Kau pernah pergi tanpa rencana? Dan saat berhasil pergi, kau dibilang gila oleh banyak teman.
Memang diperintahkan untuk libur kuliah, dan menjalankan perkuliahan lewat online, pun hastag dirumahsaja menjadi trending di kalangan masyarakat Indonesia, mahasiswa khususnya.
Tapi, lagi-lagi manusia yang satu ini ingin sekali mencoba hal baru, dan melakukan kebebasan lagi di hidupnya. Dengan alasan, masa libur gak boleh disia-siakan. Ah-dasar. Isma, pelan-pelan dan hati-hati, corona berbahaya.
Begini mulanya perjalanan itu di mulai.
Pukul siang, seorang teman yang sering saya sebut di media sosial, namanya Mira mengajak lagi, setelah malam harinya nyaris berhasil mengajak pergi ke kampung halamannya. Dan siang itu, ia berhasil menggoda lagi untuk pergi ke kampungnya sana, Simeulue, Aceh.
Tak memegang uang banyak, lagi-lagi berpergian hanya dengan modal nekat. Harap-harap inspirasi menulis bertambah lagi. Sore harinya kami bertemu. Tak membawa begitu banyak pakaian. Pukul setengah sembilan malam, mobil travel datang yang akan membawa kami ke Labuhanhaji, atau pelabuhan perbatasan menuju Simeulue, Aceh.
![]() |
| Ss Mira di story Whatsapp. Karena saya tak punya foto sendirian prakeberangkatan. |
Rute yang akan dilewati, yaitu; Medan – Berastagi – Merek – Sidikalang – Pak-pak –
Subusalam – Tapak Tuan – Labuhanhaji. Bermodal jajanan micin dan air mineral, juga tak lupa antimo, yang saya menyebutnya dengan obat tidur, kami sampai di Labuhanhaji pukul 1 siang. Ya kurang lebih sekitar 16 jam kami dalam perjalanan dari Medan menuju Labuhan.
Kata Mira, hanya menghabiskan waktu 12 jam diperjalanan, tapi ternyata travel yang kami naiki, berketepatan supirnya terlalu sering berhenti-katanya.
Kata Mira, hanya menghabiskan waktu 12 jam diperjalanan, tapi ternyata travel yang kami naiki, berketepatan supirnya terlalu sering berhenti-katanya.
Lumayan, fikir otak ini. 16 jam di dalam mobil ternyata tak membikin badan terlalu lelah. Fikir saya lagi, setelah turun dari mobil langsung naik kapal, ternyata tidak. Kapal akan berlayar pukul 10 malam. Kami pun dijemput menuju rumah saudara Mira yang rumahnya tak jauh dari pelabuhan.Tawaran datang lagi, untuk memanjakan diri di perairan, yaitu Sungai Simpang. Sungai yang menjadi tempat cuci kain warga Gampong Pisang dan sekitarnya. Sepanjang perjalanan, hanya melihat keasrian lingkungan menuju sungai, mulai dari perumahan warga yang bersih, selokan yang bening-asli, kalau di Medan, warnanya coklat bahkan hitam, ditambah ada sampah yang mengalir.
Bukan hanya itu, penduduknya juga ramah, wajahnya meneduhkan, pakaiannya sopan, semua mengenakan jilbab, ada yang tak berjilbab, tapi tetap sopan, berpakaian tak menerawang dan berlengan panjang.
Agak familiar dengan kata sungai, karena di lingkungan kutinggal, pun banyak sungai, setelah tiba-ternyata airnya jernih. Batu didasar pun kelihatan. Aduh-ini mah bikin nyaman banget.
Lepas-tuntas-bebas. Aku bebas di sana.
Malamnya kami sudah harus menuju pelabuhan. Itu pukul setengah delapan. Jam yang menurutku sangat cepat, karena berlayar itu pukul 10 malam. Awalnya mengira begitu.
Dengan penuh ramai orang di kapal (saya akan cerita bagian ini di lain waktu, karena benar-benar menegangkan), membuat diri ini tetap tak mau kalah dan harus segera mungkin menggeletakkan badan di atas matras yang kami sewa.
Paginya, sampailah kami pukul 8 pagi. Oh-begini rupanya rasanya naik kapal berjam-jam dengan posisi paling atas. Antara menegangkan, dan menyenangkan.
Dengan penuh ramai orang di kapal (saya akan cerita bagian ini di lain waktu, karena benar-benar menegangkan), membuat diri ini tetap tak mau kalah dan harus segera mungkin menggeletakkan badan di atas matras yang kami sewa.
Paginya, sampailah kami pukul 8 pagi. Oh-begini rupanya rasanya naik kapal berjam-jam dengan posisi paling atas. Antara menegangkan, dan menyenangkan.
Sinabang, saya datang.
Naik becak kami pun melanjutkan perjalanan lagi menuju rumah Mira, Air Dingin, sekitar 5 km tempuhnya dari Pelabuhan. Ini belum seberapa. Akan ada cerita yang agaknya menarik untuk diterbitkan. Simeulue, 26 jam sudah saya lewati menghampirimu.




Komentar
Posting Komentar