Judulnya tidak menggugah sama sekali. Kalau saya pakai judul, "Pilihanku Ternyata Bukan Idamanku", bagaimana? Sedikit menggelitik, kan? Tolong jawab iya!
![]() |
| 2017 Agaknya ini foto yang tepat. |
Sebelum jauh membincangkan tentang dunia kampus, perkenalkan saya Isma. Pembaca setia saya (kalau ada) akan bosan dengan perkenalan. Silakan baca di sini seputar saya.
Saya menulis ini juga sudah bosan. Dua project menulis saya tentang ini, ditambah buku sebelumnya, yaitu Dilemahasiswa juga bahas ini. Lalu, kenapa saya nulis? Jawabannya, karena saya sedang menunaikan hukuman saya.
Adik-adik kelompok riset saya, tidak menyelesaikan tugas blognya selama sebulan. Haha.
Oke abaikan soal itu. Kembali ke judul. Saya gak tau kalau saya pernah teramat jatuh cinta dengan kampus ini. Sedihnya, saya tak mengapresiasi mimpi saya ketika SMA, yang selalu menjawab " Kuliah di Harvard" Waktu ditanya, mau kuliah di mana?
Saya anggap itu lelucon saya. Mustahil bagi saya untuk ke sana. Di balik itu, saya juga ingin kuliah di UGM dan UIN Sunan Ampel. Mama mendengarnya tertawa.
Tanpa menjelaskan apapun, dia berbicara secara berbisik begini "mama pengen kali dari dulu kuliah di IAIN". Jleb! Kalimat itu yang mengantar saya ke kampus ini seperti sekarang.
Tanpa menjelaskan apapun, dia berbicara secara berbisik begini "mama pengen kali dari dulu kuliah di IAIN". Jleb! Kalimat itu yang mengantar saya ke kampus ini seperti sekarang.
Ya benar, saya jatuh cinta. Saya nekat mengikuti ujian hanya untuk mengambil UIN. Saat itu saya tak mengenal motivasi kuliah, motivasi beasiswa, motivasi meraih cita-cita. Jalan aja, macam sampah di sungai itu. Ngalir banget kan?
Nah begitu pula saya. Akhirnya, saya masuk lah ke sini.
Loh jadi ini mimpi buruk samamu? Kok sedih gitu kayaknya?
Bukan-bukan. Saya selalu mensyukuri apa yang dikasih ke saya. Apalagi ini pilihan saya. Positifnya begini, walau selepas SMA saya sudah selalu berjilbab ke mana-mana, jarang memakai celana, atau berpenampilan seperti lelaki, dan ketika masuk ke UIN. Saya malu!
Saya benar-benar malu dengan jilbab tipis dan pendek itu. Karena saya masuk ke kampus itu untuk daftar ulang, pemandangan itu amat baik lengket di otak. Saya melihat banyak wanita bercadar, berjilbab besar, dan ini sangat banyak. Bukan kaum minoritas.
Saya nyaris menangis, mengingat kalau waktu SMA dulu, saya takut berteman dengan anak-anak Rohis. Karena waktu jadi anak baru, saya ingin bergabung di sini, teman-teman saya bilang awas masuk aliran yang aneh-aneh. Huhhh.
Di UIN, saya temukan pemandangan yang seperti ini lagi. Hati saya seakan sedang digoncangkan. Akhirnya, saya pun merubah penampilan saya karena saya malu dan terpaksa.
Kok terpaksa, sih?
Iyalah terpaksa, kan awalnya terpaksa, lama-lama jadi biasa.
Saya nyaman di sana. Selain saya bisa merubah penampilan saya, saya bisa memperbaiki tutur saya, walau sekarang masih keliatan tukang ngegas, saya bisa belajar agama, bisa mendapatkan teman-teman ahli ibadah. Dan saya menemukan ketenangan jiwa jika berada dekat dengan orang-orang beriman.
Lantas kenapa saya merasa ini tetap bukan kampus idaman?
Idaman kok idaman hehe. Maksud saya tidak terlalu diidamkan. Begitulah intinya. Saya cuma mau bilang, barangkali si pembaca adalah mahasiswa yang teramat mencintai UIN, atau teramat tidak menyukai UIN. Atau malah mahasiswa luar UIN.
Begini, jadi mahasiswa jangan terlalu mengharap kampus. Mengharap kepedulian orang-orang di atas mahasiswa. Karena mereka pasti memikirkan perihal keluhan kita juga. Positif saja begitu. Haha.
Jadi mahasiswa jangan terlalu suka menjelekkan kampus, apalagi lewat sosial media. Kita tidak sedang berada di kampus mahasiswa lain. Bisa jadi kampus mereka sedang dalam keadaan tidak baik-baik juga seperti kampus kita, hanya saja mereka menutupinya.
Jadi mahasiswa jangan terlalu suka menjelekkan kampus, apalagi lewat sosial media. Kita tidak sedang berada di kampus mahasiswa lain. Bisa jadi kampus mereka sedang dalam keadaan tidak baik-baik juga seperti kampus kita, hanya saja mereka menutupinya.
Jadi mahasiswa, jangan mau gila jabatan. Sekelas Himpunan Mahasiswa Jurusan saja sudah diperebutkan dengan persaingan tidak sehat, bagaimana untuk naik menjadi Rektor Universitas?
Dan kalau jadi mahasiswa, jangan mudah mengiyakan deh! Bisa? Tau arti independen? Atau tau arti jangan mau memihak yang sudah jelas salah? Nah, memihaknya boleh, tapi. Untuk membantu mengoreksi sepertinya akan lebih baik kan? Bukan malah jadi tim adu domba?
Begitula jadinya, hayo. Mana bagian yang menjelekkan? Gak ada kan? Karena tujuan tulisan ini, adalah menunaikan hukuman. Bukan untuk menjelekkan. Saling melek mana yang baik dan yang buruk, yuk.


Wah mantaps
BalasHapus