Langsung ke konten utama

Kau Bebas Hidup


Tak semua harus sesuai inginmu. 
Tak semua juga, harus memahamimu. 
Tapi, semua berhak sama sepertimu, 
bebas bekomentar dan bebas menilai.


Sesekali kudengar keluhan beberapa teman, yang menyatakan dirinya merasa serba salah jika harus berkomunikasi dengan temannya. Ada pula yang bercerita, kalau tulisannya di caption setiap postingannya sangat tak sesuai dengan sipembaca. 

Rasanya ia sudah seperti cyberbullying, yang sekali berkarya, langsung disalahkan. Barangkali bercanda, tapi ternyata canda temannya sangat tak mengenakkan hati dan fikirannya.

Sial,
Sama juga sepertiku.

Aku membangunkan otak ini yang telah lama hanyut dalam keluhannya. Ia malah bercerita seolah dirinya tak punya teman. Punya, tapi tak benar-benar teman. Karena teman yang ia maksud adalah yang dapat melindunginya mana kala ia terjatuh dan terpuruk seperti itu.

Aku bertanya dalam hati, caption aja jadi masalah temannya. Dan jadi masalah dia.

Gimana aku?
Yang berani nulis buku, terus banyak dapat kritikan.

Gimana aku?
Yang nulis di blog tapi ada aja yang komen sama sekali enggak ngebangun.

Gimana aku?
Yang setiap bikin postingan status wa atau ig, malah dibilang gak mendidik. Enggak penting. Dan terlalu banyak guyon.

Apa aku harusnya seperti dia?
Mengeluhkan luka? 
Berharap perubahan. 
Dan berharap permohonan maaf. 
Rasanya tidak.

Benar semua orang punya cara masing-masing. Tapi menyontoh cara orang lain rasanya tak jadi masalah.
Abai-

Kau bisa saja berpura-pura tidak tau, tidak mendengar dan membaca apa yang dikatakan temanmu. Sudah dewasa, pasti sudah tau, mana kalimat yang membangun, berbentuk nasihat, dan mana kalimat yang menjatuhkan.

Beberapa orang ada yang menganggap semua omongan orang lain, ialah bentuk kritikan, bentuk peduli dan bentuk nasihat, tapi tak semua orang juga paham akan semua itu. Kalau kau seperti itu, baguslah. Semua hal kau ambil nilai positifnya. Jika tidak seperti itu, kau harus menepi dari mereka. Jangan sampai jatuh dan menjadi penghambat dalam berkarya.

Semua orang bebas menikmati hidupnya. Setiap orang, ada cara sendiri bagaimana menjalani hidupnya. 

Kau juga boleh, mengajarkan arti bersabar kepada mereka yang sudah mencabik hatimu. Dan berusaha menghambat karyamu tanpa sengaja. Memangnya bisa? Bisa, dengan menuliskannya lagi.

Disebut menyindir, dianggap kekanakan karena menulis tentang mereka, tak apa. Itu juga cara kita dalam membentengi diri sendiri. Agar kita jauh dari dampak parah cyberbullying.

Kalau bukan dari medsos?
Harusnya kita lebih pandai lagi melindungi hati kita sendiri. Jika disindir dengan, "Ngapain kau itu buat kekgini, kekgitu, jangan nulis tentang ini, jangan buat video tentang itu," Atau lainnya, ya ucapkan saja, Aku berkarya bukan untukmu. Mudahkan?

Kalau mau ambil positifnya lagi, ya silahkan. Tanyakan, seharusnya baiknya bagaimana? Dan kenapa tidak harus seperti itu? 

Jika dia manusia pengkritik yang pintar, harusnya dia juga pemberi solusi terbaik juga.

Atau, kau ingin usil? Tanyakan, "Kau bisa gak buat kekgini?" Atau, "Kau bisa? Ajarkan aku biar jadi hebat,"

Apa jawabannya?
Tak mustahil, aku pernah bertanya hal itu, dan ia membuatku tertawa, karena jawabnya, tak lain dan tak bukan ialah Tidak tau. Dan bahkan ia tak pandai sama sekali.
Ekspresi menahan tawa.
Ah aku, ternyata aku salah satu orang pintar di kehidupannya.

Hidup itu, bebas kan? Mudahkan? Jangan berharap manusia lain untuk melindungi dan menolong kita. Diri kita saja dulu, kuatkan. Kala jatuh, tolong ia. Kala bangkit, bantu dia agar bertahan. Karena, tak semua orang berhak mencampuri kita. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...