Langsung ke konten utama

Siklus Sekadar Teman

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628).
Sahabat adalah teman. Tapi teman belum tentu sahabat.

Teman itu banyak, keberadaannya di mana-mana. Di sosial media, di sekolah, di daerah tempat tinggal, di kampus, di tempat bekerja, bahkan di dunia tak nyata.

Kalau sebelumnya kita berbincang soal persahabatan yang jumlahnya tak banyak, di sini kita bahas soal 'teman' yang jumlahnya sangat banyak.

Agaknya lebih benar kalimat 'itu teman lamaku', daripada 'itu sahabat lamaku'. Risih memang kalau mendengar sahabat jika disandingkan dengan kata mantan, lama, dulu, atau hal-hal lain yang rancu maknanya.

Siklusnya mungkin lebih sederhana, dan bisa kita kelompokkan jadi tiga bagian. Di sini, kita hanya perlu mengingat, dan menganalisa lingkungan sekitar kita. Ingat sekali lagi bagaimana hubungan kita antar seorang teman.

1. Teman Dekat
Kenalan - saling sapa - berteman - sering sama-sama - nyambung diajak ngobrol

2. Teman Biasa
Kenalan - saling sapa - sekadar tau dia siapa - ngobrol biasa

3. Teman Cuma Teman
Kenalan - saling sapa - sekadar tau dia siapa - yaudah gitu aja.

Benar tidaknya siklusnya, ya paling tidak, teori kalian juga tidak jauh-jauh dari itu semua. Apalagi kategori ketiga. Tak usah jauh-jauh mengingat, coba sekarang perhatikan whatsapp kalian, atau pribadi di whatsapp saya juga. 

Ada berapa banyak manusia yang tak saya kenali dan hanya tau namanya. Setiap hari saling lihat story, padahal belum pernah ngobrol secara nyata. Ya sesuai siklusnya, memang cuma teman, teman whatsapp. Cuma sekadar tau, dia siapa dia orang mana. Udah sampek situ. Gak lain-lain.

Jadi, kalau saya sering curhat sama kakak senior saya apakah artinya kami cuma teman dekat? Bukan sahabat?

Kacamata saya memandang begini, curhat itu ukuran kedekatan kita sama seseorang, atau juga termasuk cara kita biar bisa lebih dekat ke orang itu. 

Tapi kalau kamu datang ke orang itu cuma pas lagi mau curhat, berarti kamu bukan sedang membuat dia terlihat nyaman sama kamu. Kamu pikir dia konselor? Mendengar sampai kandas curhatanmu, lalu setelah lega meninggalkannya pergi. Datang lagi ketika ingin curhat. 

Kamu cuma menjadikan dia tempat pelampiasan kekesalan kamu sama manusia-manusia di dunia. Bukan menjadikan dia sebagai orang yang memahami kamu betul, dan bisa memprioritaskan kamu. Dia tak akan peduli dengan curhatan kamu sebelumnya, karena dia bukan menjadikan kamu prioritasnya, seperti kamu bukan menjadikan dia prioritasnya.

Jadi apakah seorang yang mendengar curhat kita disebut teman dekat atau sahabat? Itu bisa jadi benar, kedua posisi itu tak jauh beda. Keduanya akan saling ingat, saling bertukar pikiran, saling 'memprioritaskan'. 

Untuk kalian, seorang yang sering mendengar curhat, tercetus kalimat 'ini anak datang pas lagi mau curhat aja'. Gak papa kalau pernah bilang itu, dan gak papa juga kalau kalian selalu jadi tempat curhat. Ambil sisi baiknya, ambil pelajarannya.
Dan untuk kalian, seorang yang sering curhat, tercetus kalimat 'curhat sama si itu ajala lagi'. Gak papa, silakan curhat. Tapi akan lebih baik, jadikan dia teman dekat kita, yang mengetahui kita. Barangkali dia akan ingat dan menganggapmu sahabatnya.

Jangan lupa, untuk bisa mengontrol diri kepada siapa kita nyaman berteman. Teman yang baik, akan terus mengajak kita pada kebaikan, kan? Dan menarik kita jika nyaris terjun ke kebungan dosa, bukan malah mendukung kita untuk masuk ke dalamnya. Benar? Semoga, ya.

Semoga Allah senantiasa mendekatkan kita ke orang-orang baik. 

"Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Komentar

  1. Aamiin ya Allah aamiin semoga kita didekatkan dengan teman" yg baik ya kak

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...