Bagian kali ini, aku tetap membahas komunikasi. Tapi komunikasi yang dilukiskan dan dilontarkan lewat tulisan. Ya kalau ada yang menyebut ini bagian dari promosi, itu benar, ya.
Baiklah, aku akan mulai. ini bisa jadi membikin kalian terharu. Karena cara berkomunikasiku dengan manusia lain terbilang menyentuh, sampai ke ubun-ubun. uhuuuu.
Biasanya, aku menulis hanya untuk sekadar berbagi apa yang kurasakan dan apa yang ingin aku sebarkan. Tapi keinginanku untuk lebih dari itu mulai tumbuh saat kelas 2 SMA. Aku menulis novel yang berjudul The End Flower. Pastinya bergenre romance.
Saat itu aku belum sibuk, masih tetap sekolah, menjadi siswa yang ala kadarnya, kalau tak cari masalah, pasti dapat masalah. Itu tulisan pertama yang aku selesaikan dengan jumlah 98 halaman. Naasnya, laptopku rusak. Eh maaf, laptop mamaku, aku hanya simiskin yang selalu memakai fasilitas orang tua.
Alhasil, aku gagal menerbitkannya menjadi buku, padahal itu sudah kuanggap sebagai keberhasilan. Ah sayang sekali. Niatku untuk memiliki buku pun pudar. Sampai akhir kelas 3 SMA, aku memulai niatku lagi untuk membuat buku. Sederhana saja memulainya, tak perlu banyak ide tulisan, aku menulis real story temanku yang kugarap dalam sebuah kumpulan cerpen.
Ini berkaitan dengan komunikasi, seperti kemarin, tulisan sebelumnya aku merangkum apa saja yang harus dilakukan untuk berkomunikasi, dan inilah yang kulakukan mengapa aku bisa menulis buku.
Mendengar dan memberi solusi
Aku suka mendengar cerita orang. Siapapun dia, saking sukanya, kau percaya? Aku tanpa sadar mendengarkan cerita dan berkenalan dengan orang berotak miring, sewaktu SMA dulu. Satu persatu temanku datang untuk curhat, berlagak paham dan semua masalah mereka dapatku bantu selesaikan, maka dari itu aku suka tertarik untuk kuliah di psikolog. Tapi tak mendapat restu.
Setelah mendengar, haruslah memberi solusi. Aku selalu menulis hal ini ditulisanku sebelumnya, untuk tetap member solusi, jangan malah jadi sidungu yang hanya mengangguk untuk merespon curhatan orang lain.
Apresiasi
Di akhir cerita mereka, aku bertanya, Aku izin tulis ceritamu boleh? Faktanya, mereka sangat senang dan menyetujui, maka aku menyebut ini sebagai apresiasi untuk dapat dikenang oleh mereka.
Tak heran, jika buku soloku yang pertama berjudul Because Of Love adalah buku yang isinya real tentang dunia percintaan. Oh ya, itu isinya adalah tentang teman-temanku yang kesulitan akan mencintai seseorang, dan bahkan aku ingat dengan jelas, bahwa ada kisahku di dalamnya. Penting? Tidak penting lagi di masa sekarang.
Akhir 2017 aku melanjutkan untuk membuat buku lagi, terselesaikanlah buku DileMahasiswa, dan mulai nekat mengirimnya ke penerbit Indee saat 2019 sekarang. kau tahu aku menyelesaikan buku berapa lama? Sekitar 2 bulan. Dan menambahkan kisah-kisah baru di 2019, dan setiap semester perkuliahan. Intinya, semua kudapat dari hasilku mendengar dan melihat sekelilingku.
Intinya, yang bilang buat buku itu mudah, memang benar, ya. Mudah sekali. Tapi mudahnya itu kalau kita mulai menulis. Mudah untuk berandai memiliki buku, mudah untuk memiliki niat, mudah untuk mencari relasi penerbit, mudah sekali bukan? Tinggal mewujudkannya saja.
Yang kesulitan berkomunikasi dan sedikit kata ke setiap manusia lain, pelan-pelan untuk rajin berkomunikasi, ya. Lewat tulisan bisa saja.
NB:
Tujuanku sebenarnya promosi hehe.
Buku solo kedua ini berjudul DileMahasiswa, buku yang isinya tentang mahasiswa dilema karena masalah-masalah baru di perkuliahan, bisa karena salah jurusan, salah univeristas, tidak pandai mencari teman, sibuk berorganisasi, dan bahkan bingung akan kemana ia setelah tamat menjadi anak kuliahan. Selamat membaca:”




Komentar
Posting Komentar