Jangan sedih, kalau dibilang banyak kuah, mereka cuma gak tahu, betapa banyaknya teman yang kita miliki hanya karena modal bertanya dan berbagi kisah.
Layaknya mi ayam bakso, yang tentu ada kuahnya. Kalau tak dikonsumsi, kuah akan tetap ada diantara banyaknya bahan lain ; bakso, sayur, ayam, dan lainnya.
Belakangan disebut-sebut kalau orang yang banyak cakap merupakan orang yang banyak kuah. Ya tak bisa dipungkiri, orang yang banyak kuah memang sangat mengganggu keberadaannya diantara mereka-mereka yang sedikit bicara dan sedikit mendengar. Tampak monoton, kaku, dan memberi penglihatan tajam ke manusia si banyak kuah.
Sedangkan mereka, manusia kuah malah menyimpan tatapan sinisnya, dan diganti dengan melempar kuah-kuah yang lebih banyak dari biasanya. Paham?
Percaya atau tidak, manusia kuah sangat erat kaitannya dengan sebutan manusia yang selalu bertingkah gila, tak mementingkan image yang harus dijaga, dan tak suka dengan hal serius. Positif saja, mereka akan lebih banyak mendapatkan seorang teman.
Ilmu ini bisa disebut dengan ilmu berkomunikasi dengan manusia lain. Mereka, tak percaya dengan kata introvert, ekstrovert, atau apalah. Yang membuatnya harus memecah sebagian kelompok dengan nama dan label baru.
Baginya semua manusia sama, hanya sedikit perbedaan, ia akan lebih nyaman berteman dengan orang-orang yang menerima dia apa adanya.
Di bawah, aku pun sedikit ingin berbagi, alasan kenapa ada manusia suka sekali berbicara, sampai disebut banyak kuah, yang padahal ia sendiri tak suka disebut dengan banyak kuah atau banyak cakap. Tetap saja, mereka harus bisa menyesuaikan sesuai tempat.
Ekspresi Diri
Bisa jadi dia tak bisa menulis, tak bisa lancar berbahasa inggris, tak ada bakat yang dimilikinya, ia hanya punya satu yang sedikit orang bisa memiliki dan kuasai, yaitu menjadi tempat curhat manusia lain. Baginya, itu prestasi. Karena dari situ, ia dapat leluasa mengekspresikan diri lewat mendengar, dan berbicara merespon si lawan bicaranya.
Tak sia-sia baginya menjadi si manusia banyak kuah. Asik-asik berbicara dan sapa sana-sini. Ah, sialnya, mereka disebut-sebut lebih beruntung.
Kata seorang teman yang sedikit bahkan sulit berbicara dan berbaur dengan manusia lain, ia (manusia kuah) lebih hebat dan lebih banyak orang yang mengenalnya, daripada dirinya yang padahal orang pemegang jabatan di lingkungan universitas. Aseloleee.
Jujur
Tak jauh dengan mengekspresikan diri, mereka biasanya suka jujur. Apa itu jaga image? Apa itu jaga sikap? Apa itu menyembunyikan? Berpura-pura? Ah, menjauhlah.
Manusia kuah tak suka hal itu. Ia lebih suka kejujuran. Bagaimana ia di depan teman gilanya, begitulah ia di depan orang yang disukainya. Fenomenal bahwa orang akan lebih kalem jika berhadapan dengan orang yang disukainya tak akan digunakan baginya. Tak lah mempan. Apa itu semua.
Jujur, suka tetap gila, aneh, dan dicari-cari saat yang lain tak melihatnya, karena ia tipikal orang yang selalu membikin guyon. Hebat, kan.
Banyak Teman
Siapa sangka mereka lebih banyak teman? Semua juga menyangka hal itu. Seorang ibu sedang duduk di depannya di dalam angkutan umum, ia menyapa dan sedikit mendengar keluh kesah ibu tersebut.
Ketika hendak turun, sang ibu berkata ingin berjumpa dengan dia lagi. Ada kebanggaan sendiri, ia mampu menarik ibu tersebut nyaman jika berbicara dengannya.
Ilmu menarik dan membikin orang lain untuk dekat dengan kita sebenarnya mudah, modal mendengar dan berbicara, sudah membuat yang lain suka dengan kita. Tapi tetap, lihat kondisi. Ikuti suasana hatinya, jika seorang teman berkata serius, respon ia dengan serius.
Jangan jadi si manusia kuah tapi benar-benar tak berfaedah. Sedikitnya, bermanfaatlah apa yang terucap.




Gayanya tolong di kondisikan :)
BalasHapusTiap mangkok bakso ada kalanya berkuah dan ada kalanya kering, mungkin karena mangkuknya bocor.
BalasHapusTiap orang dianugerahkan kelebihan yang tidak dimiliki orang lain, sama seperti kuah bakso tadi ya kan.
Kalo pun bekuah, kasih kecap, saos, jadi enak dan sruput lama lama kering