Langsung ke konten utama

26 Jam Menuju Simeulue, Aceh


Kau pernah pergi tanpa rencana? Dan saat berhasil pergi, kau dibilang gila oleh banyak teman.
Memang diperintahkan untuk libur kuliah, dan menjalankan perkuliahan lewat online, pun hastag dirumahsaja menjadi trending di kalangan masyarakat Indonesia, mahasiswa khususnya. 

Tapi, lagi-lagi manusia yang satu ini ingin sekali mencoba hal baru, dan melakukan kebebasan lagi di hidupnya. Dengan alasan, masa libur gak boleh disia-siakan. Ah-dasar. Isma, pelan-pelan dan hati-hati, corona berbahaya.

Begini mulanya perjalanan itu di mulai.
Pukul siang, seorang teman yang sering saya sebut di media sosial, namanya Mira mengajak lagi, setelah malam harinya nyaris berhasil mengajak pergi ke kampung halamannya. Dan siang itu, ia berhasil menggoda lagi untuk pergi ke kampungnya sana, Simeulue, Aceh.

Tak memegang uang banyak, lagi-lagi berpergian hanya dengan modal nekat. Harap-harap inspirasi menulis bertambah lagi. Sore harinya kami bertemu. Tak membawa begitu banyak pakaian. Pukul setengah sembilan malam, mobil travel datang yang akan membawa kami ke Labuhanhaji, atau pelabuhan perbatasan menuju Simeulue, Aceh.
Ss Mira di story Whatsapp.
 Karena saya tak punya foto sendirian prakeberangkatan.
Rute yang akan dilewati, yaitu; Medan – Berastagi – Merek – Sidikalang – Pak-pak –
Subusalam – Tapak Tuan – Labuhanhaji. Bermodal jajanan micin dan air mineral, juga tak lupa antimo, yang saya menyebutnya dengan obat tidur, kami sampai di Labuhanhaji pukul 1 siang. Ya kurang lebih sekitar 16 jam kami dalam perjalanan dari Medan menuju Labuhan.

Kata Mira, hanya menghabiskan waktu 12 jam diperjalanan, tapi ternyata travel yang kami naiki, berketepatan supirnya terlalu sering berhenti-katanya.

Lumayan, fikir otak ini. 16 jam di dalam mobil ternyata tak membikin badan terlalu lelah. Fikir saya lagi, setelah turun dari mobil langsung naik kapal, ternyata tidak. Kapal akan berlayar pukul 10 malam. Kami pun dijemput menuju rumah saudara Mira yang rumahnya tak jauh dari pelabuhan.
Tawaran datang lagi, untuk memanjakan diri di perairan, yaitu Sungai Simpang. Sungai yang menjadi tempat cuci kain warga Gampong Pisang dan sekitarnya. Sepanjang perjalanan, hanya melihat keasrian lingkungan menuju sungai, mulai dari perumahan warga yang bersih, selokan yang bening-asli, kalau di Medan, warnanya coklat bahkan hitam, ditambah ada sampah yang mengalir.

Bukan hanya itu, penduduknya juga ramah, wajahnya meneduhkan, pakaiannya sopan, semua mengenakan jilbab, ada yang tak berjilbab, tapi tetap sopan, berpakaian tak menerawang dan berlengan panjang.


Agak familiar dengan kata sungai, karena di lingkungan kutinggal, pun banyak sungai, setelah tiba-ternyata airnya jernih. Batu didasar pun kelihatan. Aduh-ini mah bikin nyaman banget.

Lepas-tuntas-bebas. Aku bebas di sana.

Malamnya kami sudah harus menuju pelabuhan. Itu pukul setengah delapan. Jam yang menurutku sangat cepat, karena berlayar itu pukul 10 malam. Awalnya mengira begitu.

Dengan penuh ramai orang di kapal (saya akan cerita bagian ini di lain waktu, karena benar-benar menegangkan), membuat diri ini tetap tak mau kalah dan harus segera mungkin menggeletakkan badan di atas matras yang kami sewa.

Paginya, sampailah kami pukul 8 pagi. Oh-begini rupanya rasanya naik kapal berjam-jam dengan posisi paling atas. Antara menegangkan, dan menyenangkan.

Sinabang, saya datang.

Naik becak kami pun melanjutkan perjalanan lagi menuju rumah Mira, Air Dingin, sekitar 5 km tempuhnya dari Pelabuhan. Ini belum seberapa. Akan ada cerita yang agaknya menarik untuk diterbitkan. Simeulue, 26 jam sudah saya lewati menghampirimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...