Naik kapal gede dan selama itu, saya berdecak kagum melihat penduduk kapal. Corona seakan bukan jadi perbincangan mereka saat itu.
#asli panjang banget
Sebelumnya, saya katakan akan menulis tentang masa sulit saya sejak di kapal menuju Sinabang, Aceh. Ya saya juga berfikiran kehidupan saya di sini seakan terngiang dengan novel Rindu, Tere Liye. Sampai berbulan-bulan di kapal. Ternyata tidak, hanya merasakan sesuatu yang menegangkan.
Saya gak paham kewaspadaan apa yang dianut warga di kapal dari Labuhanhaji menuju Sinabang. Pasca sadarnya saya dari lamunan, bahwa saya benar-benar liburan ke Simeulue, Aceh, karena gak sangka saya senekat itu, saya pun memerhatikan dengan jelas orang-orang yang naik kapal itu.
Kata seorang teman, yang membawa saya ke sini, Gak biasanya serame ini. jadi saya fikir ini momen yang langka baginya.
Pertama kali saya naik kapal segede ini dan selama ini, saya dibuat heran sejak awal naik. Pertama, saya bingung mencari tempat duduk. Karena di lantai dua sangat padat manusianya, dan di lantai tiga atau yang paling atas, pun sangat padat penduduknya.
Akan gimana saya bertahan di kapal selama 10 jam. Sebenarnya saya kemarin agak cemas, Cuma ya saya tetap bersikap stay cool aja, seperti tidak ada kecemasan apapun terhadap diri saya.
Kedua, saya dibuat heran dan berdecak kagum karena melihat penduduk kapal seperti tidak peduli dengan apa itu, berita corona itu. Benar-benar tak ada yang peduli soal itu rasanya.
Karena mereka semua bercampur dengan orang yang tak dikenal, kata teman saya, Mira. Kalau di kapal, mau kau tidur gak ada orang yang peduli, siapa sebelahnya, di mana tidurnya, dan gimana posisi tidurnya. Ya saya fikir itu ah-masa sih kayak gitu. Tapi ternyata benar, sih. Penduduk kapal itu, semua menyelamatkan diri masing-masing.
Tapi untuk kasus corona, saya juga bingung letak menyelamatkannya di mana, titik kewaspadaan mereka itu seperti apa, dan alasan mereka susun gembung tidurnya dengan orang yang tak mereka kenal, juga alas tidur mereka yang sudah terpijak-pijak penduduk lain di kapal pun tidak steril, benar-benar saya dibuat heran.
Sebagai orang yang sering berfikir, iya maklum, saya bego jadi suka aja mikir tanpa nemuin jawaban, saya juga melihat sisi lain penduduk kapal, juga sangat egois. Maka tak heran mereka pun acuh kepada corona. Mungkin prinsipnya sama seperti saya dulu, yaitu yang penting tidur. Hemmm oh penduduk +62 terasiq.
Saya tak menyebutnya dengan kesialan yang menimpa, tapi saya malah menganggapnya dengan pengalaman pribadi saya.
Pukul 01.10 pagi, saya yang juga tidur tak tentu arah, bersebalahan dengan wanita yang tak saya kenali, ditambah keadaan sekitar tempat tidur tidak mendukung sekali untuk anak sehat seperti saya.
Saya pun dibangunkan Mira, Isma, hujan. Saya terduduk dengan mata masih sayu karena mengantuk dan kepala juga oyong. Itu kapal beneran begoyang kena arus laut, kapal agak oleng, penduduk kapal gelisah. Padahal itu belum hujan. Hanya saja Nampak kilat langsung dari awan, ya berhubung kami paling atas kapal, langsung beratap awan.
Saya tak fikir panjang, saya lanjutkan tidur saya. Belum lama, saya sudah dibangunkan
lagi. Kali ini benar-benar hujan, bayangin gimana rasanya lo lagi enaknya mimpi main hujan sambil buat story anak indee yang menunggu pesanan kopi, tiba-tiba diguyur hujan beneran, dan ketika itu saya benar-benar heran, liat sisi kanan, kiri ramai penduduk kapal berdiri, mereka mencari tempat perlindungan.
Dan lihat, penduduk kapal yang sisi tengah, tempat yang terdapat teratak, enak masih tertidur pulas woy. Seakan kami yang berdiri-diri itu kelihatan lagi berkunjung ke rumah duka kali ya. Malah seorang uwak yang tidur di pinggir tidak mau bangun ketika kami sibuk-sibuknya lewat, menyebalkan sekali mereka.
Saya fikir, penduduk kapal yang tidur di bawah teratak akan bangun dan berbagi tempat tidur mereka, agar kami tidak terkena hujan, namun saya saya. Ternyata kehidupan kapal itu benar-benar seperti yang saya ucapkan tadi, egois. Saya bersama teman saya pun turun ke bawah tangga.
Di lantai dua kami memandang sampai ke sudut kapal, ternyata tidak ada cela. Semua
penduduk kapal tertidur tanpa merasa gelisah seperti penduduk kapal yang kehujanan. Akhirnya kami berdua mendapatkan sedikit tempat untuk tidur, saya benar-benar tak ingat persoalan corona, melihat penduduk kapal begitu enak tertidur pulas saya pun jadi ikut tertidur, dengan posisi ditengah-tengah,
Astaghfirullah, saya ingin melek terus biar enggak dekat-dekat banget sama seorang adek laki-laki di dekat kaki saya, tapi ya gimana. Namanya juga mahasiswa biasa yang enggak bisa nahan kantuk.
![]() |
| Sempat-sempatnya Mira foto ini, saya juga ga sadar. Sungguh, lebih menyeramkan dilihat secara langsung. |
Jadilah kami berdua tidur di situ, sebentar saja. hujan reda, kami kembali ke atas, ternyata kami ketinggalan rombongan penduduk kapal yang kehujanan, mereka sudah terlelap tidur dengan semilir angin di pukul 03.45 WIB.
Hati-hati untuk lewat, karena semua penduduk banyak yang tidur dekat tangga, dan seakan tak memberi celah untuk lewat, malah Mira dimarahi seorang wanita, Kalau lewat ngomong la. Gak usah main langkahi aja.
Sadis, ia seakan seperti zombie yang bangun dari tidurnya. Penduduk kapal begini nih yang kayaknya harus dimusnahkan, masa uda dibangunin,
tetap aja gak bangun, tiba dilewati, marah. Sehat, mbak?
Waktu itu saya memanfaatkan tidur saya. Sebelumnya, saya lihat lagi penduduk kapal yang tidur tenang, dengan posisi tidur di atas matras yang nyaman, bersebalahan dengan orang yang dikenal, posisi kepala bertemu dengan kaki orang lain, ada yang posisinya saling membelakangi, dan ada yang tidur menghadap awan hitam.
Itulah saya, yang mengambil pelajaran dan mengumpulkan banyaknya pertanyaan di otak saya. Semua tidur, semua tenang, semua aman, damai, tanpa corona, tanpa khawatir berdesakan dengan manusia lain, dan tanpa menganut kewaspadaan seperti yang diimbau Presiden RI.
![]() |
| Sudah pagi, penduduk kapal sudah turun. |
Penduduk kapal, saya rindu sekarang. Mari, tidur tenang lagi.



Komentar
Posting Komentar