Pasca dilantiknya Presiden RI dan diresmikannya mentri-mentri baru, ternyata perpolitikan Indonesia tak kunjung usai. Bukan hanya terkait Indonesia, tapi juga di lingkungan kecil, yaitu keorganisasian misalnya, atau bahkan tingkat Universitas.
Rasanya, 2019 sekarang dunia makin tampak kehadiran orang-orang beringas, orang-orang yang haus akan jabatan, dan bahkan orang-orang yang selalu menghalalkan segala cara agar tetap naik, menjadi pemimpin.
Ingin sekali kusebut labelnya, ingin pula kusebut namanya secara terang, tapi katanya ini terlalu berbahaya. Sebab, yang menghancurkan negara, dan silaturahmi, katanya adalah Agama dan Politik. Keduanya tak bisa digabungkan. Kalau membahas agama, larangan atau pantangan beragama, tentulah berbeda dengan politik yang seperti kita lihat sekarang.
Skala universitas, mahasiswa yang haruslah menjadi penyambung lidah masyarakat, menjadi penyalur sumbangsih ide, dan bahkan dianggap sebagai calon pemimpin baik dan berkelas, sekarang sudah antah berantah.
Berbahaya pastinya, menjadi orang yang sibuk berebut jabatan. Apalagi saling mendorong dan memperalat orang lain yang rasanya "bisa diandalkan" untuk menjadi pemimpin.
![]() |
| Sumber : RmolBanten.com |
Diperkirakan, memang banyak orang yang menjadi pemimpin adalah yang dulunya punya latar sebagai aktivis kampus. Sayangnya, kepemimpinan dan keorganisasian baru yang dipegangnya buyar, hancur, dan bahkan tak ternilai positifnya. Hanya gila, haus, dan menjadi kasar, karena jabatan. Tau sebab apa?
Bisa jadi, latar belakangnya adalah ia yang sudah dididik untuk menjadi pemimpin. Mau tak mau, suka tak suka, "aku harus jadi pemimpin". Organisasi prioritasnya tersebut telah mengkadernya untuk, dan harus menjadi pemimpin.
Hai. Kau tak butuh proses? Layak sudah kau menjadi pemimpin? Kau beriman? Kalau benar, kau tak mungkin menghalalkan semua cara agar lawanmu jatuh, dan jalanmu mulus untuk memimpin.
![]() |
| Sumber: Amazon.com |
Kasihan sekali mereka, pihak jujur dan ingin sekali memimpin dengan cara yang suci. Mencoba berusaha memenuhi persyaratan, mencoba mengumpulkan nyali, berkas, dan segala hal yang dibutuhkan hanya untuk memimpin. Beringas manusia kian jadi terdepan.
Manusia-manusia yang tak bisa apa-apa bahkan, yang hanya bisa show up melontar kalimat menyombongkan diri, dan selalu memberi contoh keanggota kalau kita semua harus menjadi pemimpin, kini berhasil menyingkirkan mereka; yang berlaku jujur dan sabar.
Kau, segeralah sadar. Menjadi pemimpin itu memang harus, tapi harus bertanggungjawab, mengetahui apa makna proses, tak menganggarkan jabatan, dan pasti, harus beriman. Sampai sini, kau paham?



Semoga para calon pemimpin lebih terketuk hatinya untuk melalui proses yang seharusnya, bukan malah menghalalkan segala cara demi jabatan di dunia. Sehingga melupakan hari penghisaban di akhirat nantinya. Sebagai pengingat juga untuk kita sebagai mahasiswa harus tetap menjaga integritasnya. Terimakasih sudah memuat tulisan yang menarik. Semangat berkarya!
BalasHapusTak semua pemimpin dianggap pemimpin. Pula tak semua yang mampu memimpin dipilih menjadi pemimpin. Sebab pemimpin tak hanya bertujuan untuk memimpin, melainkan juga harus bermimpi. Mengapa bermimpi? Cobalah untuk bermimpi, dalam mimpi, kita akan menyadari apakah kita cocok untuk memimpin. 😊
BalasHapus