Masih perihal komunikasi, kalau lalu membahas tentang manusia kuah, yang merupakan metode berkomunikasi orang-orang penuh cakap, kalau sekarang membahas seni membuat orang nyaman berkomunikasi dengan kita.
Aku menulis begini, apa berarti aku ini orang yang asik jika diajak berkomunikasi?Jawabannya tidak, ya. Kita belajar menjadi baik, berucap yang baik-baik, berharap yang baik-baik, agar kebaikan pun kembali pada kita.
Manusia memang beragam, ada yang memiliki sifat cuek, ramah, datar, dan sebagainya. Di balik sifatnya yang begitu, tentu tetap memiliki teman terdekat. Tapi, mungkin tak banyak.
Ada pula orang yang selalu mudah mendapat teman bercerita, bahkan ia selalu dipercaya untuk dijadikan tempat curhat. Kau tahu mengapa? Sebab mereka terlalu nyaman dan sangat disayangkan jika tak dijadikan teman dekat.
Ada pula orang yang selalu mudah mendapat teman bercerita, bahkan ia selalu dipercaya untuk dijadikan tempat curhat. Kau tahu mengapa? Sebab mereka terlalu nyaman dan sangat disayangkan jika tak dijadikan teman dekat.
Responsif
Sekali ia berbicara ke kita, ia akan terus mencari kita menjadi tempat curhatnya, kalau benar kita telah membuatnya nyaman. Aku suka nyaman berbicara dengan satu teman dekat, karena aku sendiri pun sudah tertarik dengannya yang responsif.
Sedikit orang yang siap mendengar keluh kesah temannya. Jika pun banyak, bisa jadi ia bukan pendengar yang baik. Mudah merespon hanya sebatas “Sabar, ya” “Aku juga gak tahu, kenapa dia jadi kekgitu” “Kok bisalah kekgitu,” cukup.
Sedikit orang yang siap mendengar keluh kesah temannya. Jika pun banyak, bisa jadi ia bukan pendengar yang baik. Mudah merespon hanya sebatas “Sabar, ya” “Aku juga gak tahu, kenapa dia jadi kekgitu” “Kok bisalah kekgitu,” cukup.
Padahal, ada saran yang harusnya kita jelaskan ke dia, ada harapan yang harusnya kita sampaikan ke dia, dan ada hiburan yang kita tunjukkan ke dia. jika perihal cerita suka, respon dengan baik, jangan malah berujung curhat juga. Tuntaskan, dengar ia baik-baik. Respon lah.
Menghargai Manusia Lain
Kalau ia mendatangi kita dalam keadaan sedih, tenangkan sedikit. Jangan menjadi seorang teman yang malah mengikut suasana, boleh saja. Tapi, jika kita malah berubah menjadi sosok yang lebih menyedihkan darinya, apa bedanya dengan dia? Apa untungnya dia cerita ke kita yang malah terlalu terbawa suasana?
Hargai ia sebagai teman, pun jika ada orang baru yang berkunjung, dan sekadar bertanya atau meminta saran, tetap hargai. Jawab, jangan pilah-pilah teman. Paling tidak mereka suka dan akan kembali mencari kita dikala mereka butuh kita. Ingat, jangan pilih-pilih, hargai semua manusia yang datang hanya untuk sekadar berbagi dan mencari sandaran.
Jangan Memaksa
Apapun itu, tak usah ada paksaan. Jika ia datang untuk sekadar mengeluh, dan kita bahkan tak mendengar sedikitpun apa alasan ia mengeluh, tak usah dipaksa agar ia cerita secara total dan lengkap. Barangkali hatinya sedang benar-benar hancur, fikirannya benar-benar sedang buyar, ucapannya benar-benar tak terkondisikan. Maka, jangan dipaksa. Kau hanya menambah beban baginya.
Ucapkan “yang sabar,”, ajak berwudu, atau ajak ucap istighfar. Saat hatinya tenang, ia akan kembali untuk berbagi. Yakinlah, dia tak akan nyaman dengan orang yang hobi bertanya Kenapa secara terus-terusan padahal ia sudah menolak untuk menjawab. Biarkan dia sejenak. Semua manusia ada kala butuh waktu untuk sendiri, benar kan?
Pahami Manusia Lain
Ada yang mengira, ia adalah orang yang lantam, setiap ucapannya adalah maut. Perbuatannya selalu menunjukkan ia adalah orang yang keras kepala. Sampai ia dijauhi, padahal, ada manusia lain yang berhasil menjadi teman dekatnya. Kenapa? karena ia mencoba memahami.
Tak peduli baginya jika ia tak dipahami oleh yang lain. Semua kesabaran dikerahkan hanya untuk dekat dengannya, menjadi teman baiknya. Akhirnya, terbukti, ia berhasil menjadi temannya untuk kembali. Dicari saat yang lain melupa dia, dicari saat ia memiliki segalanya.
Orang lain yang telah mencampakkannya, tak akan tahu itu. Karena mereka tak mencoba untuk memahami manusia lain.
Tak peduli baginya jika ia tak dipahami oleh yang lain. Semua kesabaran dikerahkan hanya untuk dekat dengannya, menjadi teman baiknya. Akhirnya, terbukti, ia berhasil menjadi temannya untuk kembali. Dicari saat yang lain melupa dia, dicari saat ia memiliki segalanya.
Orang lain yang telah mencampakkannya, tak akan tahu itu. Karena mereka tak mencoba untuk memahami manusia lain.
Apapun itu, penulis yakin, masing-masing dari kita adalah orang yang memiliki metode sendiri dalam berkomunikasi dan membikin nyaman orang lain bersanding bersama kita. Untuk itu, tetap ucapkan yang baik-baik, agar hasilnya baik-baik.

Komentar
Posting Komentar