Maka
lanjutkan, jika kamu juga merasakannya. Jangan-jangan, kamu mengiyakan apa yang
saya tuangkan.
Soal kemarin, saya
menyebutnya jujurnya orang bodoh. (16/1) hari riweh saya ketika saya sendirian
yang remedial ujian akhir semester tujuh pada mata kuliah Fisika Statistik.
Setelah berdrama ketika saya memohon untuk tidak mendapat nilai C, karena saya
percaya ia baik, lagian mana ada mahasiswi bandalnya seperti saya ini haha.
Masa saya harus mengulang mata kuliah itu di semester sembilan.
Pertama kali
bagi saya memohon pertolongan ke dosen itu, kalau beliau baca tulisan ini, ya
saya gak tau deh harus gimana. Benar-benar pertama kali, biasa juga kalau dapat
nilai segitu saya sadar diri. Wkwk. Terjadilah saya remedial sendirian,
terkhilaf entah sengaja entah memang gila, perbincangan perihal jujur pun
dimulai.
Oh iya, itu berketepatan saya dinyatakan rendah lagi nilai remedialnya. Wkwk. (suatu kebanggan woy saya dapat nilai di atas 50 di mata kuliah yang paling rumit bagi saya, dan dengan otak saya sendiri)
Oh iya, itu berketepatan saya dinyatakan rendah lagi nilai remedialnya. Wkwk. (suatu kebanggan woy saya dapat nilai di atas 50 di mata kuliah yang paling rumit bagi saya, dan dengan otak saya sendiri)
Dosen : Udah kan, udah tau nilai kamu berapa kan?
Saya : (senyum sakit)
Dosen : Nilai kamu ditambahpun tetap enggak mencukupi. Lihat, nilai UAS
kamu rendah sekali ini Isma
Saya : (senyum sakit). Berarti prinsip jujur enggak dipakek di dunia
pendidikan ya pak? Oke.
Dosen : Bukan begitu, saya pun harus menulis apa yang tertera dong.
Iyakan?
Sampai sini saya
diam sejenak. Saya tiba-tiba merasa bapak tersebut sedang dilema juga. Ah-pasti
dia paham maksud saya, toh dia juga pernah menjadi seorang pembelajar. Dan
sekarang ia seorang pendidik. Saya tak meneruskan kalimat saya.
Saya sangat bersyukur, otak dan hati ini lekas sadar, bahwa untuk saling menghargai prinsip itu baik. Ia menghargai prinsip jujur saya, walau saya harus tanggung akibatnya.
Dan ia sedang mempertahankan prinsipnya sebagai pengajar yang jujur dan transparan. Wahai pendidik, bisa kah kalian menjadi jujur dan transparan seperti ia tanpa memandang bulu dan merendahkan?
Saya sangat bersyukur, otak dan hati ini lekas sadar, bahwa untuk saling menghargai prinsip itu baik. Ia menghargai prinsip jujur saya, walau saya harus tanggung akibatnya.
Dan ia sedang mempertahankan prinsipnya sebagai pengajar yang jujur dan transparan. Wahai pendidik, bisa kah kalian menjadi jujur dan transparan seperti ia tanpa memandang bulu dan merendahkan?
Saya sangat
menyesal, saya sedih karena melihat dosen yang begitu sabar mengajari saya
manusia aneh dan bodoh ini wkwk. Saya kasihan pada banyak dosen, tapi saya juga
kasihan dengan diri saya sendiri apabila saya sering diremehkan. Padahal, saya
juga (akan) bisa jadi orang pintar dan sukses nantinya, kan? Haha-semoga.
Kemarin, begitu
mudahnya saya mengobati luka sendiri, saya menyesal sama kebodohan saya, sampai
ketika keluar dari ruang prodi, saya seperti mahasiswa yang tereliminasi dan
sudah tidak punya harapan lagi. Saya meloncat kecil, bernyanyi laskar pelangi,
menyepak batu di depan saya, tersenyum, tertawa sendiri, sampai di gerbang.
Saya sadar, untuk apa saya menyesal pada prinsip jujur?
Bisa jadi
engkau, yang saat ini sedang menjalani pilihanmu tapi dengan perasaan tak enak,
dan tak nyaman, jangan lupa tetap bawa prinsip jujur. Saya makin hari makin
tenang, kadang jujurnya orang bego memang bikin kesal, tapi tak boleh selalu di
judge juga sih, bisa?
Positif saja, mungkin ia sudah berulang kali belajar tapi tetap tak paham, atau ia sudah belajar tapi daya ingatnya rendah, atau ia sudah menguasai materi, tapi ternyata materinya berbeda dengan yang dipelajarinya. Ternyata, ada begitu banyak pandangan positif dari sisi lain si orang jujur yang bego.
Dari pada harus selalu menyalahkan sang-otak, dan sang-sikap yang suka jujur tapi tak sadar akan kemampuan. Haha-ayolah sesekali tertawa bersama. Menertawakan keriwehan dunia, kejahilan omongan manusia lain, dan menertawakan diri sendiri. Setelahnya, kasihi, jangan lupa kembali ke sang pemilik diri. Karena benar, apalah diri tanpa Allah.
Positif saja, mungkin ia sudah berulang kali belajar tapi tetap tak paham, atau ia sudah belajar tapi daya ingatnya rendah, atau ia sudah menguasai materi, tapi ternyata materinya berbeda dengan yang dipelajarinya. Ternyata, ada begitu banyak pandangan positif dari sisi lain si orang jujur yang bego.
Dari pada harus selalu menyalahkan sang-otak, dan sang-sikap yang suka jujur tapi tak sadar akan kemampuan. Haha-ayolah sesekali tertawa bersama. Menertawakan keriwehan dunia, kejahilan omongan manusia lain, dan menertawakan diri sendiri. Setelahnya, kasihi, jangan lupa kembali ke sang pemilik diri. Karena benar, apalah diri tanpa Allah.
Kamu si orang yang berusaha jujur tapi takut akan kekalahan, koreksi
lagi, bisa kah mempertanggungjawabkan setiap hasil yang didapat?
Kamu si orang jujur tapi tidak sedang mengusahakan diri menjadi
berhasil, koreksi lagi, diam di tempat tanpa usaha mampu kah dikatakan pejuang?
Kamu si orang jujur yang masih berusaha menang, tapi tetap gagal,
koreksi lagi, ibadahmu, caramu, dan etikamu sudah benarkah? Jangan-jangan,
gerutu kecil selama ini yang membuat kita disebut durhaka kepada sang pendidik.
Bukan kamu saja, ini saya,
mereka, kalian, kita. Pejuang ilmu yang sedang berjuang menjadi pendidik yang
baik.


Komentar
Posting Komentar