Langsung ke konten utama

JUJURNYA ORANG BODOH#2


Maka lanjutkan, jika kamu juga merasakannya. Jangan-jangan, kamu mengiyakan apa yang saya tuangkan.


Soal kemarin, saya menyebutnya jujurnya orang bodoh. (16/1) hari riweh saya ketika saya sendirian yang remedial ujian akhir semester tujuh pada mata kuliah Fisika Statistik. Setelah berdrama ketika saya memohon untuk tidak mendapat nilai C, karena saya percaya ia baik, lagian mana ada mahasiswi bandalnya seperti saya ini haha. Masa saya harus mengulang mata kuliah itu di semester sembilan.

Pertama kali bagi saya memohon pertolongan ke dosen itu, kalau beliau baca tulisan ini, ya saya gak tau deh harus gimana. Benar-benar pertama kali, biasa juga kalau dapat nilai segitu saya sadar diri. Wkwk. Terjadilah saya remedial sendirian, terkhilaf entah sengaja entah memang gila, perbincangan perihal jujur pun dimulai.

Oh iya, itu berketepatan saya dinyatakan rendah lagi nilai remedialnya. Wkwk. (suatu kebanggan woy saya dapat nilai di atas 50 di mata kuliah yang paling rumit bagi saya, dan dengan otak saya sendiri)

Dosen  : Udah kan, udah tau nilai kamu berapa kan?
Saya    : (senyum sakit)
Dosen  : Nilai kamu ditambahpun tetap enggak mencukupi. Lihat, nilai UAS kamu rendah sekali ini Isma
Saya    : (senyum sakit). Berarti prinsip jujur enggak dipakek di dunia pendidikan ya pak? Oke.
Dosen  : Bukan begitu, saya pun harus menulis apa yang tertera dong. Iyakan?

Sampai sini saya diam sejenak. Saya tiba-tiba merasa bapak tersebut sedang dilema juga. Ah-pasti dia paham maksud saya, toh dia juga pernah menjadi seorang pembelajar. Dan sekarang ia seorang pendidik. Saya tak meneruskan kalimat saya.

Saya sangat bersyukur, otak dan hati ini lekas sadar, bahwa untuk saling menghargai prinsip itu baik. Ia menghargai prinsip jujur saya, walau saya harus tanggung akibatnya.

Dan ia sedang mempertahankan prinsipnya sebagai pengajar yang jujur dan transparan. Wahai pendidik, bisa kah kalian menjadi jujur dan transparan seperti ia tanpa memandang bulu dan merendahkan?

Saya sangat menyesal, saya sedih karena melihat dosen yang begitu sabar mengajari saya manusia aneh dan bodoh ini wkwk. Saya kasihan pada banyak dosen, tapi saya juga kasihan dengan diri saya sendiri apabila saya sering diremehkan. Padahal, saya juga (akan) bisa jadi orang pintar dan sukses nantinya, kan? Haha-semoga.

Kemarin, begitu mudahnya saya mengobati luka sendiri, saya menyesal sama kebodohan saya, sampai ketika keluar dari ruang prodi, saya seperti mahasiswa yang tereliminasi dan sudah tidak punya harapan lagi. Saya meloncat kecil, bernyanyi laskar pelangi, menyepak batu di depan saya, tersenyum, tertawa sendiri, sampai di gerbang. Saya sadar, untuk apa saya menyesal pada prinsip jujur?

Saya selipkan ini. Dan gak tau apa motivasinya.

Bisa jadi engkau, yang saat ini sedang menjalani pilihanmu tapi dengan perasaan tak enak, dan tak nyaman, jangan lupa tetap bawa prinsip jujur. Saya makin hari makin tenang, kadang jujurnya orang bego memang bikin kesal, tapi tak boleh selalu di judge juga sih, bisa?

Positif saja, mungkin ia sudah berulang kali belajar tapi tetap tak paham, atau ia sudah belajar tapi daya ingatnya rendah, atau ia sudah menguasai materi, tapi ternyata materinya berbeda dengan yang dipelajarinya. Ternyata, ada begitu banyak pandangan positif dari sisi lain si orang jujur yang bego.

Dari pada harus selalu menyalahkan sang-otak, dan sang-sikap yang suka jujur tapi tak sadar akan kemampuan. Haha-ayolah sesekali tertawa bersama. Menertawakan keriwehan dunia, kejahilan omongan manusia lain, dan menertawakan diri sendiri. Setelahnya, kasihi, jangan lupa kembali ke sang pemilik diri. Karena benar, apalah diri tanpa Allah.

Kamu si orang yang berusaha jujur tapi takut akan kekalahan, koreksi lagi, bisa kah mempertanggungjawabkan setiap hasil yang didapat?

Kamu si orang jujur tapi tidak sedang mengusahakan diri menjadi berhasil, koreksi lagi, diam di tempat tanpa usaha mampu kah  dikatakan pejuang?

Kamu si orang jujur yang masih berusaha menang, tapi tetap gagal, koreksi lagi, ibadahmu, caramu, dan etikamu sudah benarkah? Jangan-jangan, gerutu kecil selama ini yang membuat kita disebut durhaka kepada sang pendidik.

Bukan kamu saja, ini saya, mereka, kalian, kita. Pejuang ilmu yang sedang berjuang menjadi pendidik yang baik.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...