Langsung ke konten utama

Nyaman Berbagi, Ternyata Pakai Seni Berkomunikasi

Masih perihal komunikasi, kalau lalu membahas tentang manusia kuah, yang merupakan metode berkomunikasi orang-orang penuh cakap, kalau sekarang membahas seni membuat orang nyaman berkomunikasi dengan kita.

Aku menulis begini, apa berarti aku ini orang yang asik jika diajak berkomunikasi?Jawabannya tidak, ya. Kita belajar menjadi baik, berucap yang baik-baik, berharap yang baik-baik, agar kebaikan pun kembali pada kita.


Manusia memang beragam, ada yang memiliki sifat cuek, ramah, datar, dan sebagainya. Di balik sifatnya yang begitu, tentu tetap memiliki teman terdekat. Tapi, mungkin tak banyak.

Ada pula orang yang selalu mudah mendapat teman bercerita, bahkan ia selalu dipercaya untuk dijadikan tempat curhat. Kau tahu mengapa? Sebab mereka terlalu nyaman dan sangat disayangkan jika tak dijadikan teman dekat.

Responsif
Sekali ia berbicara ke kita, ia akan terus mencari kita menjadi tempat curhatnya, kalau benar kita telah membuatnya nyaman. Aku suka nyaman berbicara dengan satu teman dekat, karena aku sendiri pun sudah tertarik dengannya yang responsif.

Sedikit orang yang siap mendengar keluh kesah temannya. Jika pun banyak, bisa jadi ia bukan pendengar yang baik. Mudah merespon hanya sebatas “Sabar, ya” “Aku juga gak tahu, kenapa dia jadi kekgitu” “Kok bisalah kekgitu,” cukup.

Padahal, ada saran yang harusnya kita jelaskan ke dia, ada harapan yang harusnya kita sampaikan ke dia, dan ada hiburan yang kita tunjukkan ke dia. jika perihal cerita suka, respon dengan baik, jangan malah berujung curhat juga. Tuntaskan, dengar ia baik-baik. Respon lah.

Menghargai Manusia Lain
Kalau ia mendatangi kita dalam keadaan sedih, tenangkan sedikit. Jangan menjadi seorang teman yang malah mengikut suasana, boleh saja. Tapi, jika kita malah berubah menjadi sosok yang lebih menyedihkan darinya, apa bedanya dengan dia? Apa untungnya dia cerita ke kita yang malah terlalu terbawa suasana?

Hargai ia sebagai teman, pun jika ada orang baru yang berkunjung, dan sekadar bertanya atau meminta saran, tetap hargai. Jawab, jangan pilah-pilah teman. Paling tidak mereka suka dan akan kembali mencari kita dikala mereka butuh kita. Ingat, jangan pilih-pilih, hargai semua manusia yang datang hanya untuk sekadar berbagi dan mencari sandaran.

Jangan Memaksa
Apapun itu, tak usah ada paksaan. Jika ia datang untuk sekadar mengeluh, dan kita bahkan tak mendengar sedikitpun apa alasan ia mengeluh, tak usah dipaksa agar ia cerita secara total dan lengkap. Barangkali hatinya sedang benar-benar hancur, fikirannya benar-benar sedang buyar, ucapannya benar-benar tak terkondisikan. Maka, jangan dipaksa. Kau hanya menambah beban baginya.

Ucapkan “yang sabar,”, ajak berwudu, atau ajak ucap istighfar. Saat hatinya tenang, ia akan kembali untuk berbagi. Yakinlah, dia tak akan nyaman dengan orang yang hobi bertanya Kenapa secara terus-terusan padahal ia sudah menolak untuk menjawab. Biarkan dia sejenak. Semua manusia ada kala butuh waktu untuk sendiri, benar kan?

Pahami Manusia Lain
Ada yang mengira, ia adalah orang yang lantam, setiap ucapannya adalah maut. Perbuatannya selalu menunjukkan ia adalah orang yang keras kepala. Sampai ia dijauhi, padahal, ada manusia lain yang berhasil menjadi teman dekatnya. Kenapa? karena ia mencoba memahami.

Tak peduli baginya jika ia tak dipahami oleh yang lain. Semua kesabaran dikerahkan hanya untuk dekat dengannya, menjadi teman baiknya. Akhirnya, terbukti, ia berhasil menjadi temannya untuk kembali. Dicari saat yang lain melupa dia, dicari saat ia memiliki segalanya.

Orang lain yang telah mencampakkannya, tak akan tahu itu. Karena mereka tak mencoba untuk memahami manusia lain.

Apapun itu, penulis yakin, masing-masing dari kita adalah orang yang memiliki metode sendiri dalam berkomunikasi dan membikin nyaman orang lain bersanding bersama kita. Untuk itu, tetap ucapkan yang baik-baik, agar hasilnya baik-baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...