hendra si kembar yang bekerja di toko buku ini pun terlihat semangat, meski cuaca mendukung untuk lebih baik di rumah dan tidur.
Tak lama sebuah mobil mewah datang ke toko kecil ini, mobil itu milik si penulis, yang mengaku bernama Pipit. Wajahnya polos, senyumnya manis, kami baru bertemu 2 kali, tapi sepertinya lebih dari itu, aku belum bisa memastikan.
Yang jelas, ia entah datang dari mana, tiba-tiba sudah berniat membuat kontrak. Padahal toko ini tak terkenal di manapun. Cuma anak-anak SMA yang suka baca buku biasanya yang mampir ke sini. Atau orang yang tak sengaja lewat dan akhirnya mampir ke sini, tak biasa juga ada penulis langsung meminta kontrak kerjasama begini. Apa dia bidadari?
"Mas, ini buku-bukunya," Pipit berdiri tepat di hadapanku.
"Oh iya mbak, Hendra Hendri, sini," mereka membantu mengangkat buku-buku itu. Setelah menyelesaikan semua urusan, Pipit langsung pergi.
Bukan cuma hujan yang bikin dingin kali ini, tapi Pipit juga ternyata lebih dingin dari hujan. Berbicara sedikit, wajah menunduk malu, dan kami tak banyak berbincang.
Aku penasaran dengannya, kubuka media sosial, kustalking instagram miliknya. Dan, apa ini? Kenapa dia begitu terkenal? Buku pun sudah banyak terbit. Kenapa dia memilih toko ini? Apa dia sedang menyepelekanku?
Banyak praduga yang akhirnya muncul. Apalagi namanya terdengar akrab di telingaku, benar-benar tak asing. Terhenti sampai 3 anak SMA membawa payung datang ke toko, dan langsung mencari buku, "SEPERTI KAMU JATUH KE HATI" karya Pipit Anggita Royani.
Benar, ternyata dia memang terkenal dan bukunya memang sudah banyak diketahui publik.
Malam makin terasa dinginnya, biasa orang sepertiku selalu memikirkan banyak hal di jam 12 dini hari. Dan rasa penasaranku makin menjadi, aku membuka buku itu dengan tujuan mencari tau sebagus apa bukunya.
Masih di lembar ke 2, kutemukan sebuah nama. Rizki Fernando? Nama ku? Masih belum percaya, kulanjutkan membaca, dan lagi-lagi mendapat hal yang sama, usia 24 tahun, bekerja di toko buku, suka makan tumis kangkung, dan selalu duduk termenung di depan toko?
Tokoh itu muncul setelah pembuka yang panjang, apa ini. Aku segera menghubungi Pipit, atas dasar apa ia menulis tentangku. Siapa dia sesukanya menulis tentangku tanpa izin?
"Kamu kenapa nulis saya di buku kamu? Kamu bisa kena pasal ini" aku langsung membentak.
"Kamu uda baca semua?"
"Ngapain? Ini masih di halaman kedua aja kamu uda sebut-sebut namaku. Sepenting itu?"
"Kamu yang minta"
"Maksudnya?"
"Aku cari buku ke toko kamu 4 bulan lalu, kamu asik baca buku, kami bilang ke teman kerja kamu, si kembar, berharap namamu ditulis di sebuah buku," Wanita itu menjelaskan, aku belum percaya, pasti.
"Gak masuk akal,"
"Minggu selanjutnya aku datang lagi, kamu gak sadar kamu kasih gratis buku karena gak mau diganggu waktu bacanya," ia meneruskan, aku makin kaget. Kapan pula ku buat rugi tokoku sendiri.
"Hari berikutnya, aku jadi sering berkunjung, walau kamu gak pernah mau menjualkan buku buku itu, si kembar selalu menggantikan posisimu,"
"Astagaa" aku baru teringat omongannya. Hendra Hendri memang pernah menyinggung soal wanita yang sering beli buku tapi selalu kuberi gratis, mau tak mau itu jadi alasannya datang lagi di hari lain untuk membayar buku itu.
"Terus kenapa aku ditulis?" aku bertanya lagi.
"Aku wujudkan kemauanmu, menjadi tokoh di sebuah buku," ia diam sebentar.
"Aku Pipit, sepupu Vio, mantan kekasihmu dulu yang pernah kamu selingkuhi, dan tiga bulan kemudian, Vio meninggal karena kecelakaan, kamu ingat Vio?" aku terdiam, kaget pastinya. Benar dugaanku, ia tak asing bagiku.
"Kamu selesaikan baca bukunya, kamu jangan lewatkan satu halamanpun meski itu kata pengantar, kamu sadari tokohnya, dan ceritanya, senang bekerja sama dengan toko buku anda," ia menutup telepon.
Aku terduduk lemas, membuka media sosial milik Pipit lagi, dan baru kusadari postingannya bersama Vio.
Malam itu aku makin menjadi, merasa bersalah, telat menjelaskan kalau aku bukan sedang selingkuh. Wanita yang kugandeng setahun lalu, yang membuatmu marah adalah mama ku. Yang memang awet muda.
Vio, kalau-kalau kita bertemu di surga, biarkan aku menjelaskan, agar kau tak lagi salah paham sambil berkata, "mana sempat keburu telat".
Vio, Pipit, terima kasih dendamnya.
#30haringeblog
#blogjanuari
#blog28


Komentar
Posting Komentar