Alkisah ada seorang anak SMP yang pulang ke rumah membawa rapot dan hadiah buku, lagi-lagi ia mendapat juara. Ia pun mengadu ke orang tua, kalau ia juara tiga lagi. Sang ayah hanya mengucapkan, "mantap lah,". Sedangkan anaknya masih semangat memamerkan nilai-nilai rapotnya.
Ibunya datang, dan mengucapkan selamat. Sang anak menunggu sampai dua hari setelah pengumuman juara, kenapa ia belum juga mendapat hadiah dari orang tuanya. Ia kesal. Sedih, dan tak merasa bahagia.
Tidak mendapat hadiah dari orang tua sudah menjadi hal biasa baginya. Terakhir ia dapatkan di kelas 2 SMP. Ia pun mendapat juara selalu merasa biasa saja. Tidak ada perasaan bahagia yang berlebihan.
Sikap tidak bahagianya ia rendam sebisa mungkin. Sampai beranjak SMA. Ia mendapat juara kelas, dan tidak dapat hadiah, tapi ia bisa tetap merasa bahagia. Syukurnya, sang anak tidak memandang remeh selalu apa yang sudah ia dapat.
Sekarang ia dapatkan jawabannya, lewat sebuah buku yang ditulis Oktastika Nirmala. Ternyata, itu definisi bahagia bersyarat. Ia bisa tahu definisi-definisi seputar kebahagiaan. Kau tahu siapa seorang anak itu?
Benar saja, yang ada di foto atas itulah anak itu. Saya selalu merasa bahagia kalau setiap meraih juara, saya harus mendapat hadiah dari orang tua. Jika tidak dapat hadiah dari orang tua, maka saya tidak bahagia.
Momen seperti itu yang mendewasakan saya dengan sendirinya. Saya dibiarkan dengan diri saya sendiri, dan saya bisa bahagia walau sekecil apapun yang telah saya kerjakan.
Pertanyaan, kenapa kau selalu bahagia?
Agaknya saya bosan mendapati pertanyaan atau guyonan itu. Saya jelaskan di sini, dan kalian siapa saja boleh membuat alasan kalian sendiri kenapa selalu bahagia.
Saya bahagia karena banyak nilai positif yang saya dapat. Diantaranya, hidup saya lebih mudah.
Loh kok bisa? Cuma ngerasa bahagia aja bisa terasa mudah yang namanya hidup?
Ketika saya mendapati kabar yang membuat saya sakit, atau bagi saya itu tidak sesuai keinginan saya, maka solusinya saya harus tetap tenang. Saya bahagia, dengan menjalaninya. Artinya, saya bahagia tanpa syarat.
Contoh kasusnya:
Ketika saya sedang mencoba menyelesaikan naskah buku, di tengah jalan saya terkena writers block. Ini adalah masalah penulis kebanyakan.
Apa yang saya lakukan? Apakah saya harus meratapi nasib dan membiarkan naskah itu begitu saja? Atau saya harus stres karena walau sudah berjalan-jalan mencari inspirasi tapi tetap tidak menemukan jalan tengahnya?
Tidak sedemikian. Saya mencoba untuk menganggap ini hal mudah. Masalah itu hanya akan jadi masalah kalau saya menganggapnya adalah sebuah masalah.
Saya bahagia menjalaninya. Saya mudah dalam menulis. Dengan tetap berusaha banyak membaca lagi, mengulik pelajaran dari orang lain, maka writers block bisa terkalahkan. Kalau saya tidak bahagia, mungkin saya tidak pernah bersyukur dan tabah kalau dihadapkan dengan masalah seperti ini.
Jika kondisi saya harus bahagia dengan syarat, kalimatnya seperti ini, "Saya bahagia kalau saya nulis buku tanpa terkena writers block".
Faktanya, saya dapat masalah itu. Maka, untuk bahagia, bahagialah tanpa syarat. Kita bisa lebih tenang, damai, dan mudah dalam hidup.
Selain hidup jadi lebih mudah, dengan bahagia juga bisa mendatangkan teman-teman yang juga selalu bahagia. Saya percaya, teman-teman saya lebih banyak orang-orang yang yang hidupnya selalu bahagia. Daripada yang selalu berduka.
Teman yang receh, suka tertawa, mudah diajak bercerita, membicarakan hal serius tapi dengan santai dan tenang, dan banyak jenis teman yang saya miliki.
Apa sosok teman itu cerminan diri? Iya! Sungguh.
Bandingkan dengan teman yang hidupnya selalu mengeluhkan nasib yang tak baik, kesialannya, lika-liku hidupnya, dan persoalan lain, yang ia tampilkan di sosial media atau kepada banyak teman.
Merasa hidupnya adalah yang paling pahit. Mereka cenderung berteman dengan yang melow juga seperti mereka. Karena, terlalu sering ia berduka di sana-sini, lalu mendapat sosok teman yang senasib dengannya, maka akan menjadi suatu kompetisi hebat dalam mempeloporkan siapa manusia paling menyedihkan di dunia ini.
Saya fikir ini hanya opini gila saya tentang cerminan seorang teman. Ternyata ini juga diakui penulis dalam buku-bukunya bagaimana tokoh menemukan seorang teman, seperti Nanda, Oktastika dan penulis lain.
Ayo coba lihat sekeliling kita. Bagaimana sosok teman terdekat kita. Apakah sama bahagia seperti kita. Atau sama menyedihkannya seperti kita?
Untuk bahagia, berbahagialah tanpa syarat. Akan memberi pelajaran bagi kita bagaimana menjadi seorang yang tabah dan ikhlas dan menjalani kehidupan. Tetap tenang, tetap santai dan selalu bahagia.
Sial! Kebanyakan menganggap saya gila. Karena saya selalu tertawa, tersenyum, bercerita duka pun saya jadi bahan tertawaan.

Uuuuuuuu
BalasHapus