Karena manusia suka baper-
Cinta, kata yang selalu viral dan dibincangkan sejak kelahiran saya 1998 bahkan sebelumnya, sampai 2020 bahkan selamanya. Begitu ajaibnya kata ini. Tanpa perpanjang lebar di pembukaan, kira-kira begini siklusnya.
Perkenalan - pertemanan - komunikasi - nyaman - jatuh hati - ingin memiliki - ???
Memang semua bermula dari komunikasi, dan salah satunya akan nyaman lalu jatuh hati, ah bukan. Tepatnya jatuh cinta.
Lalu, kenapa di akhir siklus timbul pertanyaan? Jawabnya begini,
1. Bisa berakhir dengan pacaran
2. Bisa berakhir dengan kecewa karena ditinggalkan
3. Bisa berakhir dengan perpisahan karena ternyata bertepuk sebelah tangan
4. Atau bisa saling membenci?
Poin mana yang pernah kita alami sejak kita lahir sampai sekarang? Bagian mana yang menyenangkan dan menjamin kebahagiaan dunia akhirat?
Cinta itu tak salah ya. Yang salah ya manusianya. Pernah dengan kalimat, "Cinta ga punya alasan, cinta ga bisa milih kepada siapa dia menetap," Atau yang sejenisnya. Coba kita saring kalimat itu lagi ke hati dan pikiran kita. Kali ini biarkan hati dan pikiran menyatu, jangan dipisahkan dulu.
Kalimat itu memang benar, gak ada yang salah. Serius! Yang jadi salah, adalah ketika si manusianya enggak pandai menempatkan cinta, enggak pandai mengontrol hati.
Solusinya ya cuma satu! Kembali ke Allah. Pandai-pandailah mengendalikan hati, pandai-pandailah menjaga agar tidak terlalu bawa perasaan. Komunikasi sewajarnya, kalau salah satu sudah ada yang baper, siapa yang mau tanggungjawab?
Gak usah takut jomblo, ngerasa sepi karena ga ada yang nemeni chat, percaya aja. Kita itu ga sendiri. Setiap manusia di ciptakan berpasang-pasangan (Al-Hujuraat :13).
Perihal jatuh cinta, konotasinya memang negatif. Saya pernah, maka saya tau. Saya berpengalaman, saya pernah menjajaki jalan jahiliyah, lalu masih ga mau percaya kalau jatuh cinta itu bikin dosa?
Kalau jatuh cinta, mungkin negatif. Kalau bangun cinta mungkin positif. Hoii, saatnya saya bilang kalau saya sepakat dengan sepotong lirik lagu dari 3 Composers.
Lebih baik bangun cinta
Daripada jatuh cinta
Jatuh itu sakit
Bangun itu semangat
Dari liriknya itu memang benar. Orang jatuh cinta, akan berujung pada kecewa, kalaupun tak kecewa ya pasti lah tak jauh dari dosa. Kalau bangun cinta, pelakunya akan berusaha untuk mengakhiri siklus bapernya menuju pernikahan. Menuju hubungan yang sah. Namanya juga membangun, pastilah membangun rumah tangga. Bukan membangun dosa.
Sekali lagi, gak usah baper-baper gak jelas. Dan gak usah ngasih-ngasih kode biar dibaperin, biar dimiliki, biar dichat. Gak usah jadi bodoh! Belum tentu kalian berjodoh.
Astaghfirullah, bukan itu penutupnya. Maaf. Haha.
Begini, untuk kita yang sedang berjuang mengendalikan hati, agar tak mudah jatuh cinta, semoga Allah permudah jalan dan niat kita.
Untuk kita yang sedang berusaha melepas hubungan, tapi sudah terlanjur benar-benar jatuh cinta. Semoga Allah lunakkan hati kita, memberi jalan agar kita lepas, lalu taubat, lalu melanjutkannya ke tahap serius.
Untuk kita yang sedang menggeram karena tidak ada sosok tepat yang bisa memiliki dan menerima kita, Semoga Allah mengingatkan kita, kalau kita hanya perlu istikamah ikhtiar dan berdoa.
Dan untuk kita yang sedang jatuh cinta, tapi sudah terlanjur kecewa, tapi belum juga mudah menghilangkan bekasnya cinta, bekasnya kecewa. Semoga Allah tetap menyayangi kita, memberi kasihNya, lalu memberi apa yang kita butuhkan sebenarnya.


Uuuuh ngena kali 🥺
BalasHapusTersentuh uuuuy
BalasHapusTersentuh uuuuy
BalasHapus