Langsung ke konten utama

Harusnya, Kita Punya Teman Ahli Ibadah

Beberapa kali, ceramah ustad selalu menggaungkan tentang bergabung dengan orang soleh atau solehah. Tujuannya tak melulu nikmatnya di dunia, tapi di akhirat. 

Kata ulama, tinggalkan saja dia, yang tak memberi manfaat untukmu sama sekali, memberi manfaat mungkin, tapi tidak untuk akhirat, untuk apa?


Diajak taklim, jawabnya sibuk, gak sempat.
Diingatkan baca quran, responnya nanti, nanti dan nanti kalau pengen.
Diajak salat tepat waktu, jawabnya masih belum beres kerjaannya.
Ditegur karena selalu berbaur dengan bukan muhrim, malah membantah.
Diajarkan tentang ilmu agama, menunjukkan sikap seakan ia sudah pandai dan ahli surga.

Aku bukan ahli ibadah, apalagi ahli surga, maka yang harus kulakukan adalah sadar diri. Aku melangkah sejauh-jauhnya, berkomunikasi mulai dari penting sampai gak penting, dan akhirnya, aku selalu menemukan orang yang imannya lebih baik dariku, ibadahnya lebih terjaga dariku, dan pasti, yang selalu menegurku.

Kau punya teman-teman seperti itu?

Lalu-lalu blogku isinya tentang berkomunikasi, inilah sebenarnya feedbacknya. Baik-baiklah dalam berkomunikasi, sahabat surga akan didapat, insyaallah. 

Jangan sampai pula, mereka yang selama ini dekat denganmu langsung kau klaim sebagai orang yang tak dekat dengan Allah, tak bisa menjaga ibadahnya. Tak baik mudah menilai, temani saja, dekati saja, bisa jadi ia; orang yang kau terka penuh dosa, adalah dia yang menarikmu ke dalam surga. Bisa jadi, kan?

Tak jauh memberi contoh, sebut saja ini tentangku. Yang dulunya benar-benar buta soal agama, menyebut mereka si jilbab besar adalah yang memiliki aliran sesat, pemakai cadar adalah teroris, lelaki berjenggot adalah orang yang kotor, lelaki bergamis kusebut jahula, parahnya, kulihat ada yang membaca alquran di taman, kugaungkan ia adalah orang sok alim. Allah.

Benar saja itu membikinku tak tenang. Kulihat dengan cermat sekali lagi, ternyata mereka terlihat adem, ternyata mereka terlihat tenang, hidupnya damai. Bukan seperti yang kupahami ketika dulu, bahwa Islam hanya sekadar salat, puasa, dan baca quran. Ternyata masih banyak akar-akar yang harus kupelajari.

Kuamati baik-baik mereka. Syukurlah, jedaku bingung melihat mereka tak terlalu lama. Modal seperti biasa, kepo dan selalu bertanya, juga ilmu-ilmu berkomunikasi kupakai. Membuat aku dikenalkan Allah ke manusia-manusia baru, manusia-manusia yang selalu menjaga wudu, membaca quran, dan salat tepat waktu.

Ada yang beda pasti, nyaman, tenang dan damai. Ternyata bukan mereka yang munafik, akulah si munafik itu. Suka sekali memburuk-burukkan orang lain, takku lihat bagaimana aku dan siapa aku. 

Kau yang barangkali menerka ada tip dalam tulisan ini, jawabnya tidak, ya. Ini hanya sekilas mengajak si pembaca untuk menerapkan ilmu berkomunikasinya dalam merangkul teman-teman baru, pastinya yang beriman dan mengenal Allah.

Terima kasih orang-orangku, terima kasih yang sudah selalu menegurku.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Sikap diDepan Kue Raya

Ada istilah, orang zaman dulu dan orang zaman sekarang. Kalau orang zaman dulu tandanya dia sudah tua dizaman sekarang. Dan orang zaman sekarang, dia sudah modern, tidak seperti orang zaman dulu yang dikenal kuno. Dalam tradisi hari raya idul fitri, juga sering terlintas kalimat yang barangkali tak sengaja ditutur " Dari tahun ketahun ini aja kuenya". Tak perlu menggeleng, ini hanya untuk yang sependapat denganku. Hal yang ditunggu bagi orang yang halal-bihalal selain THRnya, ialah melihat kue-kuenya. Yang tersaji diatas meja dengan sajian unik diatas tempat kue. Entah itu tempat kue kaca, ataupun plastik. Kalau kalian semodel atau sesikap denganku, apa yang pertama kalian lakukam ketika sampai ketempat saudara atau tetangga? Aku menjawab, aku akan membuka semua tutup tempat kue yang ada didepanku. Itu sudah ku anggap tradisi setiap datang kerumah-rumah. Sejak kecil, kebiasaan itu terus terjadi sampai aku dewasa seperti ini. Bukan perihal aku doyan dan aku memakan semuany...

Bukan Sekadar Maaf

Lebaran, merupakan klimaks nya umat muslim disaat bulan ramadan. Banyak hal yang sudah dilewati setiap muslim selama berpuasa. Dan perihal ibadah selama dibulan ramadan, mari kembalikan kepada Allah. Jika membahas soal lebaran, apa yang tersirat selain baju baru, thr, dan mudik? Benar, itulah tradisi bermaaf-maafan. Aku pernah bertanya kepada seorang temanku, kenapa dia kemaren meminta maaf atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadapku, namun setelahnya ia kembali lagi membuat kesalahan yang itu bukan tanpa disengaja. Kenapa? Dan dengan singkat dia menjawab,  "Kan kemarin lebarannya". Aku terdiam,  dan hanyut pada kebingungan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi menanyakan hal demikian kepada temanku yang lainnya. Malah yang ada, aku takut mendapat kalimat demikian lagi. Kalau soal lebaran, dalam islam juga dikatakan bahwa lebaran itu mempertandakan bahwa kita umat islam akan segera kembali ke fitrah. Tanda bahwa kita akan menjadi muslim yang baru. Maka dari itu semua ...

Perempuan, Aku Tau Kita Rumit. Tapi Jangan Menyusahkan.

Benar-benar lelah harus bagaimana merespon perempuan.  Benar-benar kesal bagaimana bertanya tanpa menyinggung perempuan.  Benar-benar heran bagaimana menjawab tanpa menyakiti perempuan.  Dan benar-benar letih, bagaimana sebaiknya bersikap di atas kata Hargai Perempuan. Tapi,  "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13) Bukan hanya perkara berpasangan dengan perempuan, tapi hubungan dengan ibu, teman, saudari, keluarga perempuan, pasti selalu menemukan hal-hal yang bikin, "Segitunya jadi perempuan". Siapapun, kita butuh perempuan. Siapapun kita butuh sosok ibu. Siapapun, kita butuh kita menjadi perempuan yang benar-benar paham akan kodrat, tanggungjawab, dan sebenarnya tak...