Kalau ada yang bilang,
jangan selalu bermimpi, saya tak masalah dengan itu. Yang jelas karena mimpi
yang saya tulis, saya sampai ke sini, Simeulue.
Air dingin nama desanya, di situlah tempat yang akan membiarkan saya sebagai tempat peristirahatan
selama di Simeulue, benar sangat banyak sekali pertanyaan di kepala saya yang
akhirnya saya pilah sendiri mana yang harus ditanyakan ke Mira.
Setiap hari,
saya temukan jawabannya. Satu hal yang baru saja saya dapatkan jawabannya, itu antara
mama dan saya. Karena pada dasarnya perginya saya di pulau seberang, tanpa
izin, tanpa pamit, dan tanpa basa-basi perbincangan akan pergi berlibur.
![]() |
Malam tanggal 17
Maret lalu, saya berangkat. Dan saya baru bilang ke mama di tanggal 22
Maretnya. Ya tetap dengan rasa bimbang, akhirnya mama tak marah kan. Mau gimana
lagi, toh saya sudah di sini.
Seperti apa Simeulue, Isma ?
Biasanya, saya
menikmati waktu liburan butuh waktu beberapa hari untuk nyaman dengan daerah
yang saya datangi. Dan Simeulue, tak memberi kesan buruk sejak saya datang
sampai sekarang. Saya langsung nyaman dan lengket dengan daerah ini. kau tau
kenapa?
Tak jauh beda
dengan Banda Aceh, sih. Tapi saya belum tau betul gimana Banda Aceh, karena ke
sana hanya tiga sampai empat hari saja. Baik lah, saya akan memulai misi untuk
membuat kalian bersemangat datang ke sini.
1.
Penduduk
yang ramah
Sebagai pelopor
Yim atau senyum, saya merasa sangat dihargai pesona senyum saya di sini. Bukan
gimana-di Medan, saya senyum dengan orang tidak dikenal, atau bahkan orang yang
dikenal, saya dibiarkan begitu saja, ada yang mencurigai saya, ada yang malah
menggoda saya, dan malah memasang wajah kecut.
Ya itu tidak semua sih, mungkin karena warga Medan begitu ramai, juga bentuk kewaspadaan diri. Ingat, tidak semua.
Ya itu tidak semua sih, mungkin karena warga Medan begitu ramai, juga bentuk kewaspadaan diri. Ingat, tidak semua.
Di Simeulue,
pertama datang saya sudah banyak disambut dengan senyum penduduk sini. Awalnya
saya tak menerapkan hobi ini, untuk senyum kebanyak orang, alhasil saya
dapatkan itu sendiri.
Ternyata terjawab, ujar Mira, Orang sini memang ramah-ramah. Tak hanya ramah, tutur lembutnya juga benar-benar menyetuh hati.
![]() |
| Senyum meneduhkannya terpakai di sini. Ini hanya bonus wkwk |
Ternyata terjawab, ujar Mira, Orang sini memang ramah-ramah. Tak hanya ramah, tutur lembutnya juga benar-benar menyetuh hati.
2.
Mayoritas
islam yang benar-benar islam
Sudah belajar
agama, sudah belajar bernegara, sudah belajar di mana saja, sudah banyak
menemui manusia, pastilah sudah sering melihat fenomena orang islam bukan
seperti orang islam.
Entah itu segi penampilan, orang islam tapi tak pakai jilbab. Segi ibadah, orang islam tapi milih jualan daripada salat. Segi kebiasaan, orang islam tapi gak suka kebersihan. Atau hal lain.
Entah itu segi penampilan, orang islam tapi tak pakai jilbab. Segi ibadah, orang islam tapi milih jualan daripada salat. Segi kebiasaan, orang islam tapi gak suka kebersihan. Atau hal lain.
Simeulue, islam
benar-benar ditegakkan. Saya kembali dan terus berdecak kagum dengan lingkungan
di sini. Sejak awal sebelum berangkat, Mira juga bilang, di sana kau gak liat orang gak
pake jilbab. Saya membuktikannya sendiri, dan benar.
Semua muslimah
di sini memakai jilbab, cadar dan penampilan baju serba warna hitam dari atas
sampai bawah tidak menjadi suatu keheranan bagi warga sini.
Pun bukan hanya satu titik saja saya jelajahi, berkeliling sini juga saya perhatikan betul, bahwa benar-benar semua muslimah di sini pakai jibab. Walau pun tidak semua memakai jilbab syari.
Pun bukan hanya satu titik saja saya jelajahi, berkeliling sini juga saya perhatikan betul, bahwa benar-benar semua muslimah di sini pakai jibab. Walau pun tidak semua memakai jilbab syari.
Fakta yang saya
dapat lagi, di sini tidak saya lihat gereja atau tempat ibadah lain. Katanya,
mungkin ada gereja, tapi tidak ada lambang agama nasrani atau sejenisnya.
Benar, sepanjang jalan saya menyusuri memang tidak ada. Masjid di sini sangat banyak, bahkan sangat berdekatan jaraknya.
Benar, sepanjang jalan saya menyusuri memang tidak ada. Masjid di sini sangat banyak, bahkan sangat berdekatan jaraknya.
Azan magrib
berkumandang, semua warung, toko, dagangan ditutup. Ternyata itu sudah menjadi
tradisi sejak dulu. Bukan hanya magrib, ketika waktu salat jumat juga ditutup.
Jalanan yang biasanya sepi, semakin sepi kalau sudah saatnya masuk waktu salat. Oh iya, terdapat juga pamphlet asmaul husna di jalanan. Begitu indah, kan. Pengguna jalan yang lewat secara otomatis pun terikut membaca pamplet itu.
Jalanan yang biasanya sepi, semakin sepi kalau sudah saatnya masuk waktu salat. Oh iya, terdapat juga pamphlet asmaul husna di jalanan. Begitu indah, kan. Pengguna jalan yang lewat secara otomatis pun terikut membaca pamplet itu.
3.
Asri
dan Sunyi
Wajar sepi, ini
bukan jalan lintas. Begitupun saya sangat suka. Menjadi kebanggaan hadir ke
sini agar banyak mendapat inspirasi menulis, bukan hanya mengambil foto untuk
pencitraan semata saja.
Saya fikir ini sunyi karena efek Covid 19. Ternyata memang beginilah Simeulue itu. Kota di seberang pulau yang saya berkali-kali bertanya, ini jalan lintas? Menuju mana? Kota nya di mana? Terjawab, Mira membawa saya berkeliling. Dan memang ini lah kota nya.
Saya fikir ini sunyi karena efek Covid 19. Ternyata memang beginilah Simeulue itu. Kota di seberang pulau yang saya berkali-kali bertanya, ini jalan lintas? Menuju mana? Kota nya di mana? Terjawab, Mira membawa saya berkeliling. Dan memang ini lah kota nya.
Keterkejutan
saya makin muncul saat tau bahwa di sini tindak kriminalitas sangat rendah. Lihat-mobil
atau sepeda motor, semua dibiarkan di luar rumah. Tidak aka nada yang maling.
Mencuri atau hal lain.
4.
Penuh
wisata alam
Ternyata ini alasan orang-orang sini damai. Syukur juga, wabah corona
tidak ada sampai di Kota ini. Semua adalah pulau.
Asin airnya. Biru warnanya. Bersih tempatnya. Sepi suasananya. Aman faktanya. orang-orangnya terbiasa melihat keindahan seperti ini, maka tak heran merasa nyaman, damai dan tentram.
Sungguh, keindahannya akan saya lanjutnya di tulisan berikutnya. Empat pantai yang berbeda namanya sudah aya kunjungi. Emang sama, sama-sama biru warnanya.
![]() |
| Asli, warnanya biru |
Asin airnya. Biru warnanya. Bersih tempatnya. Sepi suasananya. Aman faktanya. orang-orangnya terbiasa melihat keindahan seperti ini, maka tak heran merasa nyaman, damai dan tentram.
Sungguh, keindahannya akan saya lanjutnya di tulisan berikutnya. Empat pantai yang berbeda namanya sudah aya kunjungi. Emang sama, sama-sama biru warnanya.
Mari berkunjung, mari merasa
candu dengan Simeulue, saya tak suka melebih-lebihkan sesuatu. Memang begini
adanya.





Seruu banggett!!! Maulah kesana
BalasHapus